Headline

YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.

Leiden is Genieten

Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group
06/1/2024 05:00
Leiden is Genieten
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

AKHIR-AKHIR ini kian banyak saja orang-orang yang mencemaskan nasib demokrasi di Tanah Air. Lebih-lebih di kalangan aktivis civil society, demokrasi kita dinilai berada dalam kondisi gawat hingga gawat darurat, alias gawat banget.

Di kalangan aktivis gerakan masyarakat sipil ini, nasib demokrasi digambarkan dengan bahasa menyeramkan. Mulai dari frasa yang agak ringan seperti 'demokrasi dirusak', 'demokrasi dipukul mundur', 'demokrasi terancam roboh', hingga kalimat yang sadis seperti 'demokrasi di ujung kematian' atau 'demokrasi mati suri'.

Sikap skeptis muncul bersamaan dengan kian sulitnya menemukan negarawan di Republik ini. Sudah dalam satu dekade bahkan berbagai analis politik dan pemikir kebangsaan menyebut: negeri ini surplus politisi, tapi defisit negarawan.

Situasinya semakin kentara ketika pemimpin yang dulunya dikira benar-benar siap menjadi negarawan, ternyata di ujung kekuasaannya tenggelam dalam politik praktis yang menggenggam erat-erat kekuasaannya. Bahkan, terkesan sangat takut melepaskan kekuasaannya sehingga mesti 'menunjuk' siapa yang akan melestarikan kekuasaannya itu.

Di kondisi seperti itulah, skeptisisme akan masa depan indah demokrasi justru kian mekar. Ketidakpercayaan membuncah, berkelindan dengan rasa setengah frustrasi melihat, menyelami, dan menjalani keadaan. Jangankan bicara etika yang posisinya luhur nan mulia, bicara menjalankan aturan main sesuai bunyi teksnya saja, publik sudah amat sulit mendapatkan contohnya di kalangan pemimpin.

Harus diakui hari ini kita tengah mengalami masa-masa defisit negarawan dan surplus politikus yang amat parah itu. Rakyat inginnya negeri ini surplus negarawan dan surplus politisi. Keduanya tentu saja berbeda. Yang pertama berpikir jangka panjang, visioner, dan lebih mendahulukan kepentingan negara, sedangkan politikus justru kebalikannya.

Mengapa rakyat amat mendamba itu? Karena di tangan negarawan, politik menjadi siasat untuk membangun jalan keadaban dan menelurkan sekian kebijakan yang berpihak kepada khalayak. Sebaliknya bagi sebagian politikus, politik sekadar bertujuan untuk menggapai kekuasaan, tangga memburu takhta dalam rangka meraih sesuatu yang bersifat kebendaan dengan menjadikan kepentingan kelompok, termasuk keluarga, sebagai kiblatnya.

Negeri ini amat kesulitan menemukan pemimpin yang asketis, yakni yang punya paham dan sikap mental yang mencerminkan kesederhanaan, kejujuran, dan kerelaan berkorban. Jika diletakkan dalam konteks kehidupan bernegara, asketisme berarti cerminan dari seorang negarawan yang sederhana, jujur, dan rela berkorban bagi bangsa dan negaranya.

Dewasa ini, pemimpin dan pejabat publik kita seolah kehilangan arah dan tujuan dalam menakhodai bangsa. Bukan sikap dan nilai asketisme yang menjadi pegangan, melainkan sikap egosentrisme yang kerap kali dipertontonkan. Jauh dari apa yang kerap ditabalkan kepada 'The Grand Old' Haji Agus Salim, yakni leiden is lijden, 'memimpin itu menderita'. Yang ada sekarang: 'leiden is genieten', memimpin itu menikmati.

Dulu kita punya para pemimpin yang menderita, rela berkorban, pula sederhana. Ada Bung Hatta yang, meski wakil presiden, tidak sanggup membeli sepatu impian bermerek Bally. Ada M Natsir, perdana menteri dan pemimpin Partai Masyumi, yang rela mengenakan jas tambalan di forum-forum internasional karena tidak memiliki kemewahan untuk membeli jas baru.

Di era kekinian, hal serupa masih bisa ditemui di negeri tetangga. Perdana Menteri Thailand Chuan Lekpai pada periode pertama jabatannya, 23 September 1992 hingga 13 Juli 1995, oleh media-media massa dikisahkan sebagai politikus yang asketis. Pada periode kedua jabatannya sepanjang 9 November 1997 hingga 9 Februari 2001, Lekpai yang tinggal sendiri bahkan dilukiskan oleh majalah Time sebagai politikus yang menyetik alias memasang sendiri kancing jasnya yang copot.

Gambaran kesederhanaan itu membersitkan pesan kepada publik bahwa sang pemimpin ialah sosok yang bukan saja mencintai rakyat kebanyakan, tapi juga menghayati dan menjalankan kehidupan yang bersahaja. Mereka autentik. Mereka bicara lantang soal etika, sekaligus amat ketat dalam menjalankannya.

Sekarang, kebalikannya. Menolak menggunakan etika sembari terang-terangan mengutak-atik aturan. Ada yang bilang, abuse of power sudah dipraktikkan secara telanjang. Politik pembelahan terjadi lagi, tapi isunya menjadi 'yang bersama kekuasaan' melawan 'yang tidak lagi bersama kekuasaan'.

'Yang bersama kekuasaan' bisa menikmati fasilitas, peduli setan dengan netralitas, dan tidak lagi menghargai demokrasi. Adapun 'yang tidak lagi dalam barisan kekuasaan' mesti bersiap dengan risiko dianaktirikan, dipotong akses-aksesnya, direcoki dengan masalah remeh-temeh yang bisa berujung ke masalah hukum.

Kekuasaan yang sudah di ujung senja memang kerap membingungkan, bahkan misterius. Tidak ada lagi leiden is lijden. Karena sudah mereguk manisnya kekuasaan, kredonya pun berubah menjadi 'leiden is genieten'.



Berita Lainnya
  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.

  • Melindungi Konsumen

    06/2/2026 05:00

    LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.

  • Duka Ngada Aib Negara

    05/2/2026 05:00

    'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)

  • Tipu Daya Judol

    04/2/2026 05:00

    JUDI online (judol) sejatinya bukanlah sebuah permainan keberuntungan. Ia barangkali salah satu mesin penipu paling canggih yang pernah diciptakan.

  • Tuas Rem Trump-Khamenei

    03/2/2026 05:00

    DUNIA kembali berdiri di bibir jurang.

  • Etika Mundur di Pasar Modal

    02/2/2026 05:00

    PATUT dicatat sebagai rekor nasional. Bila perlu dengan tinta tebal. Hanya dalam satu hari, lima pejabat otoritas keuangan mengundurkan diri.

  • Keadilan dalam Sepotong Es Gabus

    30/1/2026 05:00

    HUKUM dan keadilan mestinya berada dalam satu tarikan napas. Hukum dibuat untuk mewujudkan keadilan.

  • Kejar Jambret Dikejar Pasal

    29/1/2026 05:00

    DI negeri ini, keadilan tak jarang tersesat di tikungan logika dan persimpangan nalar.

  • Noel agak Laen

    28/1/2026 05:00

    IMANUEL 'Noel' Ebenezer memang bukan sembarang terdakwa korupsi.

  • Mudarat Paling Kecil

    27/1/2026 05:00

    RENCANA bergabungnya Indonesia dalam Board of Peace yang digagas oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk 'pembangunan kembali Gaza' segera memantik pro dan kontra.

  • Pengawas Mati, Korupsi Tumbuh

    26/1/2026 05:00

    KEGAGALAN aparat pengawasan intern pemerintah (APIP) ialah fakta berulang, bukan lagi dugaan.

  • Rupiah Vs IHSG

    23/1/2026 05:00

    ADA yang ganjil di pasar keuangan kita. Rupiah terkapar, bahkan menyentuh di kisaran 17 ribu per US$, level terendah sepanjang sejarah.

  • OTT Tepat Waktu

    22/1/2026 05:00

    BUPATI Pati, Jawa Tengah, Sudewo kembali menjadi atensi. Dia ditangkap tangkap oleh KPK karena diduga jual beli jabatan. OTT itu terjadi pada waktu yang tepat, sangat tepat.

  • Pesta Elite, Nestapa Rakyat

    21/1/2026 05:00

    REPUBLIK ini kiranya sedang berada dalam situasi kontradiksi yang meresahkan. Kontradiksi itu tersaji secara gamblang di lapisan-lapisan piramida sosial penduduk. 

  • Vietnam Melaju Kencang

    20/1/2026 05:00

    KITA tidak harus paling benar, yang penting paling berhasil. Itulah filosofi Vietnam.

  • Suara Profesor 15 Januari

    19/1/2026 05:00

    SEJARAH Republik ini mencatat 15 Januari sebagai tanggal yang tidak netral. Pada hari itulah suara mahasiswa pernah mengguncang kekuasaan.