Headline

Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.  

Intelektual Tukang Kompor

Gaudensius Suhardi Dewan Redaksi Media Group
08/1/2024 05:00
Intelektual Tukang Kompor
Gaudensius Suhardi Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

ADA fakta menarik lain terkait dengan Pilpres 2024 yang tidak sekadar instrumen demokrasi untuk memilih presiden dan wakil presiden. Pilpres kali ini juga sebagai penampi intelektual tukang dan intelektual sejati.

Intelektual tukang telanjur menceburkan diri dalam politik praktis sampai melupakan tugas utamanya sebagai penjaga moral. Sebaliknya, intelektual sejati tetap mampu menjaga akal waras untuk menyuarakan kebenaran sekalipun hidup pas-pasan.

Edward W Said, seorang Amerika keturunan Palestina, dalam buku Peran Intelektual (1993) menyoroti posisi intelektual. Kata dia, intelektual ialah pencipta sebuah bahasa yang mengatakan yang benar kepada yang berkuasa.

Masalah kaum intelektual, tulis Franz Magnis Suseno, dalam kata pengantar buku itu, mereka umumnya bukan malaikat kejujuran intelektual sebagaimana diperkirakan atau diharapkan masyarakat.

“Mereka sering tidak murni intelektual, tidak bebas dari pamrih, bahkan bersedia menjual keterampilan mereka kepada yang mau membayar, tidak integer,” kata Magnis, sang ahli filsafat moral dan etika.

Para intelektual tukang yang menjual keterampilan mereka mudah ditemui saat ini. Ahli survei merangkap konsultan politik, tetapi mereka tidak terbuka kepada publik terkait dengan sumber pembiayaan survei. Mereka menjual keterampilan survei kepada yang mau bayar karena bosan hidup miskin.

Sebagian intelektual bergabung dalam gerbong propaganda pilpres satu putaran setelah sebelumnya gagal mengampanyekan presiden tiga periode. Ada yang menyebut pilpres satu putaran berdampak baik pada keuangan negara, salah satunya menghemat anggaran negara hingga Rp27 triliun. Pagu anggaran pemilu putaran pertama sebesar Rp38,99 triliun.

Propaganda pilpres satu putaran yang diinisiasi para intelektual tukang itu berkorelasi dengan upaya-upaya kasatmata menerabas aturan kepemiluan. Tengok saja pelanggaran netralitas aparatur sipil negara yang kian masif, dipertontonkan tanpa malu-malu lagi. Malah ada aktivitas kontestan pilpres yang divonis melanggar hukum.

Pilpres memang mahal, sangat mahal. Namun, memaksakan pilpres satu putaran justru jauh lebih mahal lagi ongkosnya karena hanya menghasilkan pemimpin otoriter.

Rakyat akan membayar sangat mahal bila pemilu menghasilkan pemimpin otoriter. Tidak hanya ongkos yang bisa dihitung secara finansial, tetapi terutama ongkos sosial dan kemanusiaan seperti pelanggaran hak-hak asasi manusia yang semuanya tidak bisa dihitung dalam rupiah.

Pemilihan presiden dan wakil presiden secara langsung oleh rakyat ialah soal pilihan ideologi. Sekali sistem itu dipilih, berapa pun ongkosnya harus dibayar. Betapa pun mahalnya sebuah pilpres, dalam demokrasi ia wajib dilaksanakan.

Pilpres bermartabat menyangkut prosedur dan substansi. Prosedurnya diatur dalam Pasal 6A Undang-Undang Dasar 1945. Ayat (3) menyebutkan pasangan calon presiden dan wakil presiden yang mendapatkan suara lebih dari 50% dari jumlah suara dalam pemilu dengan sedikitnya 20% suara di setiap provinsi yang tersebar di lebih dari setengah jumlah provinsi di Indonesia, dilantik menjadi presiden dan wakil presiden.

Dalam hal tidak ada pasangan calon presiden dan wakil presiden terpilih, menurut Pasal 6A ayat (4) UUD 1945, dua pasangan calon yang memperoleh suara terbanyak pertama dan kedua dalam pemilu dipilih rakyat secara langsung serta pasangan yang memperoleh suara rakyat terbanyak dilantik sebagai presiden dan wakil presiden.

Prosedur yang diatur dalam konstitusi itu pada hakikatnya untuk menjamin pilpres substantif, yaitu rakyat secara bebas tanpa intimidasi menggunakan hak politik untuk memilih pemimpin mereka.

Setiap zaman melahirkan intelektual tukang, istilah yang dipopulerkan Julien Benda, intelektual asal Prancis. Kata Benda, tugas kaum intelektual ialah mencari, menemukan, dan menyampaikan kebenaran lewat ilmu pengetahuan. Intelektual tukang bekerja berdasarkan pesanan, termasuk pesanan pilpres satu putaran. Tidak berdasarkan hasratnya untuk mencari kebenaran.

Jauh lebih elok bila kaum intelektual mengawal dan menyerukan agar biaya pilpres selangit itu benar-benar dipakai untuk pilpres. Mengawasi agar penyelenggara pemilu tidak menjadi sarang penyamun.

Kata Benda, sebuah bentuk pengkhianatan kaum intelektual apabila mereka terlibat dalam kancah politik praktis, lalu melupakan tugas mereka sebagai penjaga moral. Intelektual yang menyuarakan pilpres satu putaran demi penghematan ongkos sejatinya intelektual tukang kompor.



Berita Lainnya
  • Mudarat Paling Kecil

    27/1/2026 05:00

    RENCANA bergabungnya Indonesia dalam Board of Peace yang digagas oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk 'pembangunan kembali Gaza' segera memantik pro dan kontra.

  • Pengawas Mati, Korupsi Tumbuh

    26/1/2026 05:00

    KEGAGALAN aparat pengawasan intern pemerintah (APIP) ialah fakta berulang, bukan lagi dugaan.

  • Rupiah Vs IHSG

    23/1/2026 05:00

    ADA yang ganjil di pasar keuangan kita. Rupiah terkapar, bahkan menyentuh di kisaran 17 ribu per US$, level terendah sepanjang sejarah.

  • OTT Tepat Waktu

    22/1/2026 05:00

    BUPATI Pati, Jawa Tengah, Sudewo kembali menjadi atensi. Dia ditangkap tangkap oleh KPK karena diduga jual beli jabatan. OTT itu terjadi pada waktu yang tepat, sangat tepat.

  • Pesta Elite, Nestapa Rakyat

    21/1/2026 05:00

    REPUBLIK ini kiranya sedang berada dalam situasi kontradiksi yang meresahkan. Kontradiksi itu tersaji secara gamblang di lapisan-lapisan piramida sosial penduduk. 

  • Vietnam Melaju Kencang

    20/1/2026 05:00

    KITA tidak harus paling benar, yang penting paling berhasil. Itulah filosofi Vietnam.

  • Suara Profesor 15 Januari

    19/1/2026 05:00

    SEJARAH Republik ini mencatat 15 Januari sebagai tanggal yang tidak netral. Pada hari itulah suara mahasiswa pernah mengguncang kekuasaan.

  • Setan pun Minder

    15/1/2026 05:00

    INDONESIA memang negeri yang kaya. Kaya sumber daya alam, kaya budaya, dan kiranya juga kaya kreativitas kejahatannya, termasuk korupsi.

  • Regenerasi Koruptor

    14/1/2026 05:00

    Ya, mereka memang terkenal pada zaman masing-masing. Terkenal karena berkasus rasuah.

  • Angka Tiga

    13/1/2026 05:00

    PEMERINTAH tampaknya kembali menarik napas lega. Defisit APBN 2025 memang melebar, tetapi masih di bawah ambang sakral 3% dari produk domestik bruto (PDB).

  • Burung Diadili, Bencana Dibiarkan

    12/1/2026 05:00

    PENGADILAN Negeri Situbondo, Jawa Timur, punya cerita. Penegakan hukum di sana dikenal sangat tajam, terutama kepada mereka yang lemah

  • Kutukan Ekonomi Ekstraktif

    09/1/2026 05:00

    VENEZUELA kembali menjadi sorotan dunia. Kali ini bukan semata karena krisis ekonomi yang tak kunjung usai

  • Maduro dan Silfester

    08/1/2026 05:00

    APA hubungannya Nicolas Maduro dan Silfester Matutina? Tidak ada. Teman bukan, saudara apalagi.

  • Negara Bahagia

    07/1/2026 05:00

    INI cerita tentang Indonesia yang barangkali membahagiakan, tapi juga sekaligus bisa menjadi peringatan.

  • Angka Lima

    06/1/2026 05:00

    ANGKA lima seolah 'ditakdirkan' melekat dalam 'tubuh' negeri ini pada satu dekade terakhir.

  • Demokrasi Donat Pilkada tanpa Rakyat

    05/1/2026 05:00

    SEPERTI kue donat yang berlubang di tengah. Begitulah demokrasi negeri ini akan tampak jika pemilihan gubernur, bupati, dan wali kota dikembalikan kepada DPRD.