Headline

Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.

Musim Menumpuk Janji

Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group
13/12/2023 05:00
Musim Menumpuk Janji
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

JANJI itu utang. Al wa'du dainun, begitu kalimat dalam bahasa Arab yang kerap disebut sebagai hadis. Sebagian menyebut itu hadis lemah, atau dhoif.

Namun, yang jelas, di Kitab Suci disebutkan bahwa janji itu harus dipenuhi. Persisnya secara teks berbunyi: 'Dan penuhilah janji. Sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungjawabannya'.

Di kalangan masyarakat religius yang menjunjung tinggi ajaran agama, mestinya ketaatan memenuhi janji tidak bisa ditawar-tawar lagi karena ia tertera di Kitab Suci. Jadi, bila tanpa sebab darurat yang bisa dimaklumi argumentasinya, janji tetaplah utang yang wajib dilunasi.

Namun, publik di negeri yang religius ini seperti sudah terbiasa disuguhi janji-janji yang gagal dipenuhi. Banyak pula kalimat sindiran atas ketidakmampuan melunasi janji itu hidup di kalangan masyarakat.

Ada yang bilang 'lidah memang tidak bertulang'. Ada pula yang bilang, 'setinggi gunung seribu janji', 'ojo ming lamis (jangan sekadar obral janji)', hingga kalimat, 'betapa banyak kata tak berjawab, janji yang tidak dilunasi'. Ada pula yang bilang 'esuk dhele, sore tempe (pagi kedelai sore tempe)' untuk menggambarkan orang yang plin-plan.

Kalimat tersebut memang sebanyak janji yang terapung dan tidak sedikit dari janji itu yang tidak sanggup dilunasi. Apalagi janji politik untuk menghadirkan keadilan, rasa aman, kemakmuran, kemudahan mendapatkan pekerjaan, perbaikan taraf hidup, dan sejenisnya yang mudah menguar, tapi sekaligus gampang menguap.

Bulan-bulan ini hingga awal Februari 2024 ialah hari menumpuk utang, yakni utang janji. Melalui kampanye, debat, hingga gimik politik menjelang Pemilu 2024 muncul tumpukan utang janji yang harusnya bisa dilunasi dalam satu periode pemilu lima tahun ke depan.

Bila janji-janji itu dibiarkan mengonggok dari waktu ke waktu, rakyat bisa kian sesak napas tertimbun oleh janji. Negeri ini akan disesaki inflasi utang janji, tapi defisit melunasi janji. Dari waktu ke waktu, kemiskinan ekstrem yang dijanjikan saat kampanye bakal hilang dari Bumi Pertiwi pada faktanya masih jadi masalah yang membelit hingga kini.

Janji menghadirkan pekerjaan seluas-luasnya, tapi yang muncul pengangguran masih ada di mana-mana. Pekerjaan formal kian susah didapat sehingga orang berduyun-duyun berebut pekerjaan informal. Bahkan, sesungguhnya sebagian mereka setengah menganggur.

Janji memangkas ketimpangan, justru yang muncul kelompok rentan yang kian menjulang. Angka kemiskinan memang turun, tapi mereka hanya setengah naik kelas. Mereka hanya sedikit beringsut ke level rentan miskin. Karena rentan, sedikit saja ada gejolak kenaikan harga kebutuhan pokok, mereka langsung turun kelas ke miskin lagi.

Di sisi bersamaan, penguasaan aset oleh kelompok yang amat sedikit masih tinggi. Berdasarkan sejumlah data terungkap hanya 1% penduduk tapi menguasai 39% aset. Yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin.

Ada janji siap menjunjung tinggi demokrasi, tapi kian bertambah orang takut berekspresi. Dalam kebebasan menyatakan pendapat ada tanda-tanda dihambat. Orang bersuara kritis malah diintimidasi. Karena takut dijerat dengan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik, banyak warganet menyebut Indonesia sebagai negeri Konoha dan Wakanda saat mengkritik ketidakberesan di negeri ini. Alih-alih mendapatkan perlindungan, rakyat justru merasa terancam.

Biar tidak makin menimbun utang janji, para kandidat pemimpin di negeri ini mestinya ingat pada janji kemerdekaan. Setidaknya ada dua janji kemerdekaan yang mesti terus-menerus ditagih karena tidak kunjung tuntas dibereskan. Kedua janji itu ialah melindungi segenap tumpah darah Indonesia dan memajukan kesejahteraan umum.

Melindungi tumpah darah itu berarti menghadirkan rasa aman, melindungi kekayaan negeri ini dari para penjarah baik dari dalam maupun luar, menghadirkan keadilan dan kesetaraan. Memajukan kesejahteraan umum itu artinya membabat habis kemiskinan, menghadirkan pekerjaan, meniadakan ketimpangan.

Karena itu, lunasi janji-janji kemerdekaan. Silakan bikin janji, tapi beri tahu rakyat tentang bagaimana pelunasan janji-janji itu dilakukan. Yakinkan kami, rakyat ini, bahwa janji-janji itu memang realistis untuk dijalankan, bukan bualan.

Jangan biarkan janji menggantung seperti lagu tempo doeloe yang dipopulerkan Tuty Subardjo: 'Janjimu yang kunantikan siang malam selalu. Janjimu yang kunantikan, mungkinkah kau lupakan?'.



Berita Lainnya
  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.

  • Melindungi Konsumen

    06/2/2026 05:00

    LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.

  • Duka Ngada Aib Negara

    05/2/2026 05:00

    'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)

  • Tipu Daya Judol

    04/2/2026 05:00

    JUDI online (judol) sejatinya bukanlah sebuah permainan keberuntungan. Ia barangkali salah satu mesin penipu paling canggih yang pernah diciptakan.

  • Tuas Rem Trump-Khamenei

    03/2/2026 05:00

    DUNIA kembali berdiri di bibir jurang.