Headline
Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.
Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.
Kumpulan Berita DPR RI
APA kabar tiyang alit (orang kecil)? Sudah sejahtera, masih begitu-begitu saja, atau makin miris saja? Pertanyaan itu kiranya perlu disampaikan karena di berbagai forum, pemerintah menyebut bahwa meskipun dunia dilanda ketidakpastian ekonomi, Indonesia masih punya daya tahan.
Ekonomi Indonesia, kata sejumlah pejabat, sedang bagus-bagusnya. Presiden Joko Widodo pernah menyebut dirinya bangga karena pertumbuhan ekonomi Indonesia terjaga di kisaran 5% secara beruntun sejak kuartal IV 2021 sebesar 5,02% hingga kuartal II 2023 sebesar 5,17%. Inflasi juga dianggap tetap berada di level yang terjaga.
Namun, kondisi ekonomi yang diklaim pemerintah sangat baik itu, apakah dirasakan semua lapisan masyarakat? Itulah mengapa pertanyaan tentang kabar orang kecil, yang merupakan lapisan paling rentan terhadap guncangan ekonomi, amat layak diapungkan. Bila kita membaca data statistik, jelas belaka bahwa si kecil kini makin sesak napas.
Gaji yang mandek di tengah harga kebutuhan pokok yang merangkak naik membuat sebagian warga kita terpaksa menggunakan tabungan untuk memenuhi kebutuhan harian. Banyak pekerja ojol (ojek online) pun terjerat pinjol (pinjaman online). Gali lubang tutup lubang pun jadi pemandangan lumrah.
Kondisi tabungan masyarakat yang sedang sesak napas itu tecermin dalam survei yang dilakukan Bank Indonesia pada Oktober 2023. Data Survei Konsumen dari Bank Indonesia per Oktober 2023 menunjukkan banyak warga Indonesia yang harus menggunakan tabungan mereka untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. BI mencatat rasio tabungan terhadap pendapatan per Oktober 2023 turun jauh jika dibandingkan dengan posisi sebelum pandemi covid-19, atau Oktober 2019.
Pada Oktober lalu, rasio simpanan terhadap pendapatan masyarakat Indonesia sebesar 15,7%. Sementara itu, pengeluaran dan pembayaran cicilan naik menjadi 76,3% dan 8,8%. Coba kita bandingkan dengan kondisi pada bulan yang sama pada 2019. Saat itu, rasio simpanan terhadap pengeluaran masyarakat di Tanah Air masih jauh lebih besar, yakni 19,8%. Pasalnya pengeluaran dan pembayaran cicilan pada periode itu sebesar 68% dan 12,2%.
Berdasarkan data BI, kelompok masyarakat dengan pendapatan Rp4,1 juta hingga Rp5 juta mengalami penurunan rasio simpanan terhadap pendapatan paling dalam, atau sebesar 460 basis poin (bps). Kemudian disusul kelompok pendapatan Rp2,1 juta hingga Rp3 juta, yang merosot menjadi 400 bps.
Data yang dirilis BI tentang tabungan itu mengonfirmasi fenomena masyarakat menggunakan tabungan mereka untuk memenuhi kebutuhan hidup harian. Ada penurunan pendapatan sehingga porsi tabungan harus diambil untuk menutupi kebutuhan. Apalagi, harga kebutuhan pokok masih setia di level yang tidak sepenuhnya bisa dijangkau. Karena itu, untuk menjangkaunya, ya dengan mantab alias makan tabungan.
Pemerintah dan BI memang berhasil membuat inflasi tetap terjaga. Namun, tidak semua bisa menghadapi. Rakyat kecil yang rentan inflasi pasti dibuat roboh oleh naiknya harga-harga. Sejumlah analis ekonomi mengatakan purchasing power atau daya beli mulai melemah, terutama pada kuartal II, III, dan IV. Selepas covid-19, perekonomian memang mulai bangkit. Namun, bentuknya seperti huruf 'K' (K-shape recovery), ada yang naik, ada yang turun.
Sayangnya, antara yang naik dan yang turun jomplang. Jumlah yang naik terlampau sedikit ketimbang yang turun. Itu menandakan kesenjangan ekonomi makin parah. Golongan masyarakat yang menggunakan tabungan mereka untuk kebutuhan hidup sehari-hari ialah menengah dan bawah. Golongan atas masih gemar menabung.
Simpanan kelas atas terkaya, yaitu simpanan di perbankan dengan nominal di atas Rp5 miliar, mulai September 2022 hingga September 2023 tumbuh 7,25%. Pada periode September 2021-September 2022, pertumbuhan tabungan golongan masyarakat itu bahkan lebih tinggi, mencapai 8,79%.
Sebaliknya simpanan kelas bawah dan menengah, yaitu simpanan di perbankan untuk kelompok tabungan dengan nominal di bawah Rp100 juta, sejak September 2022 hingga September 2023, hanya tumbuh 3,03%. Setahun sebelumnya, mulai September 2021 hingga September 2022, tabungan golongan bawah dan menengah hanya 3,33%.
Rata-rata tabungan kelas atas terus meningkat dari Rp31,5 miliar per rekening pada September 2021 menjadi Rp31,7 miliar pada September 2022 dan kini menjadi Rp32,5 miliar per rekening pada September 2023. Sebaliknya rata-rata simpanan kelas bawah dan menengah semakin menurun, dari Rp2,6 juta per rekening pada September 2021 menjadi Rp2,0 juta pada September 2022 dan kini menjadi Rp1,9 juta per rekening pada September 2023.
Pertumbuhan kekayaan kelas atas yang jauh lebih tinggi daripada kelas bawah dan menengah itu mengindikasikan bahwa pemulihan ekonomi pascapandemi memiliki tendensi menciptakan kesenjangan yang semakin lebar. Masih benar belaka kata Rhoma Irama, bahwa 'Yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin'.
Kenyataan itu mestinya jadi menu utama yang diperdebatkan para capres dan cawapres, bahkan para caleg. Menyelamatkan tiyang alit dari jepitan keras kondisi ekonomi tidak mungkin hanya dengan joget dan obral gimik. Para kandidat mesti punya rumusan dan solusi yang dipertarungkan lewat debat.
RENCANA bergabungnya Indonesia dalam Board of Peace yang digagas oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk 'pembangunan kembali Gaza' segera memantik pro dan kontra.
KEGAGALAN aparat pengawasan intern pemerintah (APIP) ialah fakta berulang, bukan lagi dugaan.
ADA yang ganjil di pasar keuangan kita. Rupiah terkapar, bahkan menyentuh di kisaran 17 ribu per US$, level terendah sepanjang sejarah.
BUPATI Pati, Jawa Tengah, Sudewo kembali menjadi atensi. Dia ditangkap tangkap oleh KPK karena diduga jual beli jabatan. OTT itu terjadi pada waktu yang tepat, sangat tepat.
REPUBLIK ini kiranya sedang berada dalam situasi kontradiksi yang meresahkan. Kontradiksi itu tersaji secara gamblang di lapisan-lapisan piramida sosial penduduk.
KITA tidak harus paling benar, yang penting paling berhasil. Itulah filosofi Vietnam.
SEJARAH Republik ini mencatat 15 Januari sebagai tanggal yang tidak netral. Pada hari itulah suara mahasiswa pernah mengguncang kekuasaan.
INDONESIA memang negeri yang kaya. Kaya sumber daya alam, kaya budaya, dan kiranya juga kaya kreativitas kejahatannya, termasuk korupsi.
Ya, mereka memang terkenal pada zaman masing-masing. Terkenal karena berkasus rasuah.
PEMERINTAH tampaknya kembali menarik napas lega. Defisit APBN 2025 memang melebar, tetapi masih di bawah ambang sakral 3% dari produk domestik bruto (PDB).
PENGADILAN Negeri Situbondo, Jawa Timur, punya cerita. Penegakan hukum di sana dikenal sangat tajam, terutama kepada mereka yang lemah
VENEZUELA kembali menjadi sorotan dunia. Kali ini bukan semata karena krisis ekonomi yang tak kunjung usai
APA hubungannya Nicolas Maduro dan Silfester Matutina? Tidak ada. Teman bukan, saudara apalagi.
INI cerita tentang Indonesia yang barangkali membahagiakan, tapi juga sekaligus bisa menjadi peringatan.
ANGKA lima seolah 'ditakdirkan' melekat dalam 'tubuh' negeri ini pada satu dekade terakhir.
SEPERTI kue donat yang berlubang di tengah. Begitulah demokrasi negeri ini akan tampak jika pemilihan gubernur, bupati, dan wali kota dikembalikan kepada DPRD.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved