Headline

Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.

Sang Wasit Kehilangan Peluit

Ahmad Punto Dewan Redaksi Media Group
04/1/2024 05:00
Sang Wasit Kehilangan Peluit
Ahmad Punto Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

DALAM pertandingan apa pun, yang namanya wasit atau lembaga pengadil pasti selalu ada. Keberadaannya wajib. Ia komponen penting untuk mengawal pertandingan berjalan lancar dan, yang terpenting, menjunjung fair play.

Pemilihan umum (pemilu) juga bisa diibaratkan pertandingan. Pemilu ialah arena kontestasi, kompetisi memperebutkan suara rakyat dengan batasan dan aturan ketat. Pemilu bukan pertarungan bebas yang apa pun mungkin dilakukan demi meraup kemenangan. Oleh karena itu, wasit dalam urusan pemilu juga merupakan faktor penting.

Di Indonesia, wasit 'pertandingan' pemilu ialah Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu). Merekalah pemegang kuasa penuh di lapangan pemilu. Bawaslu tidak sekadar mengawal dan mengawasi jalannya pertandingan, tapi sekaligus punya wewenang untuk menyemprit dan menindak pelanggaran-pelanggaran yang terjadi.

Dengan kuasa yang dimilikinya itu, wasit tentu harus netral, tidak berat sebelah, pun tidak tebang pilih. Wasit mesti imparsial, tidak memihak, juga tidak berkongsi dengan kepentingan pihak yang sedang bertanding. Sepatutnya wasit juga punya nyali dan keberanian tinggi untuk menjatuhkan hukuman bagi siapa pun yang dinilai melanggar aturan main. Itu pakemnya.

Jadi, secantik-cantiknya para pemain memainkan pertandingan di lapangan, kalau wasitnya tidak kredibel, tidak netral, tidak punya nyali, jangan harap pertandingan bakal berjalan apik. Boleh jadi yang muncul keributan-keributan yang malah merusak permainan. Sehebat apa pun pelatih tim yang bertanding menyusun strategi, irama pertandingan bakal tetap rusak bila wasitnya menyimpang dari pakem.

Isu perihal wasit pemilu alias Bawaslu ini belakangan kian banyak disorot. Bawaslu dinilai lembek sekaligus tidak punya ketegasan menindak sejumlah pelanggaran yang nyata-nyata terjadi di lapangan. Jangankan menindak, untuk sekadar menyemprit mereka tampak malas, ogah-ogahan. Bawaslu bagaikan wasit yang kehilangan peluit dan kartu-kartu hukumannya.

Bawaslu juga dianggap lambat karena kurang responsif terhadap kejadian-kejadian yang berpotensi menjadi sebuah pelanggaran. Sejatinya sudah banyak indikasi pelanggaran pemilu yang ditemukan masyarakat umum dan masyarakat pemantau pemilu. Akan tetapi, ya itu tadi, entah lantaran peluitnya hilang entah memang Bawaslu tak punya cukup nyali, penegakan hukum terhadap pelanggaran-pelanggaran itu minim.

Mereka lebih banyak menunggu laporan. Setelah laporan masuk pun tak selalu mereka cepat bertindak. Memang ada yang ditindaklanjuti, tapi lebih banyak yang dicuekin, seperti sengaja dibiarkan sampai isu dari laporan itu mereda dengan sendirinya. Hari-hari ini publik menyaksikan Bawaslu lebih banyak diam membeku.

Kebekuan Bawaslu itu pada akhirnya membuat masyarakat hanya disuguhi beragam dugaan kecurangan dan ketidaknetralan tanpa ada kepastian melalui uji kebenaran melalui proses hukum. Orang mulai menduga-duga soal ketidaknetralan itu ketika kerap kali peluit sang wasit hanya kencang kepada satu kelompok tertentu, tapi melempem kepada kelompok lain.

Satu hal lagi yang hilang dari Bawaslu ialah kreativitas dan inovasi pengawasan. Bentuk pelanggaran semakin canggih, tapi Bawaslu sepertinya masih bertahan dengan gaya pengawasan lawas. Akibatnya, sering kali mereka luput mendeteksi gejala-gejala awal pelanggaran. Ketika banyak yang tidak terdeteksi, pelanggaran pada akhirnya menumpuk dan pada satu titik nanti akan menjadi bom waktu.

Sesungguhnya sudah banyak yang mengingatkan, jika sang wasit pemilu itu terus-terusan melakukan pembiaran, trust atau kepercayaan publik kepada Bawaslu bakal semakin luntur. Bahkan tidak cuma itu, kepercayaan publik terhadap proses dan hasil pemilu bisa terjerembap apabila Bawaslu tak kunjung tegas dan cepat menindak pelanggar kompetisi.

Mari kita ambil analogi dari sebuah pertandingan sepak bola. Ketika wasit tidak tegas, pelit meniup peluit, atau mencla-mencle, yang akan terjadi ialah kekacauan. Ketika kinerja wasitnya buruk, lambat, apalagi tidak menghormati asas keadilan dan kesetaraan dalam setiap keputusannya, risiko terberatnya ialah akan memicu perkelahian bukan saja antarpemain, melainkan juga antarsuporter.

Sekrusial itulah peran dan fungsi wasit. Baik di pertandingan sepak bola maupun pertandingan pemilu. Wasit memang tak mesti lebih hebat daripada pemain, tetapi soal integritas dan ketegasan kiranya tak bisa ditawar-tawar. Dengan integritas dan ketegasan itulah wasit bisa memegang kendali pertandingan, bukan sebaliknya, mereka yang dikendalikan pemain dan permainan.



Berita Lainnya
  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.

  • Melindungi Konsumen

    06/2/2026 05:00

    LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.

  • Duka Ngada Aib Negara

    05/2/2026 05:00

    'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)

  • Tipu Daya Judol

    04/2/2026 05:00

    JUDI online (judol) sejatinya bukanlah sebuah permainan keberuntungan. Ia barangkali salah satu mesin penipu paling canggih yang pernah diciptakan.

  • Tuas Rem Trump-Khamenei

    03/2/2026 05:00

    DUNIA kembali berdiri di bibir jurang.