Headline
Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.
Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.
Kumpulan Berita DPR RI
DI tangan rezim despotik, kekuasaan itu segala-galanya. Di tubuh orang yang dilanda demam kekuasaan akut, suara kritis itu mencemaskan. Bahkan, saking cemasnya, suara rakyat (voice) akan diberi stempel kebisingan (noise).
Saat para guru besar, para cerdik pandai, penjaga kewarasan meniupkan peluit panjang seruan kembali ke nurani, kembali ke demokrasi, kekuasaan yang menabrak pagar akan bilang itu suara bising. Ketika mereka, kaum cerdik pandai itu, menggaungkan voice, kekuasaan yang tidak dibimbing dengan moral dan etika akan mengecap itu sebagai noise. Ketakutan mengalahkan kewarasan. Kecemasan pun membunuh kepatutan.
Saya kembali teringat kisah sufi masa lampau yang amat masyhur di Timur Tengah. Kisah itu bercerita rasa waswas, rasa cemas, dan rasa takut dari penguasa despotik yang usia kekuasaannya sudah renta, di ujung senja. Di saat itu, sang penguasa tidak saja elergi terhadap seruan moral, tetapi juga menolak sama sekali ajakan kebaikan.
Alkisah, di sebuah negeri, sang penguasa despotik itu menyangka dirinya menggenggam semua kuasa, termasuk kedigdayaan sebagai penyair besar. Ia amat mengagumi syair-syair yang ia tulis dan ia deklamasikan sendiri. Baginya, tulisan dan vokalnya itu sengada lawan, tiada tanding dan tiada banding.
Sang penguasa makin besar kepala karena ia dikelilingi para punggawa istana yang selalu siap menjulurkan lidah demi menjilat kemampuan sang kuasa dalam meramu syair-syair. Para penjilat itu saban hari memuji-muji syair-syair yang dibacakan sang penguasa. Adrenalin penguasa itu membuncah saban pujian dari penjilat itu mengalir deras.
Begitu pula yang terjadi di suatu hari, saat ia mengumpulkan orang-orang demi mendengar syair-syairnya di atas podium yang megah. Dari atas mimbar, sang penguasa mendeklamasikan syair-syair itu. Semua kepala tegak atau ditegak-tegakkan. Semua mata terbelalak atau dibelalak-belalakkan.
Seusai pembacaan syair-syair itu, sang penguasa menyuruh orang-orang yang hadir untuk menilainya. Maka, puja-puji berhamburan. "Sangat indah, Tuanku," seru mereka bak kor terorkestrasi. "Tuan, ini teramat indah. Tidak disangkal, Tuan ialah penyair terbesar di negeri ini," timpal lainnya disertai tempik sorak membahana.
Sang penguasa itu pun semringah. Senyum lebar terpancar dari bibirnya. Ia bersiap membacakan syair-syair selanjutnya hingga tatapan matanya tertumbuk pada seorang tua yang diam membatu. Orang tua itu tidak antusias seperti lainnya. "Hei, kau orang tua, mengapa diam saja? Kau tidak bisa mengagumi syair-syairku?" tanya sang penguasa dengan penuh rasa cemas.
Orang tua itu pun menjawab, "Menurut saya, syair-syair yang Tuan baca tadi buruk. Sangat buruk. Begitu pula suara Tuan saat membacakan syair-syair tadi, sangat buruk. Saya diam karena tidak kunjung bisa menikmati isi syair dan cara Tuan membacakan syair buruk itu."
Di tengah kor 'sangat bagus', ada seorang renta usia berani mengatakan sebaliknya, 'sangat buruk'. Ini masalah serius bagi sang penguasa yang ingin menggenggam segala kuasa atas rakyat. Dalam kisah sufi, orang tua yang berani itu bernama Nasruddin Hoja.
Nasruddin setara Abu Nawas. Lantaran banyak dikisahkan dengan pelbagai cerita dan anekdot tentang kehidupannya, Nasruddin Hoja dikira ialah tokoh fiksi. Padahal, sebenarnya ia sosok nyata, bahkan punya julukan mullah atau tokoh sufi.
Dalam kisah penguasa lalim itu, Nasruddin tampil sebagai sosok antagonis, yang berani jujur mengkritik sang penguasa yang kelewat melenceng. Pasti, sang penguasa marah atas suara berbeda itu. Ia mengusir Nasruddin dan memerintahkan pasukan keamanannya untuk menyeretnya ke kandang kuda. "Kamu harus mendekam di kandang kuda untuk tiga hari sebagai hukuman atas kekurangajaranmu," tandas sang penguasa.
Sejak saat itu, Nasruddin sadar diri. Ia akan lari ke kandang kuda saban mendengar sang penguasa membacakan syair-syair yang buruk nan sumbang itu. Ia terlihat konyol, tetapi genius dan teguh pendirian. Ia memilih berada di kandang kuda daripada mengubah suara yang bertentangan dengan nuraninya.
Nasruddin mewakili perlawanan rakyat yang tertindas. Ia suara pengingat bagi penguasa yang mulai bernafsu memiliki semuanya sembari cemas kekuasaannya tergerus dan dicampakkan alias tidak dilanjutkan. Penguasa despotik yang cemas akan menggunakan rasa takut untuk menjaga kekuasaannya.
Seperti kata Ignazio Silone, peraih Nobel sastra asal Italia: penguasa yang cenderung otoriter biasanya berangkat dari rasa cemas terus-menerus. Maka, suara yang berbeda, tindakan yang berbeda, akan selalu tidak menyenangkan baginya. Saat tidak senang, saat cemas, penguasa otoriter pun akan mengembangbiakkan ketakutan.
Di negeri Nasruddin, rasa cemas sang penguasa itu kian hari makin menggulung. Itu karena tembok-tembok dan pagar-pagar tebal kekuasaan yang ia bangun mulai rontok. Sejak Nasruddin yang diidentifikasi sebagai orang tua yang lemah bersuara berbeda, banyak orang makin percaya bahwa Nasruddin benar adanya. Kepercayaan itu meletupkan keberanian yang juga kian menggunung.
Suara yang tadinya sayup-sayup dan senyap mulai berubah menjadi pekikan yang makin membuat sang penguasa tambah cemas. Bahkan, muncul Nasruddin-Nasruddin baru dari kampus-kampus elite di negeri itu yang menyeru kepada sang penguasa agar siuman dari mabuk kekuasaannya.
Di sisi lain, pujian demi pujian, jilatan demi jilatan, sudah tidak segegap gempita sebelumnya. Ada yang tetap menghibur sang penguasa dengan menyodorkan data bahwa 80% lebih rakyat puas dengan syair-syair duli tuanku. Namun, bukannya senang, sang penguasa malah bimbang. Ia panik, resah, dan cemas sehingga turun gunung membagi-bagikan sendiri bantuan sembari menyodorkan blangko untuk ditandatangani. Blangko itu isinya: syair sang penguasa tiada bandingannya.
RENCANA bergabungnya Indonesia dalam Board of Peace yang digagas oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk 'pembangunan kembali Gaza' segera memantik pro dan kontra.
KEGAGALAN aparat pengawasan intern pemerintah (APIP) ialah fakta berulang, bukan lagi dugaan.
ADA yang ganjil di pasar keuangan kita. Rupiah terkapar, bahkan menyentuh di kisaran 17 ribu per US$, level terendah sepanjang sejarah.
BUPATI Pati, Jawa Tengah, Sudewo kembali menjadi atensi. Dia ditangkap tangkap oleh KPK karena diduga jual beli jabatan. OTT itu terjadi pada waktu yang tepat, sangat tepat.
REPUBLIK ini kiranya sedang berada dalam situasi kontradiksi yang meresahkan. Kontradiksi itu tersaji secara gamblang di lapisan-lapisan piramida sosial penduduk.
KITA tidak harus paling benar, yang penting paling berhasil. Itulah filosofi Vietnam.
SEJARAH Republik ini mencatat 15 Januari sebagai tanggal yang tidak netral. Pada hari itulah suara mahasiswa pernah mengguncang kekuasaan.
INDONESIA memang negeri yang kaya. Kaya sumber daya alam, kaya budaya, dan kiranya juga kaya kreativitas kejahatannya, termasuk korupsi.
Ya, mereka memang terkenal pada zaman masing-masing. Terkenal karena berkasus rasuah.
PEMERINTAH tampaknya kembali menarik napas lega. Defisit APBN 2025 memang melebar, tetapi masih di bawah ambang sakral 3% dari produk domestik bruto (PDB).
PENGADILAN Negeri Situbondo, Jawa Timur, punya cerita. Penegakan hukum di sana dikenal sangat tajam, terutama kepada mereka yang lemah
VENEZUELA kembali menjadi sorotan dunia. Kali ini bukan semata karena krisis ekonomi yang tak kunjung usai
APA hubungannya Nicolas Maduro dan Silfester Matutina? Tidak ada. Teman bukan, saudara apalagi.
INI cerita tentang Indonesia yang barangkali membahagiakan, tapi juga sekaligus bisa menjadi peringatan.
ANGKA lima seolah 'ditakdirkan' melekat dalam 'tubuh' negeri ini pada satu dekade terakhir.
SEPERTI kue donat yang berlubang di tengah. Begitulah demokrasi negeri ini akan tampak jika pemilihan gubernur, bupati, dan wali kota dikembalikan kepada DPRD.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved