Kamis 06 Agustus 2020, 05:00 WIB

Jadikan Youtube Peradaban Kasih

Gaudensius Suhardi Dewan Redaksi Media Group | Editorial
Jadikan Youtube Peradaban Kasih

MI/Ebet
Gaudensius Suhardi Dewan Redaksi Media Group .

YOUTUBE menjadi platform daring yang paling sering digunakan pengguna di Indonesia berusia 16 hingga 64 tahun. Laporan Hootsuite (We are Social) 2020 menyebutkan persentase pengguna yang mengakses Youtube mencapai 88%, disusul Whatsapp 84%, Facebook 82%, dan Instagram 79%.

Rata-rata waktu yang dihabiskan masyarakat Indonesia untuk mengakses sosial media selama 3 jam 26 menit. Total pengguna aktif sosial media sebanyak 160 juta atau 59% dari total penduduk Indonesia.

Media sosial berupa layanan jejaring sosial tidak lagi sekadar untuk meluaskan pertemanan, tapi sudah digunakan untuk kepentingan bisnis. Selama masa pandemi covid-19, Youtube bertambah fungsi menjadi saluran yang dipilih warga dunia untuk mengikuti ibadah secara streaming.

Penambahan fungsi untuk kegiatan keagamaan itulah yang mendorong kerinduan publik agar Youtube menjadi sarana istimewa untuk membangun peradaban kasih.

Peradaban kasih hanya bisa dibangun di atas fondasi etis. Sayangnya, sampai saat ini, belum ada regulasi etika pengguna Youtube maupun saluran media sosial lainnya.

Etika sangat penting agar semua pengguna media baru berada dalam frekuensi tanggung jawab yang sama. Apalagi, kemunculan media baru itu turut memperkuat pilar demokrasi yang sudah dibangun media tradisional sebelumnya. Pilar keempat demokrasi.

Penyusunan etika media baru itu bisa merujuk pada etika yang diterbitkan Norwegian Press Association. Isinya antara lain, membuat konten adalah bagian dari kebebasan berpendapat, tetapi kebebasan itu juga menghargai perbedaan.

Media sosial itu hanyalah saluran komunikasi yang hakikatnya ialah tindakan moral: orang yang baik mengeluarkan hal-hal yang baik dari perbendaharaannya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan hal-hal yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat. Paling utama bagi pembuat konten ialah buanglah dusta dan berkatalah benar.

Ironisnya, dusta yang dibungkus dalam sebutan prank di Youtube kian menjamur dan justru paling digemari. Prank berisi video jahil, berbuat jahil kepada orang lain dengan tujuan untuk menjadi bahan canda. Pembuat video prank meraih keuntungan ekonomi di atas penderitaan orang yang dijadikan materi candaan.

Bercanda tentu ada batasnya, melampaui batas berurusan dengan polisi. Itulah nasib yang dialami Edo Putra asal Palembang. Ia ditangkap polisi pada 2 Agustus.

Video berjudul Prank Bagi-Bagi Daging ke Emak-Emak Isinya Sampah itu memang viral. Tiga hari setelah ditayangkan di Youtube pada 30 Juli, video itu ditonton 939.821 kali.

Edo tidak mau belajar dari kasus Ferdian Paleka yang ditangkap polisi pada 8 Mei. Ferdian ditangkap setelah videonya viral. Isi video itu ialah membagi sembako berisi sampah dan batu kepada waria di Bandung pada 3 Mei.

Sudah banyak kasus prank berujung di kantor polisi. Ada prank diculik pria bertopeng di Makassar, prank suami hilang di Bali, prank pocong duduk di Gowa, dan prank pocong di Semarang.

Tanpa panduan etika, Youtuber tinggal menunggu waktu masuk bui. Ancaman hukumannya tidak main-main, 12 tahun penjara untuk pihak yang melanggar larangan dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik.

Konten video-video yang melampaui batas etis itu dibuat hanya untuk kepentingan popularitas pembuat yang ujungujung duit. Mantra yang wajib diucapkan seorang Youtuber di akhir video ialah jangan lupa klik, like, comment, share, dan subscribe.

Subscribe, berlangganan, menjadi dewanya Youtube sama seperti rating di televisi. Berhamba kepada subscribe dan rating penyebab kualitas konten diabaikan penuh kesadaran.

Terus terang, atas nama duit, Youtube kian menjauhi nawaitunya. Meski demikian, ternyata, masih ada youtuber yang tekun menapaki jalan sunyi idealisme. Mereka ialah Andovi da Lopez dan Jovial da Lopez dari SkinnyIndonesian24 yang memilih meninggalkan Youtube tahun depan atas nama idealisme.

Dalam video berjudul Tahun Terakhir di Youtube, Jovial menyebut sistem Youtube sekarang berbeda. Dulu, kata Jovial, Youtube memberikan suara yang tidak bersuara. “Youtube dulu keren, sekarang hanya bisnis.”

Sebagai bisnis, youtuber menghalalkan segala cara termasuk prank yang menjadi budaknya subscribe. Sepanjang pembuat konten berhamba kepada subscribe, Youtube tak akan bisa menjadi peradaban kasih.

Baca Juga

MI/Ebet

Film G-30-S/PKI versus Drakor

👤Usman Kansong Dewan Redaksi Media Group 🕔Selasa 29 September 2020, 05:00 WIB
ADA orang di setiap waktu dan setiap negeri, kata Robert Kennedy, yang ingin menghentikan sejarah di...
MI/Ebet

Poles Paslon Pakai Topeng

👤Gaudensius Suhardi Dewan Redaksi Media Group 🕔Senin 28 September 2020, 05:00 WIB
KAMPANYE Pilkada 2020 berlangsung selama 71 hari, dimulai sejak Sabtu...
MI/Ebet

Habis Penyakit, Terbitlah Utang

👤Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group 🕔Sabtu 26 September 2020, 05:00 WIB
JUDUL di atas ialah terjemahan bebas dari kalimat after the disease, the debt. Majalah The Economist menuliskan kata-kata itu pada sampul...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya