Headline

Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.

Cemburu pada Johor Bahru

Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group
29/6/2024 05:00
Cemburu pada Johor Bahru
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group(Ebet)

SAAT dunia tidak sedang baik-baik saja, banyak negara berlomba mempersolek diri untuk merayu investor. Kemudahan perizinan dan insentif menjadi jurus utama menggaet investasi. Umumnya berhasil, asal konsisten.

Malaysia, misalnya, jadi magnet baru di Asia Tenggara karena sukses mematut diri. 'Negeri Jiran' itu ramai-ramai dilirik raksasa teknologi dunia sebagai tempat untuk membangun fasilitas data center (pusat data) di kawasan Asia Tenggara yang bernilai miliaran dolar Amerika Serikat. 

Padahal, Indonesia memiliki potensi pasar yang sangat tinggi dengan populasi terbesar di regional. Namun, nyatanya, perusahaan-perusahaan seperti Google, Microsoft, hingga ByteDance lebih memilih negara tetangga ketimbang Indonesia. Di mata investor, Malaysia lebih ciamik ketimbang negara lain di Asia Tenggara. 

Sejumlah media internasional pun mengupas fenomena Malaysia sebagai hub pusat data itu. Wilayah Johor Bahru jadi lokus yang disorot. Kota kecil yang berbatasan dengan Singapura itu bahkan diprediksi bakal menggeser Singapura sebagai pasar terbesar di Asia Tenggara. Padahal, dua tahun lalu, Johor Bahru belum dilirik sama sekali. 

Kini, sebagaimana dikemukakan perusahaan data center intelligence terkemuka, DC Byte, Johor Bahru merupakan kota dengan pertumbuhan pasar terbesar di Asia Tenggara. Johor Bahru memiliki kapasitas suplai sebesar 1,6 gigawatt untuk pusat data yang sedang dibangun. Kapasitas pusat data biasanya diukur dari konsumsi listriknya. 

Ke depan, Malaysia digadang-gadang akan mengalahkan kapasitas pusat data di negara-negara lebih besar seperti Jepang dan India. Hingga kini Jepang dan Singapura masih menjadi penyedia kapasitas pusat data terbesar yang sudah daring. 

Jepang, Singapura, dan Hong Kong memang menjadi negara-negara yang memiliki infrastruktur pusat data paling mumpuni saat ini. Kendati demikian, pandemi global yang meningkatkan kebutuhan akan cloud membuat banyak permintaan melirik ke pasar-pasar yang tengah bertumbuh seperti Malaysia dan India. 

Permintaan itu umumnya dibutuhkan untuk streaming video, penyimpanan data, dan berbagai kegiatan di internet lainnya. Itu berarti akan lebih banyak kebutuhan untuk pusat data. Terlebih lagi layanan AI (kecerdasan buatan) yang tengah booming membutuhkan syarat dan ketentuan pusat data yang lebih spesifik dan mampu melayani pengolahan data lebih besar. Johor Bahru terus menata diri memenuhi kebutuhan dan menyambut permintaan pasar itu. 

Negara-negara dengan pasar yang sedang berkembang seperti Malaysia (termasuk sebenarnya Indonesia) menjadi menarik bagi investasi pusat data dengan karakteristik khusus. Data center AI membutuhkan ruang lebih besar, begitu juga energi yang digunakan dan volume air sebagai sistem pendingin. Untuk itu, negara berkembang seperti Malaysia yang memiliki kekayaan energi dan lahan akan menjadi tujuan para investor dunia. 

Namun, itu saja tidak cukup. Kemudahan iklim investasi bagi pusat data menjadi kuncinya. Itulah yang berlaku di Malaysia. Ikhtiar serius menciptakan iklim investasi yang mudah, murah, dan ramah menjadi alasan mengapa Malaysia ramai dilirik. 

Malaysia memberikan banyak insentif untuk pelaku pusat data. Bahkan, untuk perusahaan yang menggunakan teknologi hijau (ramah lingkungan), insentif yang diberikan lebih banyak. Semua upaya itu dikerjakan sungguh-sungguh, terus-menerus, di semua tingkatan, dan ajek. 

Malaysia juga melakukan pemangkasan birokrasi yang memudahkan investasi bisnis saat masuk ke negaranya. Di Malaysia, perusahaan asing bisa hanya menggunakan high level design untuk mendapatkan izin membangun. Sementara itu, di Indonesia, harus sampai ke detail engineering design, yang artinya memakan waktu dan biaya yang tidak murah. 

Rupa-rupa kemudahan itu terbukti ampuh membuat ByteDance, perusahaan induk dari aplikasi media sosial Tiktok, berencana menginvestaskan sekitar 10 miliar ringgit (sekitar Rp34,68 triliun) di Malaysia untuk mendirikan pusat kecerdasan buatan (AI). ByteDance akan memperluas pusat datanya saat ini di negara bagian Johor Bahru dengan suntikan tambaha sebesar 1,5 miliar ringgit Malaysia. 

Sebelumnya, raksasa digital, Google, juga mengungkapkan rencananya untuk mengembangkan pusat data utama dan wilayah cloud di Malaysia dengan investasi sebesar US$2 miliar. 

Saat Malaysia digandrungi raksasa global, Indonesia masih disibukkan dengan keluhan rumitnya proses perizinan. Pekan lalu, untuk kesekian kalinya Presiden Jokowi berpidato menceritakan dirinya masih banyak menerima keluhan lamban dan rumitnya izin investasi. Sepertinya, kredo 'kalau bisa dipersulit, kenapa harus dipermudah?' sudah kadung berurat-berakar di negeri ini. Jadi, sampai kapan terus begini?



Berita Lainnya
  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

Opini
Kolom Pakar
BenihBaik