Headline

Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.  

Warisan Peradaban

Ade Alawi Dewan Redaksi Media Group
02/1/2024 05:00
Warisan Peradaban
Ade Alawi Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

TIDAK banyak mantan presiden yang selalu dikenang oleh dunia. Dikenang bukan karena tak pernah berbuat salah, tetapi lantaran menorehkan karya-karya yang mengubah peradaban manusia, dari kegelapan menuju peradaban yang menempatkan manusia sebagai sumber nilai bagi kehidupan.

Di antara mantan presiden yang langka itu ialah Nelson Rolihlahla Mandela. Presiden Afrika Selatan sejak 1994 sampai 1999 itu adalah sosok yang memiliki integritas, satunya kata dengan perbuatan. Sepanjang hayatnya didedikasikan untuk perjuangan melawan rasisme, kemiskinan, dan beragam kesenjangan di negaranya. Mandela dikenal memiliki kepribadian kukuh, tak mengenal kompromi, sehingga rela dipenjara selama 27 tahun dari vonis pengadilan seumur hidup.

Meski lama ‘menikmati’ dinginnya hotel prodeo, jabatan presiden yang diraih Mandela dari pemilu demokratis pertama di Afrika Selatan pada 1994 tak membuatnya jemawa. Partai yang dipimpinnya, Kongres Nasional Afrika, dalam pesta demokrasi itu meraup 62% suara.

Visi hidup Mandela sebagai pejuang kemanusiaan dan hak sipil selama ini menjadi visinya ketika menjabat orang nomor satu di ‘Negeri Pelangi’ itu. Ada sejumlah warisan Mandela yang patut dicatat oleh tinta emas sejarah Afsel dan dunia. Pertama, upayanya memperjuangan kesetaraan gender. Hal itu ditegaskan dalam pidato kenegaraan pertama Mandela pada 1994.

Saat Mandela terpilih sebagai presiden, perempuan hanya menduduki 2,7% kursi di parlemen Afsel. Namun, pada 2013, kurang dari dua dekade kemudian, perempuan menguasai 44% kursi legislatif. Perjuangan Mandela membuat hasil untuk eksistensi politik perempuan Afsel.

Kedua, bergabung dalam perjuangan melawan HIV/AIDS di saat banyak yang menyangkal penyakit tersebut. Ketiga, mempromosikan pendidikan ilmu pengetahuan dan lingkungan. Selama rezim apartheid, warga kulit hitam Afsel dilarang mempelajari sains dan teknologi.

Keempat, menghapus diskriminasi dengan meningkatkan partisipasi politik warga Afsel. Kelima, kepemimpinan Mandela berorientasi pada rekonsiliasi. Mandela mengajak rakyatnya melupakan kepedihan, berdamai dengan masa lalu untuk menyongsong masa depan. Dari 1996 hingga 1998, sekitar 20 ribu korban berkumpul, bersaksi di hadapan Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi.

Keenam, mempromosikan perdamaian dan keadilan di seluruh dunia. Perjuangan peraih Nobel Perdamaian itu tak sebatas untuk negaranya. Setelah pensiun sebagai presiden, selain mengedukasi masyarakat tentang krisis HIV/AID, Mandela juga terlibat dalam menengahi konflik di sejumlah negara Afrika, seperti di Republik Demokratik Kongo dan Burundi.

Untuk menghormati kontribusinya terhadap perdamaian dan kebudayaan, Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa mengeluarkan Resolusi A/RES/64/13 pada 2009 dan menetapkan tanggal 18 Juli sebagai Hari Internasional Nelson Mandela.

Di ujung masa jabatannya sebagai presiden, Mandela tak ada tondo-tondo untuk memperpanjang masa jabatannya meskipun rakyat Afsel telanjur cinta dengan penyuka batik ini. Selain tak ada niat untuk memperpanjang periode kekuasaan, Mandela pun tak pernah berupaya menyiapkan dinasti atau kelompoknya untuk menduduki tampuk kekuasaan yang akan dilepaskannya. Dia memandang menjadi warga negara biasa sama mulianya dengan menjadi kepala negara.

Pantaslah jika Mandela berjuluk ‘Bapak Bangsa’, ‘Bapak Pendiri Demokrasi’, ‘Pembebas Bangsa’, ‘Sang Penyelamat’ dan sebagainya. Mandela adalah negarawan sejati. Dia hanya memikirkan generasi mendatang, bukan mendongkrak approval rating dengan berbagai cara agar terpilih kembali.

Indonesia sejatinya mampu melahirkan tokoh sekaliber Nelson Mandela. Seorang pemimpin nasional harus teralirkan darah pejuang. Sosok yang memang telah lama berjuang atau bekerja untuk rakyat dengan berbagai saluran perjuangan, seperti pendidikan, sosial, ekonomi, hukum, dan lain-lain.

Bukan tokoh karbitan dengan seabrek pencitraan. Bukan pula tokoh yang memiliki rekam jejak kekerasan/pelanggaran HAM. Indonesia membutuhkan tokoh besar yang mempunyai kapasitas besar, kemampuan kognitif dan afektif yang mumpuni untuk memimpin.

Pemilu 2024 bukan sekadar ajang suksesi kepemimpinan nasional, sirkulasi kekuasaan. Pesta demokrasi ini adalah sarana pendidikan politik bagi rakyat agar menggunakan hak suara secara bertanggung jawab. Demikian pula Presiden Joko Widodo, jangan kehilangan momentum untuk mengakhiri kekuasaan secara cemerlang (husnul khatimah) dengan memastikan pemilu berlangsung jujur, adil, dan penuh kegembiraan. Inilah legasi besar yang patut diwariskan. Jika gagal, entahlah apa yang terjadi.

Patut direnungkan pesan dari ‘Sang Pembebas Bangsa’. Apa yang kita lakukan, kata Nelson Mandela, tidak akan memberikan dampak kepada masyarakat sebelum kita jujur kepada diri sendiri. “The first thing is to be honest with yourself,” kata Mandela. Tabik!



Berita Lainnya
  • Mudarat Paling Kecil

    27/1/2026 05:00

    RENCANA bergabungnya Indonesia dalam Board of Peace yang digagas oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk 'pembangunan kembali Gaza' segera memantik pro dan kontra.

  • Pengawas Mati, Korupsi Tumbuh

    26/1/2026 05:00

    KEGAGALAN aparat pengawasan intern pemerintah (APIP) ialah fakta berulang, bukan lagi dugaan.

  • Rupiah Vs IHSG

    23/1/2026 05:00

    ADA yang ganjil di pasar keuangan kita. Rupiah terkapar, bahkan menyentuh di kisaran 17 ribu per US$, level terendah sepanjang sejarah.

  • OTT Tepat Waktu

    22/1/2026 05:00

    BUPATI Pati, Jawa Tengah, Sudewo kembali menjadi atensi. Dia ditangkap tangkap oleh KPK karena diduga jual beli jabatan. OTT itu terjadi pada waktu yang tepat, sangat tepat.

  • Pesta Elite, Nestapa Rakyat

    21/1/2026 05:00

    REPUBLIK ini kiranya sedang berada dalam situasi kontradiksi yang meresahkan. Kontradiksi itu tersaji secara gamblang di lapisan-lapisan piramida sosial penduduk. 

  • Vietnam Melaju Kencang

    20/1/2026 05:00

    KITA tidak harus paling benar, yang penting paling berhasil. Itulah filosofi Vietnam.

  • Suara Profesor 15 Januari

    19/1/2026 05:00

    SEJARAH Republik ini mencatat 15 Januari sebagai tanggal yang tidak netral. Pada hari itulah suara mahasiswa pernah mengguncang kekuasaan.

  • Setan pun Minder

    15/1/2026 05:00

    INDONESIA memang negeri yang kaya. Kaya sumber daya alam, kaya budaya, dan kiranya juga kaya kreativitas kejahatannya, termasuk korupsi.

  • Regenerasi Koruptor

    14/1/2026 05:00

    Ya, mereka memang terkenal pada zaman masing-masing. Terkenal karena berkasus rasuah.

  • Angka Tiga

    13/1/2026 05:00

    PEMERINTAH tampaknya kembali menarik napas lega. Defisit APBN 2025 memang melebar, tetapi masih di bawah ambang sakral 3% dari produk domestik bruto (PDB).

  • Burung Diadili, Bencana Dibiarkan

    12/1/2026 05:00

    PENGADILAN Negeri Situbondo, Jawa Timur, punya cerita. Penegakan hukum di sana dikenal sangat tajam, terutama kepada mereka yang lemah

  • Kutukan Ekonomi Ekstraktif

    09/1/2026 05:00

    VENEZUELA kembali menjadi sorotan dunia. Kali ini bukan semata karena krisis ekonomi yang tak kunjung usai

  • Maduro dan Silfester

    08/1/2026 05:00

    APA hubungannya Nicolas Maduro dan Silfester Matutina? Tidak ada. Teman bukan, saudara apalagi.

  • Negara Bahagia

    07/1/2026 05:00

    INI cerita tentang Indonesia yang barangkali membahagiakan, tapi juga sekaligus bisa menjadi peringatan.

  • Angka Lima

    06/1/2026 05:00

    ANGKA lima seolah 'ditakdirkan' melekat dalam 'tubuh' negeri ini pada satu dekade terakhir.

  • Demokrasi Donat Pilkada tanpa Rakyat

    05/1/2026 05:00

    SEPERTI kue donat yang berlubang di tengah. Begitulah demokrasi negeri ini akan tampak jika pemilihan gubernur, bupati, dan wali kota dikembalikan kepada DPRD.