Headline

Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.

Desakralisasi Jokowi

Abdul Kohar, Dewan Redaksi Media Group
20/1/2024 05:00
Desakralisasi Jokowi
Abdul Kohar, Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

FRASA 'desakralisasi kekuasaan' kini muncul lagi. Seorang kawan menggunakan istilah itu saat menanggapi isu pemakzulan Presiden Joko Widodo. Sang kawan tidak setuju dengan agenda pemakzulan itu. Baginya, gerakan itu muspra, tidak efektif, untuk sebuah usia kekuasaan yang tinggal hitungan bulan.

Kendati tidak setuju dengan gerakan pemakzulan, sang teman tidak menolak sepenuhnya gerakan sejumlah aktivis sipil itu. Menurut dia, gerakan tersebut bagus untuk mengingatkan penguasa. Ia semacam terapi kejut di tengah kekuasaan yang hampir absolut. "Gerakan itu bagus untuk mendesakralisasi Jokowi yang oleh pengagumnya diperlakukan seperti dewa," ungkapnya.

Saya jadi ingat saat Gus Dur menjadi Presiden RI. Saat itu, Istana Kepresidenan terbuka untuk masyarakat, pegiat budaya, pekerja seni, tokoh agama, dan lain-lain. Mereka bebas menggunakan pakaian yang biasa mereka kenakan, asal rapi. Ada orang pakai sarung, kaus, celana jins, bersendal bakiak, sepatu kets, pokoknya nyaman.

Segala petatah-petitih dan protokoler keistanaan luruh. Ketegangan melumer. Masyarakat bisa bercanda dengan presidennya tanpa rikuh. Lalu, sejumlah media menyebutkan bahwa Gus Dur telah mendesakralisasi istana dari yang kaku dan serbatertib menjadi lebih lumer, lebih fleksibel.

Pemandangan serupa terjadi saat periode pertama pemerintahan di bawah kepemimpinan Jokowi. Para youtuber, kreator konten, pelawak, komedian, kelompok tani, jurnalis, hingga ibu-ibu majelis taklim bisa bebas bercengkerama dengan Presiden. Media pun menulis bahwa Jokowi meneruskan desakralisasi istana yang dirintis Gus Dur.

Namun, belakangan, justru yang berkembang ialah desakralisasi terhadap kekuasaan Jokowi. Mereka yang menggaungkan istilah ini menganggap bahwa Jokowi sudah terseret jauh dalam godaan meneruskan kekuasaannya. Mulai dari pelolosan putra sulungnya, Gibran Rakabuming Raka, menjadi cawapres, Jokowi dianggap kian larut dalam cawe-cawe untuk mengegolkan anaknya menjadi wapres beneran, bukan sekadar cawapres.

Banyak yang menyebut: Jokowi sekarang bukan Jokowi yang dulu. Jokowi yang sekarang, kata mereka, ialah Jokowi yang mengalami 'defisit cinta'. Seperti kata psikolog Carl Gustav Jung, "Di mana kekuasaan dominan, di situ ada defisit cinta. Yang satu jadi bayang-bayang yang lain.”

Dalam rumus Gustav Jung, kekuasaan bisa menjadi sumber dominan bagi kehidupan sosial masyarakat untuk terjangkit problem berat. Tidak ada problem berat di tengah masyarakat yang tidak bersumber dari kekuasaan. Kekuasaan menjadi penentu desain kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Ketika ditemukan banyak kondisi ketidakberdayaan sosial, misalnya, maka ini mengindikasikan adanya ulah salah dari elemen kekuasaan. Jika penyakit bersumber dari hubungan personal atau sekelompok orang, akibatnya masih bersifat khusus dan terbatas. Tapi, kalau yang menyebarkan penyakit itu penguasa, apalagi pucuk tertinggi kekuasaan, akibatnya bisa masif, eksesif, dan akseleratif.

Penyakit 'mengerikan' itu bernama penyalahgunaan kekuasaan (abuse of power). Aspek mengerikannya bukan semata pada dampak terjadinya penyalahgunaan, melainkan secara etis praktik ini mencerminkan pola 'pengamputasian' dan 'penyalahgunaan' amanat yang membuat etika kehilangan fungsi sakralitasnya.

Penyalahgunaan kekuasaan merupakan bukti nyata ketidakcintaan punggawa negara kepada rakyat. Rakyat dipermainkan dengan banyak janji yang ditabur di awal kekuasaan, tapi diingkari di tengah atau di pengujung kekuasaan. Kondisi seperti itulah yang beberapa waktu terakhir dirasakan. Bahkan, ada yang bilang: kecintaan sudah bersalin rupa menjadi pengkhianatan.

Maka, muncul perlawanan, baik secara diam-diam maupun terang-terangan. Yang diam-diam, bersiap untuk melawan penggunaan kekuasaan yang amat eksesif dengan cara tidak memilih calon yang di-endorse kekuasaan. Ada juga yang memilih dengan cara berpihak kepada calon yang radiusnya paling jauh dari kekuasaan. Kelompok ini bahkan rela bergotong royong, merogoh kocek pribadi, demi mengampanyekan calon yang menawarkan perubahan dan melawan kejumudan.

Yang berada di titik paling ekstrem, mencoba menawarkan proses pemakzulan. Kelompok ini tidak peduli dengan kerumitan pemakzulan, yang penting ide itu direspons banyak kalangan. Mereka tidak melulu menjatuhkan kekuasaan saat ini, tapi setidaknya tengah berikhtiar keras mendesakralisasi kekuasaan.

Hanya kejujuran, permainan yang adil, netralitas kekuasaan yang sesungguhnyalah yang akan mengembalikan napas cinta kepada rakyat. Tanpa itu, desakralisasi akan terus terjadi, menggelembung, bahkan bisa sulit dibendung.



Berita Lainnya
  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.

  • Melindungi Konsumen

    06/2/2026 05:00

    LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.

  • Duka Ngada Aib Negara

    05/2/2026 05:00

    'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)

  • Tipu Daya Judol

    04/2/2026 05:00

    JUDI online (judol) sejatinya bukanlah sebuah permainan keberuntungan. Ia barangkali salah satu mesin penipu paling canggih yang pernah diciptakan.

  • Tuas Rem Trump-Khamenei

    03/2/2026 05:00

    DUNIA kembali berdiri di bibir jurang.