Headline
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Kumpulan Berita DPR RI
SALAH satu gaya berkampanye calon presiden (capres) nomor urut 1 Anies Baswedan belakangan viral di sejumlah platform media sosial. Desak Anies, tajuk kegiatan kampanye itu, beberapa kali memuncaki trending topic di platform X. Potongan maupun video utuh dari agenda Desak Anies di sejumlah daerah juga ditonton jutaan pemirsa di Youtube.
Orang banyak tertarik sekaligus mengapresiasi Desak Anies karena menganggap itu sebagai model kampanye tatap muka yang memang sudah seharusnya dilakukan calon pemimpin. Ada tanya jawab aktif. Ada dialog yang intens dan langsung antara publik dan kandidat pemimpin. Bukan sekadar model cerdas cermat dengan daftar pertanyaan yang normatif.
Desak Anies juga banyak dipuji karena konsep kampanyenya yang bersifat inklusif. Peserta kampanye tidak eksklusif hanya pendukung atau simpatisan. Semua orang boleh ikut bergabung. Bahkan mereka juga bisa ikut mengajukan pertanyaan secara terbuka kepada narasumber. Pendeknya, siapa pun boleh tanya apa pun.
Dalam salah satu episode Desak Anies yang berlangsung di Mataram, NTB, misalnya, salah seorang penanya bahkan wisatawan bule. Ia bertanya soal gagasan Anies tentang pengembangan pariwisata Indonesia selain hanya berfokus ke Bali. Lalu, saat Desak Anies di Lampung, ada satu peserta yang mengenakan kaus bergambar capres lain, entah dia pendukung capres tersebut atau sekadar memakai kausnya, juga diberi kesempatan untuk bertanya.
Tidak cuma yang sulit, pertanyaan yang sensitif--anak sekarang menyebutnya pertanyaan 'pinggir jurang'--juga bebas dilontarkan, dan mesti dijawab saat itu pula oleh Anies sebagai narasumber tunggal.
Pada episode Total Politik X Desak Anies di Jakarta, yang sebagian besar pesertanya anak muda yang belum menentukan pilihan dan berpotensi golput, pertanyaan yang muncul lebih ‘ngeri-ngeri’ lagi. Anies ditanya tentang sikap dan pandangannya antara lain terkait dengan SKB 2 menteri tentang pendirian rumah ibadah, soal komunitas LGBT, soal ganja untuk kebutuhan medis, dan bagaimana dia bakal menyusun kabinet saat berkuasa nanti.
Dengan begitu, rasanya tidak ada yang bakal menyanggah bahwa kampanye model seperti ini punya risiko tinggi. Si kandidat harus siap dikuliti. Ia mesti siap didesak, dicecar pertanyaan apa saja. Salah jawab sedikit saja, boleh jadi akan berbalik menjadi serangan, dijadikan sasaran tembak oleh lawan-lawan politiknya.
Risiko lainnya ialah bila si narasumber sedari awal memang tak punya bekal pemikiran dan gagasan yang kuat untuk menjawab rupa-rupa pertanyaan yang muncul. Zonk. Bila itu terjadi, publik serta-merta bakal mempermalukannya. Barangkali, faktor risiko tinggi inilah yang membuat capres-capres lain di Pemilu 2024 maupun pemilu-pemilu sebelumnya tak berani melakukannya.
Namun, di antara yang memuji dan mengapresiasi, tidak sedikit pula yang skeptis memandang Desak Anies. Bagi mereka, konsep kampanye yang diklaim mencerdaskan dan substantif seperti ini tidak cocok untuk menggaet suara dari akar rumput yang sehari-hari masih disibukkan dengan urusan perut dan gampang terbuai jogetan biduan dangdut.
Ada pula yang nyinyir, kampanye dialogis terbuka semacam ini hanya cocok dilakukan oleh capres yang cuma pandai berkata-kata tapi tak cakap bekerja. Pada akhirnya kampanye model apa pun, kata mereka, hanya menjadi wadah menumpuk janji yang belum tentu dapat terealisasi.
Terlepas dari pendapat siapa yang paling benar, munculnya Desak Anies telah menjadi fenomena baru dalam jagat demokrasi Indonesia. Dengan pemilih Pemilu 2024 yang bakal didominasi anak muda, pendekatan kampanye dialogis yang membuka ruang seluas-luasnya bagi partisipasi publik memang menjadi keniscayaan.
Anak-anak muda yang semakin kritis, yang memiliki kegelisahan tinggi terhadap isu-isu kebangsaan, butuh alasan sebelum menentukan pilihan. Orang muda tak mau mengandalkan kultus individu. Mereka juga sudah terlalu jijik dengan gaya kampanye gimik. Yang dibutuhkan ialah gagasan yang mampu menjawab keresahan sebagai anak bangsa.
Kiranya Republik ini akan tercerahkan bila di tahap kampanye pemilu seperti ini, publik dibukakan pintu lebar-lebar untuk mendesak para capres. Pada hakikatnya, capres memang harus didesak. Jangan biarkan mereka mendapat cek kosong. Publiklah yang mestinya mengisi cek itu.
Saya jadi membayangkan, sepertinya bakal seru kalau Desak Anies atau Slepet Imin pada ujungnya memancing program serupa dari paslon lain. Namanya bisa apa saja. Mungkin Pepet Prabowo, Hajar Ganjar, Tekan Gibran, Nyundul Mahfud, atau apa pun. Yang penting spiritnya sama: gelorakan kampanye dialogis yang substantif dan mencerdaskan. Bukan kampanye yang sekadar orasi dan joget-joget sambil bagi-bagi fulus.
SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan
PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik.
"SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."
SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.
MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.
LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.
ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.
DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.
DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.
SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan
TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.
LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.
'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)
JUDI online (judol) sejatinya bukanlah sebuah permainan keberuntungan. Ia barangkali salah satu mesin penipu paling canggih yang pernah diciptakan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved