Headline
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Kumpulan Berita DPR RI
KISAH ini barangkali tak lagi asing, terutama bagi umat Islam, tetapi sangat layak untuk terus kita jadikan etalase keteladanan. Kisah ini ialah contoh terbaik bagaimana seharusnya seorang pemimpin bersikap, berperilaku, dan bertindak. Kisah yang kiranya juga sangat relevan untuk hari-hari belakangan.
Kisah ini meriwayatkan episode kehidupan salah satu sahabat Nabi, Umar bin Khattab. Umar ialah khalifah kedua dari khulafaur rasyidin atau pemimpin yang bijaksana setelah Muhammad. Dia dikenal taat kepada Allah SWT, pemberani, adil, sederhana, amanah, dan sangat memperhatikan rakyatnya.
Alkisah, pada suatu malam menjelang dini hari, Umar melakukan kebiasaan rutinnya, yakni turun ke masyarakat untuk melihat langsung kondisi rakyatnya. Kalau istilah sekarang blusukan. Sesampai di sebuah dusun terpencil, telinga Umar menangkap suara tangis anak kecil. Sebentar berhenti, lalu menangis lagi. Sungguh memilukan hati.
Umar pun mendekati sumber tangisan di sebuah gubuk yang terbuat dari kulit kayu. Dilihatnya seorang ibu di depan tungku seolah sedang memasak. Sesekali si ibu mengaduk panci, sesekali dia membujuk anaknya untuk tidur. "Diamlah wahai anakku. Tidurlah kamu sesaat sambil menunggu bubur segera masak," ucap sang ibu.
Mendengar bujukan ibunya, sang bocah tertidur, tetapi tak lama terbangun dan kembali menangis. Adegan itu terus terulang, lagi dan lagi. Umar yang penasaran kemudian mendekat, lantas mengetuk pintu sambil unjuk salam. Dia tak memperkenalkan diri sebagai khalifah. Dia lebih suka dan sudah terbiasa menyamar sebagai orang biasa.
Umar lalu menanyakan apa yang sedang dimasak si ibu, kenapa pula sang anak terus menangis. Dengan sedih, ibu itu menceritakan bahwa anaknya menangis karena kelaparan dan dia tak punya apa-apa untuk dimasak. Untuk mengelabuhi dan menghibur anaknya, dia merebus sebongkah batu. Dia juga kesal, marah, kepada pemimpinnya. "Celakalah Amirul Mu'minin Umar ibnu Khattab yang membiarkan rakyatnya kelaparan."
Setelah mendengar sumpah serapah ibu itu, Umar pergi dan menangis memohon ampun kepada Allah. Ia merasa ceroboh hingga tak tahu rakyatnya kesusahan. Tanpa pikir panjang dia segera pulang, mengambil sekarung gandum, dan memanggul sendirian untuk diberikan kepada ibu tadi.
Pengawal Umar yang melihat pemimpinnya tergopoh-gopoh membawa karung gandum menawarkan diri membantu, tetapi Umar menolaknya. "Apakah kalian mau menggantikanku menerima murka Allah akibat membiarkan rakyatku kelaparan? Biar aku sendiri yang memikulnya karena ini lebih ringan bagiku ketimbang siksaan Allah di akhirat nanti," jawab Umar.
Umar ialah pemimpin sejati, pemimpin yang sesungguhnya. Pemimpin yang bertabiat pelayan, bukan majikan. Pemimpin yang hiba, tulus, tanpa pamrih apa pun, kala melayani rakyatnya.
Umar memberikan sekarung gandum kepada seorang ibu semata untuk meringankan beban hidup warganya. Dia mengucurkan bantuan atau istilah sekarang bansos bukan karena ada udang di balik bakwan. Dia bukan tipe pemimpin yang suka membajak, apalagi memersonifikasi, sumber daya negara untuk kepentingan pribadi atau keluarganya.
Umar memberikan bansos bukan untuk pencitraan atau lantaran ingin mendapatkan imbalan dukungan demi melanggengkan kekuasaan. Dia tak pernah aji mumpung. Mumpung berkuasa, mumpung bisa melakukan segalanya.
Umar setiap saat berkeliling membantu rakyatnya yang hidup susah. Dia tak perlu menunggu jelang-jelang pemilihan untuk mengucurkan bansos dan beragam program kekhalifahan lainnya.
Umar pun tak pernah merapel bantuan langsung tunai jelang hari-H pemungutan suara demi mendongkrak elektabilitas orang yang didukungnya. Dia juga tak hobi kunjungan ke daerah-daerah hanya untuk menunjukkan seolah peduli dan dekat dengan rakyat, untuk dielu-elukan.
Umar jelas murah hati, amanah, tapi dia tidak ingin disebut sebagai pemimpin yang pemurah, yang amanah. Dia tak perlu membagikan sembako di depan istana lalu diwartakan ke segala penjuru agar orang-orang menjulukinya sebagai orang baik.
Umar suka membantu rakyat, tapi bukan dengan cara menghina. Dia sopan, tak pernah melempar-lemparkan bantuan seolah menikmati ketika rakyatnya beradu badan berebutan. Dia pemimpin yang selalu memuliakan rakyatnya.
Adakah pemimpin di negeri ini yang seperti Umar bin Khattab? Jelang Pilpres 2019, Ketua DPP PDIP Rokhmin Dahuri memirip-miripkan gaya kepemimpinan Presiden Jokowi dengan Umar. Katanya, Jokowi dekat dengan rakyat. Pada 2020, perumpamaan serupa disematkan politikus PDIP Arteria Dahlan. Alasannya, Jokowi suka blusukan termasuk malam-malam.
Itu dulu, ketika PDIP masih sebarisan dengan Jokowi. Sekarang? Bisa jadi mereka menyesal setengah mati membuat penganalogian sedahsyat itu. Lagi pula, emangnya Jokowi seperti Umar bin Khattab? Bagaimana pembaca?
SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan
PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik.
"SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."
SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.
MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.
LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.
ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.
DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.
DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.
SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan
TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.
LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.
'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)
JUDI online (judol) sejatinya bukanlah sebuah permainan keberuntungan. Ia barangkali salah satu mesin penipu paling canggih yang pernah diciptakan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved