Headline

Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.

Virus Kebencian

Usman Kansong Dewan Redaksi Media Group
29/1/2020 05:10
Virus Kebencian
Usman Kansong Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

APA yang lebih berbahaya daripada virus korona yang hingga kemarin siang menewaskan 106 orang? Virus kebencian jawabannya.

Pekan lalu saya menulis tentang Uighur di laman Facebook saya. Saya ingin menyajikan berbagai pandangan atau perspektif tentang Uighur, baik positif, netral, maupun negatif.

Saya menuliskannya berdasarkan kunjungan saya ke Xinjiang, provinsi tempat etnik muslim Uighur menetap di Tiongkok. Saya juga menuliskan sejumlah pemberitaan negatif tentang perlakuan pemerintah Tiongkok kepada etnik Uighur. Pun saya menuliskan dua hasil penelitian tentang Uighur yang saya baca dari dua buku berbahasa Inggris.

Tiba-tiba ada yang berkomentar bahwa virus korona ialah balasan dari langit untuk rezim komunis RRT atas perlakuan mereka terhadap muslim Uighur. Komentar ini jelas berperspektif langitan atau berperspektif hukum karma yang jelas tidak didasarkan pada keilmiahan, tetapi pada kebencian.

Dia yang berkomentar seperti itu telah terjangkit sekaligus menularkan virus kebencian. Celakanya virus kebencian lebih berbahaya daripada virus korona atau virus-virus lain yang pernah ada atau kelak ada di muka bumi.

Penyebaran virus kebencian memakan lebih banyak korban jika dibandingkan dengan virus korona. Itu karena bila virus korona berjangkit melalui interaksi fisikal, virus kebencian berjangkit melalui interaksi virtual di media sosial.

Virus korona menyerang tubuh, sedangkan virus kebencian menyerang kewarasan, akal sehat. Oleh karena itu, orang terjangkit virus korona bisa disembuhkan dengan vaksin yang kelak ditemukan, tetapi mereka yang terjangkit virus kebencian sulit disembuhkan sampai tujuh turunan bahkan dengan vaksin rekonsiliasi sekalipun.

Virus kebencian juga menyebar melalui komentar atau analisis asal-asalan bahwa orang Tiongkok terserang virus korona karena doyan makan sup kalelawar dan ular, dan keduanya makanan haram. Akan tetapi, saya membaca artikel di The Guardian yang dipublikasikan enam tahun lalu dan menginformasikan kemungkinan virus korona menjadi pandemi berikutnya.

Informasi The Guardian itu didasarkan temuan seorang virolog yang menyebutkan adanya seorang pasien yang terjangkit virus yang kemudian diduga korona itu di satu rumah sakit di Jeddah, Arab Saudi.

Rasanya kecil kemungkinan pasien tersebut gemar mengonsumsi sup kelelawar atau ular. Para ahli menduga virus berasal dari hewan ternak setempat.

Saya membayangkan, si komentator tadi akan mengatakan bahwa informasi kemungkinan virus korona berasal dari hewan ternak di Timur Tengah ialah konspirasi asing-aseng. Namanya juga akal sehatnya sudah terjangkit virus kebencian. Karena kebencian, si komentator serupa menyoraki wabah yang diderita warga Tiongkok.

Meski sulit, virus kebencian sesungguhnya bukan tidak bisa disembuhkan sama sekali. Sedikit empati semestinya bisa menyingkirkan virus kebencian. Bila tidak bisa berempati atas nama kebangsaan, berempatilah atas nama kemanusiaan.

Empati ialah menempatkan posisi kita pada orang lain, pada korban virus korona. Dengan berempati, kita seolah merasakan bahwa terjangkit virus korona itu menderita dan sengsara. Kita tentu tidak menginginkan terjangkit virus korona sehingga kita mau tidak mau berupaya mencegahnya. Itu artinya berempati bisa mencegah kita terserang virus korona.



Berita Lainnya
  • OTT Tepat Waktu

    22/1/2026 05:00

    BUPATI Pati, Jawa Tengah, Sudewo kembali menjadi atensi. Dia ditangkap tangkap oleh KPK karena diduga jual beli jabatan. OTT itu terjadi pada waktu yang tepat, sangat tepat.

  • Pesta Elite, Nestapa Rakyat

    21/1/2026 05:00

    REPUBLIK ini kiranya sedang berada dalam situasi kontradiksi yang meresahkan. Kontradiksi itu tersaji secara gamblang di lapisan-lapisan piramida sosial penduduk. 

  • Vietnam Melaju Kencang

    20/1/2026 05:00

    KITA tidak harus paling benar, yang penting paling berhasil. Itulah filosofi Vietnam.

  • Suara Profesor 15 Januari

    19/1/2026 05:00

    SEJARAH Republik ini mencatat 15 Januari sebagai tanggal yang tidak netral. Pada hari itulah suara mahasiswa pernah mengguncang kekuasaan.

  • Setan pun Minder

    15/1/2026 05:00

    INDONESIA memang negeri yang kaya. Kaya sumber daya alam, kaya budaya, dan kiranya juga kaya kreativitas kejahatannya, termasuk korupsi.

  • Regenerasi Koruptor

    14/1/2026 05:00

    Ya, mereka memang terkenal pada zaman masing-masing. Terkenal karena berkasus rasuah.

  • Angka Tiga

    13/1/2026 05:00

    PEMERINTAH tampaknya kembali menarik napas lega. Defisit APBN 2025 memang melebar, tetapi masih di bawah ambang sakral 3% dari produk domestik bruto (PDB).

  • Burung Diadili, Bencana Dibiarkan

    12/1/2026 05:00

    PENGADILAN Negeri Situbondo, Jawa Timur, punya cerita. Penegakan hukum di sana dikenal sangat tajam, terutama kepada mereka yang lemah

  • Kutukan Ekonomi Ekstraktif

    09/1/2026 05:00

    VENEZUELA kembali menjadi sorotan dunia. Kali ini bukan semata karena krisis ekonomi yang tak kunjung usai

  • Maduro dan Silfester

    08/1/2026 05:00

    APA hubungannya Nicolas Maduro dan Silfester Matutina? Tidak ada. Teman bukan, saudara apalagi.

  • Negara Bahagia

    07/1/2026 05:00

    INI cerita tentang Indonesia yang barangkali membahagiakan, tapi juga sekaligus bisa menjadi peringatan.

  • Angka Lima

    06/1/2026 05:00

    ANGKA lima seolah 'ditakdirkan' melekat dalam 'tubuh' negeri ini pada satu dekade terakhir.

  • Demokrasi Donat Pilkada tanpa Rakyat

    05/1/2026 05:00

    SEPERTI kue donat yang berlubang di tengah. Begitulah demokrasi negeri ini akan tampak jika pemilihan gubernur, bupati, dan wali kota dikembalikan kepada DPRD.

  • Pertobatan Ekologis

    03/1/2026 05:00

    ADAKAH berita baik di sepanjang 2025? Ada, tapi kebanyakan dari luar negeri. Dari dalam negeri, kondisinya turun naik

  • Tahun Lompatan Ekonomi

    02/1/2026 05:00

    SETIAP datang pergantian tahun, kita selalu seperti sedang berdiri di ambang pintu. Di satu sisi kita ingin menutup pintu tahun sebelumnya dengan menyunggi optimisme yang tinggi.

  • Tahun Baru Lagi

    31/12/2025 05:00

    SETIAP pergantian tahun, banyak orang memaknainya bukan sekadar pergeseran angka pada kalender, melainkan juga jeda batin untuk menimbang arah perjalanan bersama.