Headline

Penghapusan tunggakan iuran perlu direalisasikan lebih dahulu sambil menimbang kondisi ekonomi.

Warisan Pak Lurah

Ade Alawi Dewan Redaksi Media Group
25/6/2024 05:00
Warisan Pak Lurah
Ade Alawi Dewan Redaksi Media Group(Ebet)

SEJARAH mengukir dengan tinta emas bahwa nenek moyang bangsa Indonesia ialah bangsa petarung, mampu menembus badai dan menaklukkan gelombang samudra, berdagang hingga ke berbagai belahan dunia.

Mereka berlayar membawa rempah-rempah (cengkih, pala, cendana, kayu manis, dan lada) dengan kapal-kapal tradisional dari pulau-pulau di Nusantara ke Tiongkok, Asia Selatan, hingga Afrika Timur pada 4.500 tahun yang lalu.

Nenek moyang pelaut nan pemberani tidak sekadar menjual hasil bumi yang berupa rempah-rempah, mereka juga mengenalkan budaya dan etos kehidupan yang patut dibanggakan. Berkat rempah, Nusantara dikenal ke seantero jagat. Kedigdayaan nenek moyang Nusantara dibuktikan juga dengan membuat karya seni rupa adiluhung, seperti Candi Borobudur.

Kisah-kisah kepahlawan nan heroik dalam melawan penjajahan Belanda, termasuk kaum pemuda dan pelajar dalam mempercepat kemerdekaan Indonesia tidak kalah menakjubkan, seperti Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928. Angkatan muda pada 1945 juga berinisiatif menculik Sukarno untuk segera memproklamasikan kemerdekaan.

Tak mengherankan jika Ben Anderson dalam Java in A Time of Revolution, Occupation and Resistance (1944-1946) menyebutkan sejarah Indonesia ialah sejarah pergerakan kaum muda. Mereka memiliki kesadaran berada di garis depan untuk menjadi penggerak revolusi kemerdekaan Indonesia.

Sejarah berulang, kaum muda yang dimotori mahasiswa turun ke jalan menumbangkan rezim Orde Baru pada 1998. Mereka mengusung gerakan reformasi, di antaranya menolak korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN).

Dari kisah di atas bisa ditarik benang merah bahwa bangsa ini ialah bangsa petarung, pejuang, bukan pengemis, apalagi menghalalkan segala cara.

Pertanyaan dalam setiap babakan sejarah ialah apa yang diwariskan aktor sejarah untuk generasi mendatang. Dua periode pemerintahan Joko Widodo yang pada Oktober mendatang akan berakhir memunculkan pertanyaan senada. Apalagi pemerintahan Jokowi sudah mencanangkan Indonesia emas 2045 dengan visi Negara Nusantara berdaulat, maju, dan berkelanjutan.

Pembangunan infrastruktur yang masif telah menenggelamkan pembangunan sumber daya manusia yang dilandasi revolusi mental. Berdasarkan Instruksi Presiden Nomor 12 Tahun 2016 tentang Gerakan Nasional Revolusi Mental, gerakan itu mengamanahkan perbaikan dan pembangunan karakter bangsa yang mengacu kepada nilai-nilai dasar, yaitu integritas, etos kerja, dan gotong royong.

Namun, revolusi mental hanya jargon. Masih jauh panggang dari api. Nilai-nilai integritas babak belur dalam tata kelola pemerintahan yang baik (good governance). Indeks persepsi korupsi (IPK) Indonesia yang diluncurkan Transperancy International (TI).

Pada 2023 skor IPK Indonesia 34, sama seperti tahun lalu. Peringkatnya melorot dari ke-110 tahun lalu menjadi ke-115 pada 2023. Pemberantasan korupsi di Tanah Air semakin suram setelah pada periode kedua pemerintahan Jokowi (2019-2024) memukul mundur pemberantasan korupsi dengan merevisi UU Pemberantasan Korupsi.

Demikian pula kualitas demokrasi Indonesia semakin memburuk. Ekonom senior Faisal Basri mengutip V-Dem Democracy Index 2024 bahwa indeks demokrasi Indonesia terjun bebas dari 79 ke 87.

Di penghujung kekuasaan Jokowi isu politik dinasti semakin menguat setelah putra sulungnya, Gibran Rakabuming Raka, menjadi cawapres terpilih. Tak ketinggalan, putra bungsunya, Kaesang Pangarep, digadang-gadang menjadi calon Wakil Gubernur DKI. Narasi saatnya kaum muda naik panggung digaungkan.

Dua mahkamah di negeri ini membuat sejarah yang hampir sama. Mahkamah Konstitusi memberikan karpet merah untuk putra sulung Jokowi, Gibran Rakabuming Raka, sebagai cawapres pada pilpres, sementara Mahkamah Agung juga memberikan 'jalan' kepada putra bungsu Jokowi, Kaesang Pangarep, untuk menjadi DKI-2. Tak hanya itu, mantu Jokowi, Bobby Nasution, Wali Kota Medan, yang akan berkompetisi pada Pilgub Sumut juga mendapatkan sejumlah privilese.

Presiden Jokowi juga memberikan warisan 'panas' untuk presiden terpilih Prabowo Subianto. Posisi utang pemerintah Indonesia mencapai Rp8.338,43 triliun pada 30 April 2024. Era Prabowo Subianto sebagai presiden pada 2025 akan 'dihadiahi' jatuh tempo utang sekitar Rp800 triliun.

Belum lagi proyek mercusuar peninggalan Jokowi, Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara yang akan menyedot anggaran Rp500 triliun. Prabowo bakal pusing tujuh keliling mengeksekusi janji kampanyenya, seperti makan siang gratis. Di sisi lain, pemerintahan Prabowo juga dinarasikan sebagai keberlanjutan dari Jokowi yang menyokongnya dalam pilpres.

Mantan Wali Kota Surakarta yang sering disebut 'Pak Lurah' dalam kode politik sedang menuliskan sejarahnya. Termasuk di dalamnya sejumlah legasinya yang mungkin generasi mendatang terheran-heran kenapa bisa terjadi hal-hal yang di luar 'nurul' selama kepemimpinannya. Tabik!



Berita Lainnya
  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.

  • Melindungi Konsumen

    06/2/2026 05:00

    LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.

  • Duka Ngada Aib Negara

    05/2/2026 05:00

    'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)

  • Tipu Daya Judol

    04/2/2026 05:00

    JUDI online (judol) sejatinya bukanlah sebuah permainan keberuntungan. Ia barangkali salah satu mesin penipu paling canggih yang pernah diciptakan.

  • Tuas Rem Trump-Khamenei

    03/2/2026 05:00

    DUNIA kembali berdiri di bibir jurang.