Headline

Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.

Istana Kesepian

Ade Alawi Dewan Redaksi Media Group
06/2/2024 05:00
Istana Kesepian
Ade Alawi Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

HARI pencoblosan Pemilu 2024 sudah di depan mata. Namun, langit cerah menyongsong pemimpin baru Indonesia tak juga tampak, bahkan diselimuti langit mendung yang semakin gelap.

Kondisi berbangsa dan bernegara mengalami titik nadir. Sesama anak bangsa bukannya bersatu menggelar pesta demokrasi yang penuh kegembiraan, melainkan terjadi gelombang protes, penuh kecemasan.

Petisi demi petisi bergulir dari kampus. Terus bergulir seperti bola salju yang dimotori para guru besar. Puluhan kampus, baik negeri maupun swasta, menyelenggarakan mimbar akademik.

Selain guru besar, hadir dosen dan mahasiswa. Mereka memiliki kegelisahan yang sama tentang kondisi teranyar di republik ini yang mengancam kehidupan demokrasi. Sistem kedaulatan rakyat yang direbut dengan susah payah hingga mengorbankan nyawa mahasiswa pada 1998.

Mereka mencemaskan pemilu saat ini seperti mengulang praktik politik Orde Baru yang menggusur etika dan hukum. Salah satunya ialah rekayasa hukum melalui putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang meloloskan putra sulung Presiden Joko Widodo (Jokowi), Gibran Rakabuming Raka, sebagai calon wakil presiden.

Suara lantang dari kampus yang selama ini kerap dituding berada di menara gading juga mengenyam cawe-cawe Presiden Jokowi yang diduga menguntungkan pasangan calon nomor urut 2 Prabowo-Gibran. Belum lagi dugaan keberpihakan aparatur negara dan politisasi bansos yang menguntungkan paslon tersebut.

Genderang perlawanan kampus pertama kali ditabuh Universitas Gadjah Mada (UGM) pada Mimbar Akademik: Menjaga Demokrasi, Rabu (31/1), kampus tempat Presiden Jokowi yang merupakan salah satu alumnusnya.

"Kami menyesalkan tindakan-tindakan menyimpang yang justru terjadi dalam masa pemerintahan Presiden Jokowi yang juga merupakan bagian dari keluarga besar UGM," kata Prof Koentjoro Soeparno, dosen senior di Fakultas Psikologi UGM, saat membacakan Petisi Bulaksumur di Balairung UGM.

Setali tiga uang, sivitas akademika UIN Syarif Hidayatullah Jakarta bersuara nyaring. Setidaknya 18 guru besar turun gunung dalam pernyataan sikap alumnus dan sivitas akademika UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang bertajuk Seruan Ciputat.

Mereka mendesak Presiden Jokowi bersungguh-sungguh mengelola pemerintahan. "Bukan demi kepentingan keluarga atau kelompok," kata Prof Saiful Mujani saat membacakan seruan di Taman Landmark UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ciputat, Tangerang Selatan, Banten, kemarin.

Menurut Saiful, aktivitas Presiden Jokowi akhir-akhir ini terlihat lebih condong mengutamakan kepentingan elektoral salah satu paslon. "Itu bukanlah sikap negarawan," tandasnya.

Namun, gelombang manifesto dari kampus ditanggapi miring oleh pihak istana. Koordinator Staf Khusus Presiden Ari Dwipayana menilai ada upaya orkestrasi narasi politik untuk kepentingan elektoral. Gerakan sivitas akademika, lanjutnya, ialah politik partisan yang ditunggangi kepentingan politik.

Manifesto sivitas akademika patut diapresiasi. Mereka berani ‘pasang badan’ mempertaruhkan status dan jabatan di kampus. Tak sedikit di antara mereka ‘balik kanan’ ketimbang mengkritisi pemerintahan Jokowi.

Aksi sivitas Universitas Sriwijaya (Unsri) yang bertajuk Deklarasi Kebangsaan Forum Dosen Unsri untuk Konstitusi dan Demokrasi Beradab dan Bermartabat yang sedianya dilaksanakan kemarin, mendadak batal, karena tidak mendapat lampu hijau dari Rektorat Kampus Unsri.

Padahal, aksi sivitas akademika senapas dengan Pasal 4 huruf a Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi bahwa pendidikan tinggi berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.

Perlawanan kampus tidak bermaksud melengserkan Presiden Jokowi. Mereka hanya ingin mengingatkan Jokowi agar kembali ke jalan yang benar sesuai dengan konstitusi.

Meluasnya mosi tidak percaya dari kampus, lembaga sipil, dan tokoh-tokoh masyarakat tak bisa dianggap enteng karena akan menggerus legitimasi moral Presiden Jokowi. Apalagi, pelanggaran etika di bawah rezim Jokowi terjadi bertubi-tubi.

Setelah pelanggaran etika di MK, kini Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) memutuskan Ketua KPU Hasyim Asy'ari dan enam anggotanya melanggar kode etik karena menyalahi prosedur dalam membuat aturan penerimaan calon presiden dan wakil presiden terkait dengan pendaftaran paslon nomor urut 2.

Perlawanan kampus ialah gerakan moral. Kedalaman ilmu, ketajaman pikiran, dan keluhuran budi kalangan sivitas akademika, lebih-lebih guru besar, seyogianya mampu membuat Presiden Jokowi kembali ke tujuan bernegara seperti alinea keempat Pembukaan UUD 1945, di antaranya melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia.

Setiap orang, kata Abraham Lincoln, mampu menghadapi kesengsaraan. "Namun, kalau ingin mengujinya, beri dia kekuasaan," kata Presiden ke-16 Amerika Serikat itu. Tabik!



Berita Lainnya
  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

Opini
Kolom Pakar
BenihBaik