Headline

Pemerintah tetapkan 1 Ramadan pada Kamis, 19 Februari 2026.

Pilpres Amerika Rasa Indonesia

Usman Kansong Dewan Redaksi Media Group
06/11/2020 05:00
Pilpres Amerika Rasa Indonesia
Usman Kansong Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

PILPRES Amerika rasa Indonesia. Pilpres Amerika 2020 serupa Pilpres Indonesia 2019 dan 2014. Begitu lelucon politik yang muncul di media sosial.

Lelucon politik itu berawal dari kicauan David Lipson di Twitter. Jurnalis ABC Australia itu berkicau, “Feeling like Indonesian politics....” Terjemahan bebasnya, ya itu tadi, Pilpres Amerika rasa Indonesia.

Pangkal kicauan Lipson itu kiranya klaim kemenangan oleh kandidat petahana Donald Trump ketika hasil penghitungan suara belum lagi fi nal. Ini mirip klaim kemenangan oleh Prabowo Subianto pada Pilpres 2019 dan 2014.

Pangkal lain ialah ancaman Trump menggugat hasil pilpres ke Mahkamah Agung. Ini serupa gugatan Prabowo atas hasil penghitungan suara ke Mahkamah Konstitusi pada Pilpres 2019 dan 2014.

Ross Tapsell, pengajar dan peneliti pada Australian National University, menimpali kicauan Lipson. Tapsell berkicau, “Absolutely. But it’s not truly Indonesian politics unless Trump ends up Biden’s secretary of defense.”  Terjemahannya kira-kira, ‘Betul sekali. Tetapi itu tidak betul-betul mirip politik Indonesia kecuali Trump jadi menteri pertahanan.” Seusai Pilpres 2019, Prabowo, kandidat presiden yang kalah, menjadi menteri pertahanan dalam kabinet Presiden Joko Widodo.

Lelucon politik Lipson dan Tasell bukan sembarang gurauan politik, melainkan kritik terhadap praktik demokrasi di Amerika dan Indonesia. Lelucon itu hendak mengkritik betapa praktik berdemokrasi dalam Pilpres 2019 dan 2014 di Indonesia belum matang. Bagi Amerika, lelucon politik itu mengkritik betapa praktik berdemokrasi di negara kampiun demokrasi itu dalam tingkat tertentu mengalami kemunduran.

Pada masyarakat yang demokrasinya matang, tidak ada klaim kemenangan sebelum penghitungan suara rampung. Bagi Indonesia, ini menunjukkan demokrasi Indonesia jalan di tempat, masih berada dalam tahap transisi menuju demokrasi. Bagi Amerika, klaim kemenangan memperlihatkan demokrasinya mundur.

Pada masyarakat yang demokrasinya dewasa, semestinya tidak ada gugatan hasil pilpres. Gugatan, juga klaim kemenangan, menunjukkan ketidakpercayaan pemilu berlangsung adil, jujur, transparan. Gugatan, juga klaim kemenangan, bentuk praduga pilpres berlangsung curang.

Pada masyarakat yang demokrasinya matang, kandidat yang kalah segera mengucapkan selamat kepada kandidat yang menang, bahkan hanya berdasarkan hasil hitung cepat.

Itulah yang dilakukan Hillary Clinton yang segera menghubungi Trump untuk mengucapkan selamat pada Pilpres 2016 di Amerika. Itulah yang dilakukan Jusuf Kalla yang mengucapkan selamat kepada Susilo Bambang Yudhoyono pada Pilpres 2009 di Indonesia. Clinton dan Kalla demokrat sejati.

Pada Pilpres 2000 di Amerika, Al Gore memang menggugat kemenangan George Bush ke Mahkamah Agung. Namun, selisih perolehan suara mereka terbilang sangat kecil. Begitupun, publik mempertanyakan langkah Al Gore itu.

Kicauan Ross Tapsell bahwa Pilpres 2020 di Amerika baru dikatakan mirip Pilpres Indonesia bila Trump menjadi menteri pertahanan serupa Prabowo tentu tidak bakal terjadi. Di Amerika yang menganut sistem dua partai, pemenang mengambil semuanya; the winner takes all.

Presiden terpilih pasti akan mengambil orang-orang dari partai politiknya sebagai menteri. Trump mengambil menteri dari kalangan Republik seusai memenangi Pilpres 2016. Biden, bila menang di Pilpres 2020, pasti mengambil orang-orang Demokrat sebagai menteri. Dalam hal ini, demokrasi di Amerika sangat matang.

Kicauan Tapsell terang benderang kritik terhadap praktik politik di Indonesia, bahwa praktik berdemokrasi di Indonesia belum dewasa. Demokrasi matang mensyaratkan oposisi untuk menjalankan mekanisme check and balance.

Presiden Jokowi semestinya mengangkat menteri-menterinya dari kalangan partai koalisi. Presiden Jokowi semestinya tidak meng angkat Prabowo sebagai menteri pertahanan supaya bekas rival dan partainya tetap berada di luar pagar kekuasaan, terus menjadi oposisi, konsisten melaksanakan check and balance.

Tentu saja Trump di Pilpres 2020 dan Prabowo di Pilpres 2019 dan 2014 punya seribu satu argumen untuk mengklaim kemenangan serta untuk menggugat ke MA atau MK. Pun, Presiden Jokowi punya seribu satu alasan merekrut Prabowo sebagai menterinya.

Bagaimanapun, Pilpres Amerika dan lelucon politik yang menyertainya kiranya bisa menjadi pelajaran untuk memulihkan demokrasi di ‘Negeri Paman Sam’ itu. Di tangan Trump, dengan ideologi populisme sayap kanannya, demokrasi mengalami kemunduran. Itulah sebabnya Joe Biden berkata, “Kita rebut kembali demokrasi Amerika.”

Bagi Indonesia, Pilpres Amerika dan lelucon politik yang mengekornya mesti juga diposisikan sebagai pelajaran menaikkan kelas demokrasi dari transisi demokrasi menjadi demokrasi sesungguhnya. Survei Badan Pusat Statistik menyebut indeks demokrasi Indonesia naik, tetapi sejumlah pakar menyebut praktik demokrasi di Indonesia mundur menjadi yang disebut demokrasi iliberal.

 

 

 

 



Berita Lainnya
  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.

  • Melindungi Konsumen

    06/2/2026 05:00

    LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.

  • Duka Ngada Aib Negara

    05/2/2026 05:00

    'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)

  • Tipu Daya Judol

    04/2/2026 05:00

    JUDI online (judol) sejatinya bukanlah sebuah permainan keberuntungan. Ia barangkali salah satu mesin penipu paling canggih yang pernah diciptakan.

  • Tuas Rem Trump-Khamenei

    03/2/2026 05:00

    DUNIA kembali berdiri di bibir jurang.

  • Etika Mundur di Pasar Modal

    02/2/2026 05:00

    PATUT dicatat sebagai rekor nasional. Bila perlu dengan tinta tebal. Hanya dalam satu hari, lima pejabat otoritas keuangan mengundurkan diri.

  • Keadilan dalam Sepotong Es Gabus

    30/1/2026 05:00

    HUKUM dan keadilan mestinya berada dalam satu tarikan napas. Hukum dibuat untuk mewujudkan keadilan.

  • Kejar Jambret Dikejar Pasal

    29/1/2026 05:00

    DI negeri ini, keadilan tak jarang tersesat di tikungan logika dan persimpangan nalar.

  • Noel agak Laen

    28/1/2026 05:00

    IMANUEL 'Noel' Ebenezer memang bukan sembarang terdakwa korupsi.

  • Mudarat Paling Kecil

    27/1/2026 05:00

    RENCANA bergabungnya Indonesia dalam Board of Peace yang digagas oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk 'pembangunan kembali Gaza' segera memantik pro dan kontra.

  • Pengawas Mati, Korupsi Tumbuh

    26/1/2026 05:00

    KEGAGALAN aparat pengawasan intern pemerintah (APIP) ialah fakta berulang, bukan lagi dugaan.