Headline

Tradisi halal bi halal untuk menyempurnakan ibadah puasa Ramadan.

Menyudahi Konspirasi

Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group
08/5/2021 05:00
Menyudahi Konspirasi
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

MELIHAT kerumunan puluhan ribu orang di Pasar Tanah Abang, Jakarta, saat covid-19 masih merajalela membuat saya mengurut dada. Pula, saat membaca hasil survei Rekode Research Center yang menyebutkan bahwa 27,1% masyarakat nekat pulang kampung di periode larangan mudik pada 6-17 Mei, saya makin kehilangan kata-kata.

Bukankah penyebaran covid-19 masih jauh dari kata terkendali? Tidakkah kita menyaksikan angka kematian akibat korona masih di angka 200-an orang tiap hari? Apakah kita tak membaca bahwa varian baru covid-19, yaitu B117 asal Inggris, kemudian B1351 asal Afrika Selatan, dan varian mutasi ganda dari India B1617 telah memasuki kampung halaman kita? Tak mau tahukah kita bahwa varian baru tersebut punya daya tular 36% hingga 75% lebih dahsyat daripada virus lama?

Akan panjang daftar pertanyaan tersusun dari kata 'bukankah' lainnya, seperti bukankah aturan pembatasan sangat ketat? Bukankah pemerintah dari pusat hingga daerah sudah dibekali perangkat yang cukup untuk menindak para pembangkang? Bukankah fakta India telah benderang mengingatkan bahwa euforia pasti berujung petaka?

Tetap saja ada yang tidak percaya. Masih banyak saja yang nekat menantang bencana. Tidak sedikit yang meyakini ini semua konspirasi, rekayasa. Padahal, sejumlah penyintas covid-19 telah memberikan testimoni secara nyata. Termasuk mereka yang terkena virus korona hingga dua kali.

Saya menemukan testimoni Dian Islamiati Fatwa, putri AM Fatwa (almarhum), politikus PAN, yang diunggahnya di laman Facebook miliknya. Saat terkena covid-19 jilid I, Dian mengunggah kisah betapa menderitanya ia terkena virus yang telah bermutasi itu. Kini, ia kena lagi, membuat testimoni jilid II. Ia pun berkisah bagaimana ia makin menderita saat diserang virus korona kedua kalinya (semoga Dian kuat, cepat sembuh, dan menang).

Setelah panjang lebar menjelaskan bagaimana ia harus dipasangi beragam alat untuk memasukkan obat dan vitamin sebagai 'amunisi perang', pada kesimpulannya ia menulis, 'Oh pandemi covid, kau membuat sengsara. Seperti juga dengan kekuasaan, pandemi telah membuat sejarah panjang'.

Ia pun meneruskan, ‘Kekaisaran dan kerajaan menaklukkan wilayah, pandemi menaklukkan tubuh. Keduanya menyisakan misery berkepanjangan, ribuan orang menjadi korban, serta kehancuran sendi-sendi kemasyarakatan. Virus muncul di satu tempat liar, membunuh banyak manusia, namun kekebalan kemudian berkembang dan virus pandemi menjadi less lethal. Kok bisa ya, kekuasaan dan pandemi bisa baris-berbaris gitu melumpuhkan manusia’.

Cuplikan testimoni Dian itu menunjukkan begitu nyata dan gawatnya virus korona. Jauh melampaui apa yang dikira dan diyakini sebagian orang sebagai konspirasi. Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Ghebreyesus pernah mengingatkan bahwa ketika sains 'ditelan' teori konspirasi, virus akan menang. Tedros menyebut semakin subur teori konspirasi tumbuh, semakin luas virus akan menyebar.

 

Dia mengatakan bahwa banyak negara telah membuktikan dengan ilmu pengetahuan, solidaritas, dan pengorbanan covid-19 bisa dijinakkan dan dihentikan. "Tetapi ketika sains tenggelam oleh teori konspirasi, saat solidaritas dirusak perpecahan, ketika pengorbanan diganti dengan kepentingan pribadi, virus tumbuh subur, virus menyebar. Dunia membutuhkan kepemimpinan untuk mengakhiri pandemi dan membangun dunia pascapandemi," tegasnya dalam pidato pada Desember 2020.

Toh, tetap saja muncul penyangkal. Hasil survei yang dilakukan Spektrum Politika Institute pada September 2020 menyebutkan 39,9% masyarakat Sumatra Barat, yang dianggap memiliki pemikiran rasional dan terbuka, percaya covid-19 merupakan konspirasi negara-negara besar di dunia. Kepercayaan itu tidak hanya menunjukkan kaitannya dengan tingkat pendidikan, tetapi juga berkorelasi dengan tingkat kepatuhan masyarakat terhadap penerapan protokol kesehatan yang dinilai belum maksimal.

Kepercayaan masyarakat pada teori konspirasi sebenarnya ada di mana-mana, baik di negara-negara berkembang maupun negara-negara maju. Di Indonesia sendiri, masyarakat dalam jumlah yang cukup signifikan juga memercayai teori konspirasi tentang banyak hal dan isu, termasuk covid-19.

Di negara maju, seperti AS dan Inggris, sebagian warganya juga ternyata percaya teori konspirasi terkait dengan covid-19. Jajak di pengujung tahun lalu, misalnya, menunjukkan bahwa 28% warga ‘Negara Paman Sam’ itu percaya Bill Gates ingin menggunakan vaksin untuk menaruh chip ke tubuh orang-orang.

Tak hanya itu, para antivaksin pun akan menggunakan media sosial untuk mengajak orang-orang agar tidak melindungi diri mereka dari vaksin korona. Padahal, kurang apa negara itu dalam bidang pendidikan warga. Hal yang sama juga berlaku di negara maju lainnya, seperti Inggris, yang berdasarkan survei Mei 2020 menunjukkan seperlima orang dewasa di ‘Negeri Ratu Elizabeth’ itu meyakini covid-19 sebagai hoaks.

Sejumlah penelitian menunjukkan ada kaitan antara stres, keadaan mudah dipengaruhi, dan teori konspirasi. Ketika seseorang tak menguasai dirinya sepenuhnya, ketika mengalami stres, teori konspirasi akan menjadi masuk akal. Selain itu, semakin sering orang terkena terpaan teori konspirasi, semakin besar kemungkinannya percaya dengan teori konspirasi tersebut.

Apa yang terjadi di Pasar Tanah Abang dan nekatnya para pemudik kian mematangkan bahwa rasionalitas, sains, testimoni, juga ajakan ternyata masih majal untuk sebagian orang. Jangan-jangan mereka terhipnosis teori konspirasi bahwa virus ini sudah bisa diatasi karena memang penemu vaksin tak lain ialah penyebar virus itu sendiri. Untuk yang bandel seperti ini, jalan terbaik ialah 'gebuk' dengan sanksi agar minimal tak mencelakai orang lain.



Berita Lainnya
  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.