Headline

Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.  

Tragedi Jagakarsa

Ade Alawi Dewan Redaksi Media Group
12/12/2023 05:00
Tragedi Jagakarsa
Ade Alawi Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

AWAN mendung menggelayuti bumi Indonesia di penghujung tahun 2023. Kekerasan demi kekerasan tak kunjung mereda. Bahkan, semakin menjadi-jadi. Kekerasan hingga menghilangkan nyawa, tidak hanya menimpa orang di luar relasi utama, tetapi juga di keluarga sendiri, darah dagingnya sendiri.

Terbaru ialah kasus seorang ayah, PD, 41, diduga membunuh keempat anaknya di kamar kontrakan Gang Haji Roman, Jagakarsa, Jakarta Selatan, dengan cara dibekap satu-satu sampai mereka menghembuskan napas terakhir.

Sang ayah durjana sebelumnya melakukan aksi kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) kepada istrinya yang sampai saat ini masih dirawat di sebuah rumah sakit. Sang ayah pun kini masih dirawat di sebuah rumah sakit karena percobaan bunuh diri.

Penyidik Polres Metro Jakarta Selatan hendaknya mengungkap kasus kekerasan yang fenomenal itu secara menyeluruh. Artinya, tidak sekadar tindak pidana menghilangkan nyawa, pembunuhan berencana, dengan Pasal 380 jo Pasal 340 KUHP dengan ancaman hukuman penjara seumur hidup, tetapi akar masalah terjadi tindakan sadis tersebut.

Dengan demikian, masyarakat bisa mengambil pelajaran dari kasus tersebut sehingga tidak terjadi lagi di kemudian hari. Pasalnya, kekerasan demi kekerasan meluas belakangan, tak hanya di kota-kota besar, tetapi sudah menyeruak ke pelosok desa.

Para pelaku seperti tak ada jalan keluar sehingga menyelesaikan masalah dengan melenyapkan jiwa orang lain. Kekerasan yang di luar naral ialah terhadap darah daging sendiri. Melihat fakta itu berarti tak berlaku peribahasa lawas bahwa sebuas-buas harimau tak akan memangsa anaknya sendiri. Namun, faktanya manusia bisa melampaui perilaku hewan terkait kekerasan yang dilakukan terhadap anak kandungnya sendiri.

Data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen-PPPA) menunjukkan, dalam periode 1 Januari-11 Desember 2023 terjadi aksi kekerasan sebanyak 25.927 kasus se-Indonesia. Angka tersebut merupakan jumlah kasus real time pada periode pembaruan data pukul 14.45 WIB.

Data dihimpun melalui Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (Simfoni PPA).

Dari seluruh kasus kekerasan tersebut, 22.790 orang korban merupakan perempuan, dan 5.387 korban berjenis kelamin laki-laki. Adapun berdasarkan usianya, korban kekerasan di Indonesia didominasi oleh kelompok usia 13-17 tahun (38%), usia 25-44 tahun (25,5%), dan usia 6-12 (18,1%). Jenis kekerasan yang paling banyak dialami korban berupa kekerasan seksual, yaitu sebanyak 11.455, diikuti kekerasan fisik 8.860 kasus, dan kekerasan psikis 7.971 kasus.

Data Kemen-PPPA menemukan pelaku kekerasan justru lebih banyak dari lingkaran terdekat, utamanya pasangan korban sendiri. Pertama, pacar atau teman dengan 4.832 pelaku. Kedua, suami atau istri dengan 4.274 pelaku. Ketiga, pelaku lainnya (3.160), dan keempat orangtua dengan 2.981 pelaku.

Jika dilihat dari provinsinya, jumlah kekerasan paling tinggi terjadi di Jawa Barat, yaitu 2.225 kasus, Jawa Timur (2.116 kasus), dan Jawa Tengah (1.988 kasus).

Meningkatnya kasus kekerasan di masyarakat patut diduga kondisi kesehatan mental (mental health) yang sakit. Menurut WHO, kesehatan mental ialah kondisi sejahtera seseorang, ketika seseorang menyadari kemampuan dirinya, mampu untuk mengelola stres yang dimiliki serta beradaptasi dengan baik, dapat bekerja secara produktif, dan berkontribusi untuk lingkungannya.

Penanganan merebaknya kekerasan (sadisme) di masyarakat tidak hanya bisa dilakukan dengan penegakan hukum (law enforcement). Lebih-lebih penegakan hukum tidak menjamin memberikan keadilan, kepastian hukum, dan kemanfaatan bagi masyarakat.

Alhasil, upaya pencegahan secara sosiologis dengan memperkuat kohesi sosial, saling menghargai, saling membantu, gotong royong, dan meningkatkan toleransi. Kesemuanya bisa dilakukan dengan meningkatkan sikap kritis (critical thinking) di sekolah, membangun nalar masyarakat, dan menjauhi korupsi.

Teladan para pemimpin, baik formal maupun informal di tengah budaya paternalistik memiliki kontribusi hadirnya masyarakat yang sehat. Indonesia memang masih sangat jauh sebagai negara yang paling membahagiakan rakyatnya. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) merilis World Happiness Report atau laporan kebahagiaan penduduk dunia sepanjang 2022. Laporan ini merupakan hasil dari survei global yang dilakukan kepada masyarakat di 150 negara. Indonesia menduduki peringkat ke-80 sebagai negara paling bahagia di dunia.

Setiap warga sebenarnya bisa memberikan kepeloporan dalam kebaikan. Tragedi Jagakarsa dan tragedi kehidupan lainnya jangan terulangi lagi.

“Cobalah untuk tidak menjadi orang sukses, tetapi mencoba menjadi orang yang berharga,” kata Albert Einstein, fisikawan, penemu teori relativitas. Tabik!



Berita Lainnya
  • Mudarat Paling Kecil

    27/1/2026 05:00

    RENCANA bergabungnya Indonesia dalam Board of Peace yang digagas oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk 'pembangunan kembali Gaza' segera memantik pro dan kontra.

  • Pengawas Mati, Korupsi Tumbuh

    26/1/2026 05:00

    KEGAGALAN aparat pengawasan intern pemerintah (APIP) ialah fakta berulang, bukan lagi dugaan.

  • Rupiah Vs IHSG

    23/1/2026 05:00

    ADA yang ganjil di pasar keuangan kita. Rupiah terkapar, bahkan menyentuh di kisaran 17 ribu per US$, level terendah sepanjang sejarah.

  • OTT Tepat Waktu

    22/1/2026 05:00

    BUPATI Pati, Jawa Tengah, Sudewo kembali menjadi atensi. Dia ditangkap tangkap oleh KPK karena diduga jual beli jabatan. OTT itu terjadi pada waktu yang tepat, sangat tepat.

  • Pesta Elite, Nestapa Rakyat

    21/1/2026 05:00

    REPUBLIK ini kiranya sedang berada dalam situasi kontradiksi yang meresahkan. Kontradiksi itu tersaji secara gamblang di lapisan-lapisan piramida sosial penduduk. 

  • Vietnam Melaju Kencang

    20/1/2026 05:00

    KITA tidak harus paling benar, yang penting paling berhasil. Itulah filosofi Vietnam.

  • Suara Profesor 15 Januari

    19/1/2026 05:00

    SEJARAH Republik ini mencatat 15 Januari sebagai tanggal yang tidak netral. Pada hari itulah suara mahasiswa pernah mengguncang kekuasaan.

  • Setan pun Minder

    15/1/2026 05:00

    INDONESIA memang negeri yang kaya. Kaya sumber daya alam, kaya budaya, dan kiranya juga kaya kreativitas kejahatannya, termasuk korupsi.

  • Regenerasi Koruptor

    14/1/2026 05:00

    Ya, mereka memang terkenal pada zaman masing-masing. Terkenal karena berkasus rasuah.

  • Angka Tiga

    13/1/2026 05:00

    PEMERINTAH tampaknya kembali menarik napas lega. Defisit APBN 2025 memang melebar, tetapi masih di bawah ambang sakral 3% dari produk domestik bruto (PDB).

  • Burung Diadili, Bencana Dibiarkan

    12/1/2026 05:00

    PENGADILAN Negeri Situbondo, Jawa Timur, punya cerita. Penegakan hukum di sana dikenal sangat tajam, terutama kepada mereka yang lemah

  • Kutukan Ekonomi Ekstraktif

    09/1/2026 05:00

    VENEZUELA kembali menjadi sorotan dunia. Kali ini bukan semata karena krisis ekonomi yang tak kunjung usai

  • Maduro dan Silfester

    08/1/2026 05:00

    APA hubungannya Nicolas Maduro dan Silfester Matutina? Tidak ada. Teman bukan, saudara apalagi.

  • Negara Bahagia

    07/1/2026 05:00

    INI cerita tentang Indonesia yang barangkali membahagiakan, tapi juga sekaligus bisa menjadi peringatan.

  • Angka Lima

    06/1/2026 05:00

    ANGKA lima seolah 'ditakdirkan' melekat dalam 'tubuh' negeri ini pada satu dekade terakhir.

  • Demokrasi Donat Pilkada tanpa Rakyat

    05/1/2026 05:00

    SEPERTI kue donat yang berlubang di tengah. Begitulah demokrasi negeri ini akan tampak jika pemilihan gubernur, bupati, dan wali kota dikembalikan kepada DPRD.