Headline
Polisi harus usut tuntas hingga ke aktor intelektualnya.
Polisi harus usut tuntas hingga ke aktor intelektualnya.
Kumpulan Berita DPR RI
PERSABUNGAN antara harapan dan kecemasan terus berlangsung di negeri ini. Kecemasan bahkan selalu ‘mengintip’ saban muncul harapan baru. Ia seperti binatang buas yang bersiap menyantap mangsanya, kapan saja.
Itu pula yang terjadi saat vaksin covid-19 telah tiba dan tinggal menunggu izin penggunaan darurat dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM) untuk disuntikkan. Vaksin itulah harapan. Namun, pada saat bersamaan penyebaran kasus positif korona di Tanah Air kian menggila. Penambahannya bahkan mencapai angka tertinggi sejak pandemi, yakni 10.619 orang, kemarin. Angka itu mencemaskan.
Kecemasan itu kian menumpuk saat sejumlah rumah sakit tak sanggup lagi menampung pasien. Imbasnya, tak cuma ditempatkan di selasar, pasien yang tak tertampung tersebut bahkan ada yang dirawat dengan posisi duduk sambil diinfus karena ketiadaan ranjang dan kamar. Malah, ada yang dirawat dalam posisi duduk hingga dua hari dua malam.
Dengan melihat kondisi itu, saya sepakat dengan saran ahli epidemiologi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya Windhu Purnomo. Ia mengingatkan masyarakat untuk tetap ketat mematuhi protokol kesehatan pencegahan covid-19. Kendati program vaksinasi akan dijalankan, disiplin protokol kesehatan ialah mutlak. Sebab, vaksin masih bersifat relatif.
“Masyarakat jangan hanya mengandalkan vaksin. Protokol kesehatan seperti 3M (memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak) harus tetap dipatuhi agar pandemi ini segera berlalu,” ujar Windhu di Surabaya, Kamis (7/1), sebagaimana diberitakan medcom.id, lampost.co, dan mediaindonesia.com.
Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Unair itu menjelaskan program vaksinasi baru efektif mengendalikan pandemi kalau cakupannya minimal mencapai 70% dari populasi. Itu pun jika tidak ada varian baru covid-19 yang lebih ganas. Ia menjelaskan, semakin tinggi kemungkinan penularan covid-19, maka harus semakin tinggi pula proporsi yang divaksin guna membentuk kekebalan kelompok.
Masalahnya, jalan mencapai vaksinasi terhadap 70% populasi atau 189 juta orang Indonesia itu butuh waktu 15 bulan. Padahal, ketersediaan vaksin tergantung dari luar negeri, yang jumlahnya baru 11 vaksin. Kita belum bisa memproduksi vaksin sendiri. Kita baru bisa memproduksi vaksin Merah Putih tahun 2022.
Saat harapan belum sepenuhnya kita genggam, jalan terbaik ialah menebalkan solidaritas. Kita butuh solidaritas untuk saling membantu, saling menguatkan, saling mengingatkan. Jangan sampai yang muncul justru krisis solidaritas. Saat sebagian kita masih berjuang melawan civid-19, eh yang lain malah mengendurkan disiplin protokol kesehatan. Malah, masih saja ada yang menyangkal bahaya covid-19.
Krisis solidaritas itu merupakan tanda pecahnya sebuah masyarakat. Padahal, solidaritas merupakan ciri dasar manusia. Tanpa solidaritas, manusia kehilangan kemanusiaannya. Masyarakat pun kehilangan fungsi utamanya, yakni melindungi dan mengembangkan semua manusia yang ada di dalamnya.
Tanpa solidaritas, sebuah masyarakat menjadi lemah, dan dengan mudah hancur karena serangan dari kelompok lain. Peter Schmitz, pemikir Jerman, menyebutkan solidaritas ialah dasar dari perasaan kebersamaan. Karena dasar, ia bersifat hakiki. Ia conditio sine quanon, alias syarat mutlak.
Kebersamaanlah yang membuat manusia bisa bekerja sama dan menciptakan masyarakat yang kukuh. Kebersamaanlah yang membuat manusia bisa bertahan menghadapi keganasan alam yang penuh dengan bencana. Tanpa solidaritas, manusia bisa punah. Covid-19 telah memberi jalan bagi kita, anak kandung bangsa ini, untuk menjalankan modal sosial yang kita miliki: solidaritas.
Dasar dari solidaritas ialah empati atau kemampuan untuk merasakan apa yang dirasakan orang lain. Bisa juga dibilang bahwa empati ialah kemampuan untuk melihat dunia dari sudut pandang orang lain. Dengan empati, manusia bisa terdorong untuk membantu orang ataupun makhluk lain.
Dorongan ini muncul dari sikap welas asih, dan bukan dari pamrih. Saat sebagian dilanda kecemasan karena covid-19, kalau kita berempati, kita tak akan menebar kecemasan baru lewat informasi palsu. Kita juga tak terus-terusan menyangkal covid-19, saat yang lain sangat disiplin menangkal covid-19.
KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.
POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita
SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan
PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved