Headline
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Kumpulan Berita DPR RI
SEMUA yang hadir di Jakarta International Stadium (JIS) dan semua yang menyaksikan lewat layar kaca dan media sosial merinding. Hampir semua mata mereka berkaca-kaca. Mungkin ini peristiwa paling bersejarah dalam hidup mereka. Jutaan orang, yang tadinya antre berjam-jam secara daring, tidak bisa menahan keinginan untuk tetap datang secara luring.
Berjam-jam mereka menjemput harapan. Berjam-jam mereka menempuh perjalanan untuk membuktikan bahwa hadangan, ancaman, dan sabotase hanyalah tantangan kecil. Mereka yakin bahwa harapan akan perubahan mesti diikhtiarkan sekuat daya karena tantangan besar justru ada di depan mata.
Karena itu, jutaan manusia tidak menyerah. Kaki mereka terus melangkah. Keyakinan mereka tetap membuncah. Mereka tidak sendiri. Mereka bersama-sama. Tangan mereka berdampingan. Mereka saling menggamit, saling menopang.
Karena itu, kita saksikan Stasiun Ancol tumpah ruah. Stasiun Sunter yang berjarak sekitar 5 km dari JIS juga dipenuhi lautan manusia. Ada 9 ton salak dari Haji Dirun, Banjarnegara, dan kawan-kawan kelompok tani salak Banjarnegara dibagikan gratis di area JIS.
Ada 10 ton telur asin dari Brebes yang juga jadi oleh-oleh gratis. Ada yang mengayuh sepeda dari Yogyakarta ke JIS. Ada konvoi sepeda motor dari Karawang. Ada long march jalan kaki puluhan kilometer dari Bekasi ke JIS.
Pembatalan bus di saat-saat akhir ternyata tidak menghalangi mereka untuk 'melawan' dengan membuktikan hadir di dalam JIS, di luar stadion, di jalan raya sekitar stadion, hingga yang tetap terjebak di Stasiun Ancol dan Stasiun Sunter.
Sungguh, seruan perubahan sudah jadi mantra ajaib melawan mereka yang mengangkangi akal sehat. Ikhtiar sudah diwujudkan. Doa sudah dipanjatkan. Kerja sudah ditunaikan. Pilihan segera dijatuhkan. Pengawalan dan pengawasan akan terus dilakukan. "Insya Allah ini akan jadi kemenangan sejati," seru sang teman.
Saya bergetar menyaksikan gerakan kesukarelaan ini. Saya berkaca-kaca atas rupa-rupa ketulusan, keikhlasan, dan pengorbanan ini. Kepada sang teman saya katakan, "Akal sehat akan menang. Kewarasan akan terus diperjuangkan."
Seperti kata Ignazio Silone, peraih Hadiah Nobel Sastra asal Italia, bahwa penguasa yang cenderung otoriter biasanya berangkat dari rasa cemas terus-menerus. Karena itu, suara yang berbeda, tindakan yang berbeda, akan selalu tidak menyenangkan baginya.
Saat tidak senang, saat cemas, penguasa otoriter pun akan mengembangbiakkan ketakutan. Namun, sepanjang sejarah bangsa-bangsa, perlawanan akan selalu lahir dan sebaik-baik perlawanan ialah kesukarelaan.
Inilah politik kesukarelaan yang melawan teror dan intimidasi. Inilah kemenangan akal sehat atas indoktrinasi. Inilah kemenangan partisipasi kontra mobilisasi. Betul kata WS Rendra: 'kesadaran adalah matahari'.
Kesadaran itu mencerahkan seperti sinar terang matahari. Kesadaran itu matahari yang menggerakkan energi. Kesadaran itu panas yang membakar semangat berlipat-lipat tanpa jeri. Kesadaran itu bahan bakar yang terus menggerakkan perubahan, bahkan mengalahkan kekuatan oligarki.
Insya Allah tidak ada perjuangan yang muspra. Insya Allah tidak ada pengorbanan yang sia-sia. Insya Allah tidak ada yang kalah atas pilihan yang dijatuhkan untuk perubahan.
Teman saya lalu lantang berdoa: "Bismillah, ya, Allah, aku pasrahkan kepada-Mu. Berkahilah dan ridhoilah perjuangan dan ikhtiar kami. Amin."
SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan
PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik.
"SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."
SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.
MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.
LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.
ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.
DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.
DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.
SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan
TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.
LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.
'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)
JUDI online (judol) sejatinya bukanlah sebuah permainan keberuntungan. Ia barangkali salah satu mesin penipu paling canggih yang pernah diciptakan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved