Headline

Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.  

Jokowi dan George Washington

Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group
03/2/2024 05:00
Jokowi dan George Washington
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

'POLITIK bisa merusak karakter'. Kalimat yang sangat masyhur itu dinyatakan mantan Kanselir Jerman Otto von Bismarck. Tidak semua setuju dengan kalimat pedas itu. Namun, banyak yang sepakat bahwa politik dengan 'p' kecillah yang memang bisa merusak karakter.

Politik dengan 'p' kecil itulah yang kini dialamatkan kepada Presiden Jokowi. Sebagai kepala negara sekaligus presiden, Jokowi dengan tindak-tanduknya dinilai sudah terseret terlampau jauh dalam kubangan politik dalam tataran 'p' kecil. Jokowi dinilai meninggalkan dan menanggalkan politik adiluhung, politik dengan 'P' besar yang semestinya melekat pada posisinya.

Wajar kiranya bila seruan moral agar Jokowi menyetop aksi politik dengan 'p' kecil dan kembali ke politik dengan 'P' besar bergaung di mana-mana. Terutama dari kampus.

Pekan ini bisa dibilang sebagai 'pekan seruan moral dan peringatan keras' kepada Jokowi. Dimulai dari sivitas akademika UGM Yogyakarta, seruan itu terus menggelembung dan diikuti kampus-kampus lain, yakni Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, Universitas Indonesia, Universitas Andalas Padang, dan Universitas Hasanuddin Makassar. Forum Rektor Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah juga sudah ikut menggaungkan suara yang sama. Kabarnya, pekan depan seruan bakal makin menggema dari sejumlah kampus lainnya.

Ketika seruan dan peringatan itu muncul dari tokoh, elite politik, dan aktivis prodemokrasi, mungkin Jokowi masih boleh bergeming. Namun, bila peringatan dan seruan itu datang dari sejumlah institusi pendidikan atau kampus, Jokowi tidak boleh berleha-leha. Bila sudah kampus yang berseru, itu artinya ada hal yang gawat darurat secara moral yang dilakukan pucuk pimpinan tertinggi di Republik ini.

Lembaga kampus, tempat penyemaian sikap ilmiah dan sumbu independensi, jelas bukan institusi kaleng-kaleng. Seruan kampus dipandang sebagai pernyataan autentik sehingga pantang diabaikan. Ketika kampus tenang-tenang, kiranya bisa dipahami bahwa keadaan masih bisa dikendalikan. Namun, saat kampus sudah turun gelanggang menyeru dan mengingatkan, berarti ada jalan yang salah dari pemimpin lewat aksi kelewat ugal-ugalan.

Saya jadi teringat kisah negarawan dari George Washington, presiden Amerika Serikat yang terus dikenang sejarah karena ia menyelamatkan demokrasi Amerika. George Washington ialah pahlawan perang Amerika. Ia memimpin tentara Amerika yang compang-camping, tetapi berhasil mengalahkan tentara profesional Inggris.

Namun, itu warisan kecil. Warisan besarnya ialah seusai perang. Setelah mengantarkan kemerdekaan Amerika, Washington tidak lantas mabuk kekuasaan. Ia memutuskan meninggalkan dinas ketentaraan dan memilih menekuni tanah pertaniannya di Mount Vernon.

Akan tetapi, tidak lama kemudian, ia dipanggil untuk memimpin Constitutional Convention di Philadelphia yang bermaksud merumuskan konstitusi Amerika. Washington terbukti tidak cuma bisa memimpin tentara. Ia juga bisa memimpin tokoh intelektual dan filsuf sekelas John Adams, Benyamin Franklin, James Madison, Alexander Hamilton, Thomas Jefferson, dan lain-lain. Karena itu, tidak mengherankan, setelah konstitusi Amerika disahkan, Washington terpilih menjadi presiden pertama Amerika Serikat.

Washington sudah meminta James Madison menulis pidato perpisahan ketika masa jabatan pertamanya akan berakhir. Namun, saat itu, negara terancam terbelah. Di satu sisi partai Federal yang dipimpin Hamilton berkeinginan memperkuat (negara) federal, sementara di sisi lain partai Demokrat-Republik yang dipimpin Jefferson menghendaki penguatan negara bagian.

Hanya setelah kedua bapak bangsa yang berbeda visi itu datang dan mengancam Amerika akan terbelah bila ia tidak memimpin lagi, Washington setuju pencalonan dirinya sebagai presiden untuk kali kedua. Ia dipaksa dalam pengertian yang sesungguhnya untuk menjadi presiden di periode kedua.

Akan tetapi, memasuki akhir masa jabatan kedua, Washington sudah merasa cukup. Enough is enough. Padahal, ia tetaplah orang paling dihormati dan dicintai rakyat Amerika. Seandainya waktu itu sudah ada lembaga survei, bisa jadi tingkat kepuasan rakyat terhadapnya mencapai 99%. Juga, bisa jadi bila dilakukan referendum untuk mengangkatnya sebagai presiden periode ketiga, tidak susah baginya untuk melenggang.

Tidak akan ada orang yang bisa mengungguli Washington andaikan ia ingin menjadi presiden lagi. Beberapa bulan sebelum pilpres, ia menyatakan tidak mencalonkan diri lagi. Ia juga tidak mengupayakan anaknya untuk maju, kalau perlu dengan menggenggam tiket dukungan darinya.

Itulah legacy terbaik dari seorang negarawan sejati. Warisan itu nyatanya diikuti presiden-presiden Amerika berikutnya hingga 32 periode kepresidenan atau hampir 150 tahun kemudian. Ada sedikit pengecualian setelah Franklin D Roosevelt naik untuk periode ketiga karena dunia sedang dilanda Perang Dunia Kedua.

Seruan kampus memang tidak akan menyamakan Jokowi dengan George Washington. Namun, seruan itu setidaknya mengingatkan agar Jokowi tidak terlampau jauh menabrak rambu-rambu demokrasi. Namun, itu pun masih berat untuk didengar dan dilakukan. Sepertinya, dibutuhkan seruan yang lebih keras lagi dari lebih banyak kampus lagi. Siapa tahu, gendang telinga masih bisa mendengar, kelopak mata masih sehat untuk melihat, dan masih tersisa hati untuk merasa. Semoga saja.



Berita Lainnya
  • Mudarat Paling Kecil

    27/1/2026 05:00

    RENCANA bergabungnya Indonesia dalam Board of Peace yang digagas oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk 'pembangunan kembali Gaza' segera memantik pro dan kontra.

  • Pengawas Mati, Korupsi Tumbuh

    26/1/2026 05:00

    KEGAGALAN aparat pengawasan intern pemerintah (APIP) ialah fakta berulang, bukan lagi dugaan.

  • Rupiah Vs IHSG

    23/1/2026 05:00

    ADA yang ganjil di pasar keuangan kita. Rupiah terkapar, bahkan menyentuh di kisaran 17 ribu per US$, level terendah sepanjang sejarah.

  • OTT Tepat Waktu

    22/1/2026 05:00

    BUPATI Pati, Jawa Tengah, Sudewo kembali menjadi atensi. Dia ditangkap tangkap oleh KPK karena diduga jual beli jabatan. OTT itu terjadi pada waktu yang tepat, sangat tepat.

  • Pesta Elite, Nestapa Rakyat

    21/1/2026 05:00

    REPUBLIK ini kiranya sedang berada dalam situasi kontradiksi yang meresahkan. Kontradiksi itu tersaji secara gamblang di lapisan-lapisan piramida sosial penduduk. 

  • Vietnam Melaju Kencang

    20/1/2026 05:00

    KITA tidak harus paling benar, yang penting paling berhasil. Itulah filosofi Vietnam.

  • Suara Profesor 15 Januari

    19/1/2026 05:00

    SEJARAH Republik ini mencatat 15 Januari sebagai tanggal yang tidak netral. Pada hari itulah suara mahasiswa pernah mengguncang kekuasaan.

  • Setan pun Minder

    15/1/2026 05:00

    INDONESIA memang negeri yang kaya. Kaya sumber daya alam, kaya budaya, dan kiranya juga kaya kreativitas kejahatannya, termasuk korupsi.

  • Regenerasi Koruptor

    14/1/2026 05:00

    Ya, mereka memang terkenal pada zaman masing-masing. Terkenal karena berkasus rasuah.

  • Angka Tiga

    13/1/2026 05:00

    PEMERINTAH tampaknya kembali menarik napas lega. Defisit APBN 2025 memang melebar, tetapi masih di bawah ambang sakral 3% dari produk domestik bruto (PDB).

  • Burung Diadili, Bencana Dibiarkan

    12/1/2026 05:00

    PENGADILAN Negeri Situbondo, Jawa Timur, punya cerita. Penegakan hukum di sana dikenal sangat tajam, terutama kepada mereka yang lemah

  • Kutukan Ekonomi Ekstraktif

    09/1/2026 05:00

    VENEZUELA kembali menjadi sorotan dunia. Kali ini bukan semata karena krisis ekonomi yang tak kunjung usai

  • Maduro dan Silfester

    08/1/2026 05:00

    APA hubungannya Nicolas Maduro dan Silfester Matutina? Tidak ada. Teman bukan, saudara apalagi.

  • Negara Bahagia

    07/1/2026 05:00

    INI cerita tentang Indonesia yang barangkali membahagiakan, tapi juga sekaligus bisa menjadi peringatan.

  • Angka Lima

    06/1/2026 05:00

    ANGKA lima seolah 'ditakdirkan' melekat dalam 'tubuh' negeri ini pada satu dekade terakhir.

  • Demokrasi Donat Pilkada tanpa Rakyat

    05/1/2026 05:00

    SEPERTI kue donat yang berlubang di tengah. Begitulah demokrasi negeri ini akan tampak jika pemilihan gubernur, bupati, dan wali kota dikembalikan kepada DPRD.