Headline

Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.

All Eyes on Rafah

Ahmad Punto Dewan Redaksi Media Group
30/5/2024 05:00
All Eyes on Rafah
Ahmad Punto Dewan Redaksi Media Group(Ebet)

AMERIKA Serikat (AS) boleh saja bangga menjadi negara adidaya atau adikuasa. Julukan atau status itu didapatkan karena begitu dominannya pengaruh AS, baik dalam politik, militer, ekonomi, maupun teknologi, di kancah global. Hampir semua negara saat ini punya ketergantungan terhadap AS, entah di sektor ekonomi, politik, atau mana pun. 

Namun, kredo 'di atas langit ada langit' rupanya berlaku di sini. Di atas negara adidaya, ada negara yang lebih digdaya. Negara itu bukan Tiongkok, bukan pula Rusia, melainkan Israel, sekutu kesayangan negeri yang dijuluki 'Paman Sam'. Israel yang dari segi mana pun kekuatannya tak seberapa ketimbang AS selalu bisa membuat negara adikuasa itu tertunduk takluk. 

AS yang sekuasa itu di percaturan dunia, konon seperti singa yang menguasai rimba raya, seketika bisa menjadi kucing di hadapan Israel. Sang raja yang galak dan arogan terhadap kekuatan lain yang berpotensi menyaingi kuasa mereka tiba-tiba menjadi penurut jika negara Zionis itu sudah merajuk.

Dalam isu atau peristiwa apa pun, AS selalu tampil paling depan sebagai pembela Israel. Bahkan, ketika yang ditunjukkan Israel ialah kebiadaban dan kejahatan kemanusiaan, mereka selalu punya dalih untuk membela, bahkan memberi dukungan. Apa yang mereka tunjukkan selama tujuh bulan lebih membela kebrutalan tentara Zionis di Gaza, Palestina, ialah contoh betapa menurutnya AS kepada kehendak Israel.

Sejak mula serbuan Israel ke Gaza, Oktober 2023, tak sekalipun AS berpaling dari sikap mereka mendukung Israel. Berkali-kali mereka memamerkan dukungan itu secara vulgar.Dii awal-awal konflik, AS melalui Menteri Luar Negeri Antony Blinken bahkan tak ragu membela tindakan militer Israel di Gaza. Blink mengatakan serangan Israel tersebut bukan pembalasan, melainkan langkah defensif.

Ketika Israel kian brutal, AS bergeming. Yang dibela makin biadab, yang membela bebal. Klop sudah. Pada Desember 2023, AS kembali berulah dengan malah memveto resolusi Dewan Keamanan PBB. Padahal resolusi itu meminta penerapan gencatan senjata untuk menyelesaikan konflik antara Israel dan kelompok militan Hamas. 

Anehnya, semakin ke sini, semakin menurut pula AS kepada Israel. Pada April lalu, gelombang protes mahasiswa dari kampus-kampus terkenal di AS yang mengecam genosida Israel di Gaza kian membesar. Maraknya aksi itu membuat Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu murka sembari menuduh massa anti-semit telah mengambil alih kampus-kampus terkemuka tersebut. 

Lalu, apa yang dilakukan pemerintah Joe Biden? Mereka langsung bertindak keras. Polisi kemudian menangkap lebih dari 2.000 mahasiswa dengan alasan mereka telah melakukan aksi protes dengan kekerasan. AS yang dikenal sebagai benchmark negara penganut demokrasi, demi urusan Israel, rupanya bisa pula bertindak layaknya negara otoriter. 

Respons keras AS demi membela sekutu utamanya itu juga terlihat saat jaksa Mahkamah Pidana Internasional atau International Criminal Court (ICC) mengajukan surat perintah penangkapan PM Netanyahu dan pemimpin Hamas di Gaza, Yahya Sinwar. Keduanya dinilai ICC bertanggung jawab atas kejahatan perang dan kemanusiaan yang dilakukan sejak Oktober 2023.

Alih-alih menghormati lembaga itu, Ketua DPR AS Mike Johnson malah menyebut anggota parlemen sedang menjajaki sejumlah opsi sanksi untuk menghukum ICC jika mereka mengeluarkan surat perintah penangkapan bagi para pejabat Israel. Entahlah, ungkapan apa lagi yang pas kita berikan kepada para pejabat AS dengan perilaku mereka yang sungguh ajaib itu.

Namun, semua itu belum seberapa jika dibandingkan dengan pembelaan yang dilontarkan AS menanggapi serangan mematikan Israel ke Rafah, Minggu (26/5). Serangan itu menewaskan 45 warga Palestina yang ada di kamp tenda pengungsi, sebagian besar ialah anak-anak dan perempuan. Dua hari setelahnya, Selasa (28/5), Israel kembali menyerang kamp tenda di daerah sebelah barat Rafah yang menewaskan sedikitnya 21 orang.

Gedung Putih memang menyebut tengah memantau penyelidikan atas serangan udara itu. Namun, anehnya juru bicara Dewan Keamanan Nasional AS John Kirby masih bisa mengatakan operasi militer Israel di Rafah belum melewati batas. Sebegitu cintanya pemerintah AS kepada Israel, kebiadaban yang melampaui nalar pun tetap mereka bela.

Akan tetapi, dunia tak cuma milik AS dan Israel. Boleh saja mereka menyangkal dan membela diri, tapi kecaman dan solidaritas masyarakat dunia yang mengutuk serangan brutal nan biadab kepada warga sipil Rafah itu kini tak lagi bisa dibendung. 

Jutaan orang menggaungkan ungkapan 'All eyes on Rafah' di media sosial sebagai ekspresi dan bentuk seruan untuk warga dunia agar memusatkan perhatian mereka terhadap apa yang terjadi di Rafah. Kini, semua mata tertuju ke Rafah. Tak hanya bola mata, tapi juga mata hati.

Semua yang menghargai kemanusiaan pasti akan mengutuk kebiadaban invasi Israel di Rafah. Sebaliknya, yang menyangkal dan malah membenarkan serangan itu, barangkali memang sudah tak punya lagi rasa kemanusiaan di hati mereka.



Berita Lainnya
  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.

  • Melindungi Konsumen

    06/2/2026 05:00

    LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.

  • Duka Ngada Aib Negara

    05/2/2026 05:00

    'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)

  • Tipu Daya Judol

    04/2/2026 05:00

    JUDI online (judol) sejatinya bukanlah sebuah permainan keberuntungan. Ia barangkali salah satu mesin penipu paling canggih yang pernah diciptakan.

  • Tuas Rem Trump-Khamenei

    03/2/2026 05:00

    DUNIA kembali berdiri di bibir jurang.

  • Etika Mundur di Pasar Modal

    02/2/2026 05:00

    PATUT dicatat sebagai rekor nasional. Bila perlu dengan tinta tebal. Hanya dalam satu hari, lima pejabat otoritas keuangan mengundurkan diri.

  • Keadilan dalam Sepotong Es Gabus

    30/1/2026 05:00

    HUKUM dan keadilan mestinya berada dalam satu tarikan napas. Hukum dibuat untuk mewujudkan keadilan.

  • Kejar Jambret Dikejar Pasal

    29/1/2026 05:00

    DI negeri ini, keadilan tak jarang tersesat di tikungan logika dan persimpangan nalar.

  • Noel agak Laen

    28/1/2026 05:00

    IMANUEL 'Noel' Ebenezer memang bukan sembarang terdakwa korupsi.

  • Mudarat Paling Kecil

    27/1/2026 05:00

    RENCANA bergabungnya Indonesia dalam Board of Peace yang digagas oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk 'pembangunan kembali Gaza' segera memantik pro dan kontra.

  • Pengawas Mati, Korupsi Tumbuh

    26/1/2026 05:00

    KEGAGALAN aparat pengawasan intern pemerintah (APIP) ialah fakta berulang, bukan lagi dugaan.

  • Rupiah Vs IHSG

    23/1/2026 05:00

    ADA yang ganjil di pasar keuangan kita. Rupiah terkapar, bahkan menyentuh di kisaran 17 ribu per US$, level terendah sepanjang sejarah.

  • OTT Tepat Waktu

    22/1/2026 05:00

    BUPATI Pati, Jawa Tengah, Sudewo kembali menjadi atensi. Dia ditangkap tangkap oleh KPK karena diduga jual beli jabatan. OTT itu terjadi pada waktu yang tepat, sangat tepat.

  • Pesta Elite, Nestapa Rakyat

    21/1/2026 05:00

    REPUBLIK ini kiranya sedang berada dalam situasi kontradiksi yang meresahkan. Kontradiksi itu tersaji secara gamblang di lapisan-lapisan piramida sosial penduduk. 

  • Vietnam Melaju Kencang

    20/1/2026 05:00

    KITA tidak harus paling benar, yang penting paling berhasil. Itulah filosofi Vietnam.