Headline

Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.

Belajar dari Afsel

Ade Alawi Dewan Redaksi Media Group
16/1/2024 05:00
Belajar dari Afsel
Ade Alawi Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

MENJADI negara yang disegani dalam percaturan global tak semata karena kemajuan ekonomi dan alat utama sistem persenjataan (alusista) yang dimiliki. Keberanian ikut menjaga ketertiban dunia pun bisa menjadi faktor.

Ekonomi makmur dan alutsista siap tempur, tapi nyali terkubur dalam menjaga ketertiban dunia, tak bermakna apa-apa negara tersebut di kancah dunia. Pasalnya, pada akhirnya peperangan di sebuah kawasan akan berdampak terhadap negara-negara lainnya, termasuk negara yang emoh terlibat dalam menjaga perdamaian dunia.

Afrika Selatan (Afsel) adalah salah satu negara yang berani menyeret Israel ke Mahkamah Internasional (International Court of Justice/ICJ) di Den Haag, Belanda, dalam kasus genosida oleh Israel di Gaza. Sidang pertama kasus gugatan genosida oleh Israel yang diajukan Afrika Selatan itu digelar pada Kamis (11/1).

Dalam gugatan setebal 84 halaman tersebut, Afsel mengatakan Israel telah melanggar Konvensi Genosida 1948 yang dibuat seusai Perang Dunia II dan Holocaust. Afrika Selatan dan Israel merupakan penanda tangan Konvensi Genosida PBB, yang memberikan yurisdiksi kepada ICJ sebagai badan hukum tertinggi PBB untuk memutuskan perselisihan mengenai konvensi tersebut.

Alhasil, semua negara yang menandatangani konvensi tersebut wajib menaati untuk tidak melakukan genosida. Selain tidak melakukan genosida, juga wajib mencegah dan menghukum siapa pun yang melakukannya. Dalam perjanjian tersebut, pengertian genosida adalah tindakan yang dilakukan dengan maksud untuk menghancurkan, secara keseluruhan atau sebagian, suatu kelompok bangsa, etnis, ras, atau agama.

Dunia semakin muram karena eskalasi perang Hamas-Israel meluas. Perang berdarah Israel di Jalur Gaza sudah mencapai hari ke-100 sejak 7 OKtober 2023. Agresi negeri zionis itu sudah menewaskan hampir 24 ribu orang. Serangan udara dan darat Israel membuat wilayah kantong Palestina mengalami kehancuran secara masif di Gaza.

Sebanyak 85% penduduk Gaza menjadi pengungsi. Selain itu, 60% infrastruktur di wilayah tersebut juga hancur. Israel memutus pasokan listrik, makanan, air, dan bahan bakar ke Gaza. Tak hanya itu, Israel menyerang sejumlah kamp pengungsian, sekolah, rumah ibadah, dan rumah sakit.

Afrika Selatan tak sendiri mengajukan gugatan aksi genosida oleh Israel di Gaza ke ICJ. Negara lain yang ikut mendukung ialah Bolivia, Cile, Turki, dan Malaysia. Meskipun mengutuk keras agresi Israel dan mendukung sepenuhnya perjuangan bangsa Palestina untuk merdeka dan berdaulat, Indonesia tidak bisa menyeret Israel ke ICJ karena bukan negara yang menandatangani Konvensi Genosida PBB. Konvensi Genosida PBB secara efektif dilaksanakan pada 12 Januari 1951. Per April 2022, ada 153 negara yang menjadi negara pihak. Negara pihak adalah negara yang setuju terikat perjanjian internasional berkekuatan hukum untuk menolak genosida.

Dalam sidang kedua yang digelar Jumat (12/01), delegasi Israel menolak tuduhan-tuduhan genosida yang dilancarkan Afsel. Delegasi Israel menuding Afsel sebagai ‘juru bicara’ kelompok Hamas yang menginginkan kehancuran Israel. Delagasi Israel berkilah bahwa apa yang mereka lakukan di Gaza adalah bentuk pembelaan diri dari serangan Hamas.

Kini, perang tak hanya Hamas-Israel. Perang telah meluas, seperti antara negara-negara yang mendukung Hamas yakni kelompok Houthi di Yaman dengan Amerika dan Inggris di Laut Merah.

Laut Merah dikenal sebagai salah satu jalur pelayaran terpadat di dunia. Rute pelayaran ini menghubungkan Eropa dengan Asia dan Afrika Timur. Konflik di Laut Merah akan memicu konflik regional. Konflik ini mengganggu pengiriman komoditas penting yang biasa melewati Laut Merah, seperti minyak, pangan, dan pakaian. Ketergantungan Indonesia pada komoditas impor itu mengerek kenaikan harga sehingga memukul perekonomian negeri ini.

Indonesia perlu belajar dari Afsel. Negara yang memiliki keberanian untuk tidak populer di mata Israel dan sekutunya. Negara tersebut memiliki banyak hal untuk diteladani. Seperti keberhasilan mengatasi apartheid, sistem pemisahan ras yang diterapkan oleh pemerintah kulit putih di Afsel dari 1948 hingga awal 1990-an. Rekonsiliasi nasional untuk menyelesaikan permasalahan kelam bangsa Afsel yang digagas Presiden Nelson Mandela pada 1995 juga berjalan sukses.

Berbagai perubahan radikal yang dilakukan Nelson Mandela membuahkan hasil. Tidak saja mendorong perubahan di dalam negeri, tetapi juga menginspirasi perdamaian di sejumlah negara. Dukungan yang besar disampaikan pula oleh Nelson Mandela kepada Palestina.

Seiring dengan demokratisasi yang berkembang di ‘Negeri Pelangi’ itu, pertumbuhan ekonomi mereka pun terus membaik. Tak mengherankan bila Afsel merupakan ekonomi terbesar dan menjadi wakil Benua Afrika di forum G-20. Afsel bangkit dari keterpurukan sebagai negara terbelakang berkat visi pemimpinnya yang bernama Nelson Mandela. Visi memimpin yang menginspirasi, visioner, dan bukan omon-omon, serta melampaui batas negara. Tabik!



Berita Lainnya
  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

Opini
Kolom Pakar
BenihBaik