Rabu 13 Januari 2021, 05:00 WIB

Curiga Melulu Provokasi Kemudian

Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group | Editorial
Curiga Melulu Provokasi Kemudian

Dok.MI/Ebet
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group.

PANDEMI cenderung menghasilkan perilaku aneh. Guru besar bidang sejarah di Universitas Harvard, AS, Niall Campbell Ferguson menuliskan opininya itu dalam artikel berjudul America Will Achieve Herd Immunity to Trumpism. I Hope di portal berita Bloomberg.

Kata Ferguson, "Ingat, pandemi terkait dengan ekstremisme agama dan politik. Ketakutan akan penyakit, saling curiga, teori dukun, hipokondria, hiperskeptisisme, dan dislokasi mental umum yang disebabkan oleh jarak sosial, penguncian, dan pengangguran cenderung menghasilkan perilaku yang aneh."

Ia sebetulnya tidak sedang menulis tentang pandemi covid-19 di Amerika. Ia fokus mengutuk Presiden AS Donald Trump yang 'memprovokasi' pendukungnya untuk menolak sertifikasi kemenangan Joe Biden dalam Pemilihan Presiden AS yang dilakukan Senat di Gedung Capitol, tengah pekan lalu.

Namun, Ferguson mengingatkan bahaya provokasi di saat pandemi korona tengah mendaki di AS. Ia menyebut Trump sebagai demagog yang 'mencambuk' massa ke dalam semangat revolusioner sehingga menyerbu Capitol. Trump, tulis Ferguson, tidak hanya mengobrak-abrik massa. "Trump kemudian berkata bahwa dia 'mencintai' mereka atas apa yang telah mereka lakukan. Ini jelas melanggar sumpah jabatannya untuk memelihara, melindungi, dan membela Konstitusi Amerika Serikat," kata Ferguson.

Trump, lanjut mahaguru di Universitas New York itu, ialah seorang demagog dan calon tiran yang mengabaikan supremasi hukum serta mendorong hasutan dan pemberontakan. Ia mengajak pengikutnya untuk curiga, lalu 'melecutnya' sehingga bergerak untuk merusak demokrasi. Langkah seperti itu menunjukkan hilangnya kompas moral.

Hari ini, saat negeri ini memulai penyuntikan vaksin, sikap curiga dan provokasi juga mengiringi. Ada seorang yang mengaku berprofesi dokter mengunggah pernyataan menolak divaksin kalau bukan vaksin Merah Putih. Padahal, vaksin produksi dalam negeri itu ditargetkan baru siap uji klinis tahap pertama pada akhir 2021.

Dalam tulisan panjang di media sosial ia mengaku mendapat pertanyaan bertubi-tubi dari tenaga kesehatan soal bagaimana caranya menolak divaksin. Sang 'dokter' pun menyebut bahwa dirinya tak bisa memberikan saran untuk para penanya. Sembari mengatakan, 'saya tak mau memprovokasi orang lain', ia menyebutkan bahwa ia sendiri menolak divaksin (bahkan dengan todongan pistol sekalipun) kalau bukan vaksin Merah Putih.

Bahkan, seperti 'seruan Donald Trump', demi vaksin Merah Putih itu bila nanti ada, ia rela berisiko apa pun termasuk mati. Dia menyebut tidak memprovokasi, tapi dengan sadar menyatakan melalui tulisan yang provokatif dan mengunggah tulisan itu di ruang publik lewat medsos. Buat apa ia mengumbar pernyataan itu di Facebook kalau bukan untuk memengaruhi pengikutnya? Please deh.

Pas dengan tulisan Ferguson bahwa pandemi dengan segala tindakan turunan akibat itu cenderung membuat orang berperilaku aneh. Terhadap pandemi covid-19 yang lintas negara pun, ada yang menyikapinya dengan gaya sok patriot sejati, atas nama bangsa, mengibarkan 'bendera bangsa'. Padahal, korona tidak mengenal suku bangsa, apalagi bendera.

Ada lagi politikus di DPR, Ribka Tjiptaning, dengan gaya provokatif di depan rapat kerja dengan Menteri Kesehatan mengatakan menolak untuk divaksin dan memilih membayar denda. "Saya tetap tidak mau divaksin, kendati(vaksin itu)sampai yang 63 tahun bisa divaksin. Sayaudah63 (tahun)nih,mau semua usia boleh, tetap misalnya pun hidup di DKI semua anak cucu saya dapat sanksi lima juta, mending guebayar, mau jual mobilkek," kata Ribka, kemarin.

Ia lalu memungut sejumlah kasus yang sangat-sangat spesifik, satu-dua kasus pula, tanpa penjelasan sains pula, soal adanya orang-orang yang terkena risiko setelah divaksin. Model mencomot tanpa menyertakan penjelasan detail, dengan argumentasi rapuh pula, untuk menarik kesimpulan secara general jelas lebih bernuansa provokasi ketimbang anjuran berhati-hati. Ia tak ubahnya mereka yang membagi-bagikan video lawas anak santri yang panas dan kejang setelah disuntik vaksin difteri.

Pada saat seperti ini, akal sehat tak boleh dikeluhkan, apalagi dikalahkan. Akal sehat kita mengatakan tak mungkin Badan Pengawas Obat dan Makanan merilis izin penggunaan darurat tanpa alur yang jelas, teruji, juga terbukti. Akal sehat kita menuntun agar tubuh kita sehat, dengan salah satu pintunya vaksinasi.

Sekarang pilihan ada di tangan kita: mengikuti akal sehat atau menuruti syahwat para demagog yang menghasut kita untuk curiga tanpa ikhtiar apa-apa lalu menyangkal apa saja yang datangnya dari negara. Kalau saya, pilih yang pertama. Saya yakin Anda juga.

Baca Juga

Mi/Ebet

Bahlil yang Bihlul

👤Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group. 🕔Rabu 27 Januari 2021, 05:00 WIB
LAGI-LAGI saya mesti segera angkat topi untuk sosok yang satu ini, Bahlil...
MI/Ebet

Jilbab

👤Usman Kansong Dewan Redaksi Media Group 🕔Selasa 26 Januari 2021, 05:00 WIB
SAYA punya dua buku yang membahas...
MI/Ebet

Nenek Minah Namamu Disebut

👤Gaudensius Suhardi Dewan Redaksi Media Group 🕔Senin 25 Januari 2021, 05:00 WIB
NENEK Minah ialah narasi rupa buruk penegakan hukum di negeri...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya