Headline

Kemantapan jalan nasional sudah mencapai 93,5%

Kanjuruhan

Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group
05/10/2022 05:00
Kanjuruhan
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

BUMI Kejuron lagi bersiap pesta akbar rakyat.

Raja Gajayana yang gagah perkasa hendak bermantu mulia.

Putri mahkota Uttajana nan jelita akan dipersunting Jananiya yang tampan rupawan.

Berharap kelak kejayaan Kanjuruhan abadi, aman sejahtera.

Candi agung Karang Besuki pun berhias indah.

Lambaian rerupa janur kuning berlomba mewarnai langit.

Terlihat Resi Agastya khidmad memunajatkan doa-doa kinasih.

Di kejauhan tampak pula ketenangan ramah alir Sungai Brantas yang berkilau jernih diterpa tatap mentari.

 

Penggalan bait-bait sajak berjudul Kanjuruhan Rikala Lalu itu ditulis Gunawan Wibisono, satu hari setelah tragedi di Stadion Kanjuruhan, Malang. Ia menuangkan kekagetannya itu melalui larik-larik puisi di laman blog Kompasiana.com.

Gunawan tidak mengira dari sebuah kampung istana Kanjuruhan yang pernah punya sejarah molek, indah, dan damai itu pekik kebencian menguar. Sumpah serapah bersabung dengan jeritan dari suporter klub sepak bola Arema. Pekik pilu itu dipicu lontaran gas air mata petugas keamanan yang berujung menjadi tragedi.

Di tempat yang sejuk itu, hawa panas meluap. Api amarah dari pendukung yang tidak terima tim kebanggaan mereka kalah di kandang, menjelma amuk massa. Aparat keamanan yang kebingungan menghalau massa, menyemburkan gas air mata. Lebih dari 130 orang pun meninggal dunia (berdasarkan data Postmortem Crisis Center). Ratusan orang lainnya terluka.

Air mata tumpah. Kepedihan tiada tara. Terasa hening, kosong. Semuanya menarik napas dalam-dalam. Semua menundukkan kepala. Semua merasa kalah dan bersalah. Lalu, secara bersama-sama bersepakat: tidak ada sepak bola setara nyawa manusia.

Di media sosial Bonek, suporter Persebaya Surabaya, yang terus-menerus disebut sebagai rival Aremania, ada yang menulis, 'Kalau nyawa manusia yang menjadi taruhannya, kami rela kalah. Turut berduka, tak ada kemenangan sepak bola seharga nyawa'.

Ada pula yang menulis, 'Kalau harus mengorbankan nyawa, kami ikhlas hidup tanpa sepak bola'. Semuanya tentang kepiluan. Tidak ada yang mendongak. Malu kepada diri sendiri. Malu karena tidak sanggup menjaga kehidupan. Menyesal dan meratapi sembari bertanya, 'Mengapa harus jatuh korban ratusan nyawa untuk mau kembali bergandengan tangan?'.

Saya jadi teringat sabda Nabi Muhammad, wa kafaa bil mauti wa idzho (dan cukuplah kematian sebagai pemberi nasihat). Kematian ratusan anak bangsa di Kanjuruhan jelas amat cukup sebagai nasihat, pelajaran tiada tara.

Pelajaran agar menjaga rivalitas yang sehat. Pelajaran agar ada efek jera untuk yang terbiasa mengajak dan menggerakkan amuk massa. Pelajaran agar merombak tata kelola. Pelajaran agar menghargai dan menjunjung tinggi nyawa manusia.

Bila peristiwa Kanjuruhan berlalu begitu saja, itu artinya kita tidak sungguh-sungguh belajar dari kematian. Jika tidak ada evaluasi dan revolusi, itu sama saja kita sudah mati. Raga lalu lalang, tapi jiwa dan pikiran melayang.

Belajarlah dari Inggris tentang cara menjinakkan hooligan (suporter sepak bola yang anarkistis) dengan membuat sistem penjeraan. Pascatragedi di lapangan Heysel, Brussel, Belgia, Inggris berbenah. Tragedi saat suporter Liverpool (hooligan) merangsek ke tribune suporter Juventus (tifosi) itu terjadi pada final Piala Champions Eropa 1985. Sebanyak 39 orang meninggal, lebih dari 600 orang menjadi korban.

Inggris lalu mendeklarasikan tidak ada tempat dan ruang bagi hooliganisme. Semua ditata. Ya, aparatnya, ya suporternya, ya federasinya, ya sistemnya. Siapa yang nekat menjadi hooligan, akan tercatat dalam metadata kenegaraan sebagai pembuat onar. Ia dilarang masuk stadion bertahun-tahun, bahkan bisa seumur hidup.

Bahkan, saat klub yang ia dukung sedang bertanding, sang hooligan tidak boleh ada di kota yang sama dengan tempat klub itu berlaga. Ia harus mengungsi. Itulah penjeraan dengan sistem. Itulah pelajaran. Hasilnya pun efektif. Sejak tragedi Heysel, semua berbenah.

Kita mestinya sanggup mereplikasi cara itu agar tidak ada lagi yang meninggal dunia. Cukup sudah. Cukuplah kematian sebagai pemberi nasihat. Duka amat mendalam untuk tragedi Kanjuruhan.



Berita Lainnya
  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.