Headline

SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.

Solidaritas Harus Menetas

Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group
09/1/2021 05:00
Solidaritas Harus Menetas
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group.(MI/Ebet)

PERSABUNGAN antara harapan dan kecemasan terus berlangsung di negeri ini. Kecemasan bahkan selalu ‘mengintip’ saban muncul harapan baru. Ia seperti binatang buas yang bersiap menyantap mangsanya, kapan saja.

Itu pula yang terjadi saat vaksin covid-19 telah tiba dan tinggal menunggu izin penggunaan darurat dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM) untuk disuntikkan. Vaksin itulah harapan. Namun, pada saat bersamaan penyebaran kasus positif korona di Tanah Air kian menggila. Penambahannya bahkan mencapai angka tertinggi sejak pandemi, yakni 10.619 orang, kemarin. Angka itu mencemaskan.

Kecemasan itu kian menumpuk saat sejumlah rumah sakit tak sanggup lagi menampung pasien. Imbasnya, tak cuma ditempatkan di selasar, pasien yang tak tertampung tersebut bahkan ada yang dirawat dengan posisi duduk sambil diinfus karena ketiadaan ranjang dan kamar. Malah, ada yang dirawat dalam posisi duduk hingga dua hari dua malam.

Dengan melihat kondisi itu, saya sepakat dengan saran ahli epidemiologi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya Windhu Purnomo. Ia mengingatkan masyarakat untuk tetap ketat mematuhi protokol kesehatan pencegahan covid-19. Kendati program vaksinasi akan dijalankan, disiplin protokol kesehatan ialah mutlak. Sebab, vaksin masih bersifat relatif.

“Masyarakat jangan hanya mengandalkan vaksin. Protokol kesehatan seperti 3M (memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak) harus tetap dipatuhi agar pandemi ini segera berlalu,” ujar Windhu di Surabaya, Kamis (7/1), sebagaimana diberitakan medcom.id, lampost.co, dan mediaindonesia.com.

Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Unair itu menjelaskan program vaksinasi baru efektif mengendalikan pandemi kalau cakupannya minimal mencapai 70% dari populasi. Itu pun jika tidak ada varian baru covid-19 yang lebih ganas. Ia menjelaskan, semakin tinggi kemungkinan penularan covid-19, maka harus semakin tinggi pula proporsi yang divaksin guna membentuk kekebalan kelompok.

Masalahnya, jalan mencapai vaksinasi terhadap 70% populasi atau 189 juta orang Indonesia itu butuh waktu 15 bulan. Padahal, ketersediaan vaksin tergantung dari luar negeri, yang jumlahnya baru 11 vaksin. Kita belum bisa memproduksi vaksin sendiri. Kita baru bisa memproduksi vaksin Merah Putih tahun 2022.

Saat harapan belum sepenuhnya kita genggam, jalan terbaik ialah menebalkan solidaritas. Kita butuh solidaritas untuk saling membantu, saling menguatkan, saling mengingatkan. Jangan sampai yang muncul justru krisis solidaritas. Saat sebagian kita masih berjuang melawan civid-19, eh yang lain malah mengendurkan disiplin protokol kesehatan. Malah, masih saja ada yang menyangkal bahaya covid-19.

Krisis solidaritas itu merupakan tanda pecahnya sebuah masyarakat. Padahal, solidaritas merupakan ciri dasar manusia. Tanpa solidaritas, manusia kehilangan kemanusiaannya. Masyarakat pun kehilangan fungsi utamanya, yakni melindungi dan mengembangkan semua manusia yang ada di dalamnya.

Tanpa solidaritas, sebuah masyarakat menjadi lemah, dan dengan mudah hancur karena serangan dari kelompok lain. Peter Schmitz, pemikir Jerman, menyebutkan solidaritas ialah dasar dari perasaan kebersamaan. Karena dasar, ia bersifat hakiki. Ia conditio sine quanon, alias syarat mutlak.

Kebersamaanlah yang membuat manusia bisa bekerja sama dan menciptakan masyarakat yang kukuh. Kebersamaanlah yang membuat manusia bisa bertahan menghadapi keganasan alam yang penuh dengan bencana. Tanpa solidaritas, manusia bisa punah. Covid-19 telah memberi jalan bagi kita, anak kandung bangsa ini, untuk menjalankan modal sosial yang kita miliki: solidaritas.

Dasar dari solidaritas ialah empati atau kemampuan untuk merasakan apa yang dirasakan orang lain. Bisa juga dibilang bahwa empati ialah kemampuan untuk melihat dunia dari sudut pandang orang lain. Dengan empati, manusia bisa terdorong untuk membantu orang ataupun makhluk lain.

Dorongan ini muncul dari sikap welas asih, dan bukan dari pamrih. Saat sebagian dilanda kecemasan karena covid-19, kalau kita berempati, kita tak akan menebar kecemasan baru lewat informasi palsu. Kita juga tak terus-terusan menyangkal covid-19, saat yang lain sangat disiplin menangkal covid-19.



Berita Lainnya
  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.

  • Melindungi Konsumen

    06/2/2026 05:00

    LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.

  • Duka Ngada Aib Negara

    05/2/2026 05:00

    'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)

  • Tipu Daya Judol

    04/2/2026 05:00

    JUDI online (judol) sejatinya bukanlah sebuah permainan keberuntungan. Ia barangkali salah satu mesin penipu paling canggih yang pernah diciptakan.