Headline

Polisi harus usut tuntas hingga ke aktor intelektualnya.

Rupiah, Oh Rupiah...

Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group
26/10/2022 05:00
Rupiah, Oh Rupiah...
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

BAYANGAN krisis ekonomi kian terlihat nyata. Tengoklah nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang kian merosot sepanjang Oktober 2022. Kurs rupiah bahkan sempat menyentuh 15.610 per dolar AS, menjadikannya nilai terendah dalam hampir tiga tahun terakhir.

Sejumlah analis bahkan mencemaskan nilai tukar rupiah bisa merosot ke angka psikologis 16.000 per dolar AS. Mengapa 16.000 dikategorikan angka psikologis? Karena di kisaran angka itulah nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berada di titik paling rendah.

Saat krisis moneter 1998 terjadi, rupiah terempas hingga mencapai 16.800 per dolar AS. Padahal, beberapa bulan sebelumnya nilai tukar rupiah masih di kisaran 2.500 per dolar AS. Angka psikologis itulah yang kini tengah dituju kendati lonjakannya tidak sedahsyat 24 tahun lalu.

Ada sejumlah sebab mengapa dolar AS terus menguat sehingga rupiah terus melemah. Namun, pemicu utama pelemahan rupiah ialah bank sentral AS (The Fed) yang sangat agresif menaikkan suku bunga. Sepanjang tahun ini kenaikannya sebesar 300 basis poin (bps), menjadi 3%-3,25% dan masih akan terus berlanjut. Selama 2022, The Fed telah lima kali menaikkan suku bunga acuannya. Pada Juni, Juli, dan September, kenaikannya masing-masing 75 bps.

Keagresifan The Fed menaikkan suku bunga acuan di tahun ini membuat selisih suku bunga acuan Bank Indonesia dan AS semakin tipis. Pasalnya, BI baru dua kali menaikkan suku bunga acuan dengan total 75 bps sepanjang 2022 menjadi 4,25%. Selisih suku bunga acuan antara BI dan The Fed yang semakin tipis ini jelas tidak menguntungkan bagi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Bila suku bunga acuan AS sama dengan suku bunga BI, tentu pelaku pasar akan lebih memilih aset dolar AS daripada aset rupiah. Mengapa? Karena status aman dari aset dolar AS yang lebih terjamin. Penaikan suku bunga membuat aset dalam bentuk dolar AS semakin menarik, plus ditambah statusnya sebagai safe-haven assets (aset paling aman) membuat dolar AS diburu oleh investor seluruh dunia. Ini jelas tantangan berat bagi mata uang kita.

Apalagi, pada November nanti, The Fed yang notabene merupakan bank sentral paling powerful di dunia diperkirakan akan menaikkan lagi suku bunga acuan sebesar 75 basis poin menjadi 3,75%-4%. Tidak cukup sampai di situ, penaikan masih akan terus dilakukan hingga awal tahun depan. Berdasarkan data dari perangkat FedWatch milik CME Group, pasar melihat suku bunga The Fed akan berada di level 4,75%-5% pada Februari 2023.

Dengan agresivitas tersebut, indeks dolar AS terus meroket hingga menyentuh level tertinggi dalam 20 tahun terakhir. Indeks ini merupakan tolok ukur kekuatan dolar AS. Semakin tinggi indeks artinya semakin perkasa mata uang itu.

Alhasil, terjadilah capital outflow secara masif di pasar obligasi. Situasi itu bisa dirunut berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Pengelolaan dan Pembiayaan Risiko yang menunjukkan sepanjang tahun ini hingga 17 Oktober, investor asing menarik dananya dari pasar obligasi sekitar Rp166 triliun. Dalam kondisi seperti itu, rupiah akan makin kesulitan untuk menguat.

Lalu, apa akibatnya bila dolar AS makin perkasa sehingga rupiah kian ndlosor? Selalu ada dampak positif dan negatif. Namun, untuk kondisi saat ini, dampak negatif akibat penguatan dolar AS dan pelemahan rupiah tersebut jauh lebih besar ketimbang efek positifnya.

Efek positif datang dari barang ekspor, seperti komoditas dan energi. Namun, itu tidak seberapa jika dibandingkan dengan efek inflasi bahan impor (imported inflation), yakni jenis inflasi akibat efek perubahan nilai tukar yang disebabkan oleh kenaikan harga barang impor.

Gara-gara rupiah terkulai, semua harga barang, terutama barang impor seperti kedelai untuk tahu dan tempe, mesin pabrik, hingga ponsel dan laptop, menjadi lebih mahal. Komoditas kedelai, misalnya. Indonesia mengimpor hampir 3 juta ton kedelai.

Sebanyak 86% dari total angka impor tersebut berasal dari AS. Jadilah harga produk turunan kedelai, seperti tahu dan tempe, bakal terdongkrak. Juga harga produk lain seperti gandum, daging, dan bahan baku yang diimpor akan naik mengikuti kurs dolar AS. Jika tidak dimitigasi, inflasi akibat harga pangan sulit terkendali.

Dalam kondisi seperti itu, mengerem menggunakan mata uang dolar AS merupakan langkah bijak. Langkah lain yang bisa dilakukan ialah mengupayakan transaksi dagang dengan tidak melulu menggunakan mata uang dolar AS. Atau, bisa pula menggiatkan barter barang dalam transaksi dagang tersebut.

Sama seperti saat krisis moneter pada 1998, langkah mendatangkan investasi ke berbagai daerah dan menggenjot potensi pariwisata di destinasi yang beragam akan membuat aliran kembali dolar AS ke Indonesia bisa diupayakan. Upaya penaikan suku bunga oleh BI masih memungkinkan dilakukan, tapi sampai batas berapa? Jika kita ikuti genderang perang suku bunga, justru ancaman kemandekan ekonomi yang bakal terjadi.

Ekonomi dunia memang diperkirakan suram tahun depan. Ekonom Nouril Roubini alias Dr Doom (ekonom yang presisi dalam meramal krisis finansial 2008) memprediksi resesi akan menghantam AS pada akhir 2022, sebelum menyebar secara global tahun depan. Ia bahkan menyebut bahwa ini tidak akan menjadi resesi yang singkat dan dangkal. "Ini akan menjadi resesi yang parah, panjang, dan buruk," kata Roubini.

Dr Doom mengatakan dunia akan menuju kebangkrutan besar-besaran dan krisis finansial yang berlarut-larut. Kini, sinyal terang itu makin benderang saat nilai tukar terus terguncang. Meskipun demikian, pesimisme bukan pilihan. Selalu ada jalan keluar jika mitigasinya benar. Semoga.



Berita Lainnya
  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

Opini
Kolom Pakar
BenihBaik