Headline

Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.

Melek Imlek

Usman Kansong Dewan Redaksi Media Group
25/1/2020 05:10
Melek Imlek
Usman Kansong Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

SEORANG Tionghoa mengurus KTP di kantor kelurahan. Dia menulis namanya Jasnowo Diponegoro. Petugas kelurahan heran, nama itu terlalu Jawa dan gagah perkasa karena membawa-bawa Diponegoro segala. Orang Jawa tulen saja jarang memakai nama besar pahlawan nasional itu. Takut kualat mungkin. Cuma jalan yang berani pakai nama Diponegoro.

Demi melihat keheranan petugas kelurahan, orang Tionghoa itu menjelaskan namanya singkatan dari bekas cino dadi jowo dipekso negoro (bekas cina jadi Jawa dipaksa negara).

Cerita di atas cuma anekdot. Akan tetapi, ia sarat makna. Anekdot itu sindiran telak atas kebijakan asimilasi negara di zaman Orde Lama yang mengharuskan orang-orang Tionghoa menggunakan nama Indonesia.

Pengusaha kayu Phang Djoe Phen mengubah namanya menjadi Prajogo Pangestu. Pendiri Bank Danamon, Djaw Jaw Wu, mengganti namanya menjadi Usman Admadjaja. Pemilik Grup Sampoerna, Liem Tian Po, bersalin nama menjadi Putera Sampoerna. Liem Sioe Liong lebih kita kenal sebagai Soedono Salim.

Bukannya asimilasi, kebijakan itu lebih merupakan diskriminasi. Sejarah Indonesia sarat dengan torehan diskriminasi terhadap etnis Tionghoa. Selain keharusan menggunakan nama Indonesia, pelarangan perayaan Imlek dan pelarangan pertunjukkan kesenian Barongsai hingga terjegalnya Ahok menjadi Gubernur DKI merupakan beberapa contoh diskriminasi terhadap etnis Tionghoa.

Pun sejarah mencatat orang Tionghoa acap menjadi sasaran kekerasan. Sejak huru-hara anti-Tionghoa pada awal abad ke-20 hingga kerusuhan Mei 1998, kalangan Tionghoa menjadi sasaran kekerasan massa.

Di Yogyakarta orang Tionghoa tidak boleh memiliki tanah. Di satu RW di Surabaya, Jawa Timur, orang Tionghoa hampir saja membayar iuran lebih mahal daripada orang “pribumi”, tetapi, syukurnya, aturan itu tidak sampai diberlakukan.

Penyebab diskriminasi dan kekerasan yang menimpa kalangan Tionghoa ialah kecemburuan ekonomi. Dibentuk opini kalangan Tionghoa menguasai ekonomi Indonesia. Sejumlah kebijakan ekonomi pemerintah sejak masa Presiden Soekarno hingga penghujung masa Presiden Soeharto dijalankan untuk menghadang penguasaan ekonomi oleh kalangan Tionghoa. Padahal, bila bepergian ke Singakawang, Kalimantan Barat, kita masih menjumpai banyak orang Tionghoa miskin.

Penyebab lain, orang Tionghoa dianggap eksklusif. Di Medan, Sumatera Utara, misalnya, rumah orang Tionghoa berpagar tinggi dan rapat.  Namun, itu karena orang Tionghoa kerap menjadi sasaran pemerasan berdalih permintaan sumbangan oleh preman berseragam ormas.

Orang Tionghoa di Medan juga dituduh sering bercakap-cakap menggunakan bahasa mereka di ruang publik. Apa bedanya dengan orang Padang yang bercakap-cakap dalam bahasa Minang di pasar-pasar atau orang Batak yang bercakap-cakap dalam bahasa Batak di terminal, misalnya? Kita protes orang Tionghoa bercakap dalam bahasa mereka, sementara kita tenang-tenang saja mendengar orang Minang atau Batak berbicara dalam bahasa mereka karena kita menganggap Tionghoa bukanlah bagian Indonesia, melainkan pendatang.

Penelitian menunjukkan tidak ada orang Indonesia asli. Orang Indonesia pada dasarnya pendatang. Bukan tidak mungkin tubuh kita mengandung DNA Tionghoa. Swastika Noorsabri, pengusaha yang mengaku Jawa tulen, ternyata memiliki ras Tionghoa setelah dites DNA-nya. Gus Dur terus terang mengaku keturunan Tionghoa.

Bila bukan diskriminasi, keharusan orang Tionghoa menggunakan nama Indonesia sekurang-kurangnya merupakan asimilasi yang dipaksakan. Asimilasi semestinya alami. Baju koko atau yang dulu disebut baju kerah Shanghai yang sering dipakai Abdul Somad dan Felix Siauw sebentuk asimilasi alami. Makanan mi atau siomay yang kita sukai juga asimilasi alami. Pun, sebutan Engkong atau Babeh Ridwan Saidi asimilasi alami.

Kebijakan asimilasi yang baik ialah menyerap tradisi atau budaya Tionghoa menjadi bagian Indonesia. Penetapan Konghucu sebagai agama resmi dan Tahun Baru Imlek sebagai hari libur nasional merupakan kebijakan asimilasi yang tepat.

Imlek 2571 tahun 2020 hari ini merupakan tahun tikus logam. Tikus binatang cerdik. Logam melambangkan kekukuhan hati. Akan tetapi, mungkin mereka yang hatinya dipenuhi kebencian, mengartikan tikus binatang licik sehingga orang Tionghoa juga licik. Ampun.

Imlek kali ini semestinya bikin kita melek bahwa Tionghoa bagian Indonesia. Selamat Tahun Baru Imlek 2571.



Berita Lainnya
  • Duka Ngada Aib Negara

    05/2/2026 05:00

    'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)

  • Tipu Daya Judol

    04/2/2026 05:00

    JUDI online (judol) sejatinya bukanlah sebuah permainan keberuntungan. Ia barangkali salah satu mesin penipu paling canggih yang pernah diciptakan.

  • Tuas Rem Trump-Khamenei

    03/2/2026 05:00

    DUNIA kembali berdiri di bibir jurang.

  • Etika Mundur di Pasar Modal

    02/2/2026 05:00

    PATUT dicatat sebagai rekor nasional. Bila perlu dengan tinta tebal. Hanya dalam satu hari, lima pejabat otoritas keuangan mengundurkan diri.

  • Keadilan dalam Sepotong Es Gabus

    30/1/2026 05:00

    HUKUM dan keadilan mestinya berada dalam satu tarikan napas. Hukum dibuat untuk mewujudkan keadilan.

  • Kejar Jambret Dikejar Pasal

    29/1/2026 05:00

    DI negeri ini, keadilan tak jarang tersesat di tikungan logika dan persimpangan nalar.

  • Noel agak Laen

    28/1/2026 05:00

    IMANUEL 'Noel' Ebenezer memang bukan sembarang terdakwa korupsi.

  • Mudarat Paling Kecil

    27/1/2026 05:00

    RENCANA bergabungnya Indonesia dalam Board of Peace yang digagas oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk 'pembangunan kembali Gaza' segera memantik pro dan kontra.

  • Pengawas Mati, Korupsi Tumbuh

    26/1/2026 05:00

    KEGAGALAN aparat pengawasan intern pemerintah (APIP) ialah fakta berulang, bukan lagi dugaan.

  • Rupiah Vs IHSG

    23/1/2026 05:00

    ADA yang ganjil di pasar keuangan kita. Rupiah terkapar, bahkan menyentuh di kisaran 17 ribu per US$, level terendah sepanjang sejarah.

  • OTT Tepat Waktu

    22/1/2026 05:00

    BUPATI Pati, Jawa Tengah, Sudewo kembali menjadi atensi. Dia ditangkap tangkap oleh KPK karena diduga jual beli jabatan. OTT itu terjadi pada waktu yang tepat, sangat tepat.

  • Pesta Elite, Nestapa Rakyat

    21/1/2026 05:00

    REPUBLIK ini kiranya sedang berada dalam situasi kontradiksi yang meresahkan. Kontradiksi itu tersaji secara gamblang di lapisan-lapisan piramida sosial penduduk. 

  • Vietnam Melaju Kencang

    20/1/2026 05:00

    KITA tidak harus paling benar, yang penting paling berhasil. Itulah filosofi Vietnam.

  • Suara Profesor 15 Januari

    19/1/2026 05:00

    SEJARAH Republik ini mencatat 15 Januari sebagai tanggal yang tidak netral. Pada hari itulah suara mahasiswa pernah mengguncang kekuasaan.

  • Setan pun Minder

    15/1/2026 05:00

    INDONESIA memang negeri yang kaya. Kaya sumber daya alam, kaya budaya, dan kiranya juga kaya kreativitas kejahatannya, termasuk korupsi.

  • Regenerasi Koruptor

    14/1/2026 05:00

    Ya, mereka memang terkenal pada zaman masing-masing. Terkenal karena berkasus rasuah.