Headline

SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.

Otak Udang

Gaudensius Suhardi Dewan Redaksi Media Group
23/12/2019 05:30
Otak Udang
Gaudensius Suhardi Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

OTAK udang ialah sebutan kiasan untuk orang yang sukar mengerti atau bodoh maksimal. Kata otak selalu dikaitkan dengan kepala. Bisa jadi, karena ada otak, kepala selalu dibuang saat pengolahan udang. Khawatir bodoh makan kepala udang.

Nyatanya, menurut Prof Purwantiningsih dari IPB, kepala dan kulit udang mengandung senyawa kimia, yaitu kitin yang bisa diubah menjadi kitosan. Manfaat kitosan di bidang biomedis ialah sebagai material untuk pengantar obat ke target atau mengendalikan pelepasan obat sesampainya ke target.

Limbah kepala dan kulit udang memerlukan pemrosesan lebih lanjut untuk menjadi sesuatu yang sangat berharga. Butuh waktu dan kesabaran. Berharga bagi mereka yang menghormati proses, sukar dimengerti oleh mereka yang berotak udang.

Persoalan proses itulah sesungguhnya yang menyertai polemik lobster, sebutan udang yang hidup di laut. Polemik di dunia internasional terkait keadaban, teknik memasak lobster didahului dengan proses perebusan hidup-hidup.

Pemerintah Swiss melarang merebus lobster hidup-hidup. Lobster mesti dibunuh dahulu, disarankan dengan cara disetrum. Peraturan ini efektif berlaku per 1 Mei 2018 di Selandia Baru, Norwegia, dan Austria. Beberapa negera seperti Jerman, Australia, dan Italia sudah lebih dulu membuat peraturan yang sama.

Polemik soal lobster di negeri ini tidak terkait dengan keadaban, tapi soal ‘udang di balik batu’ benih lobster. Pada mulanya dilarang menangkap dan mengekspor benih lobster. Larangan itu tertuang dalam Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 1/2015 jo Nomor 56/2016.

Pertimbangan utama yang menjadi latar belakang hadirnya dua peraturan itu, sebagaimana diungkapkan mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, ialah melindungi mata pencaharian manusia, mata pencaharian nelayan dengan menjaga sumber daya lobster cukup, dan lestari. Jadi, prioritasnya manusia, bukan hewannya.

Atas nama kepentingan manusia pula, Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo mengumumkan bakal membuka keran ekspor benih lobster. Susi dan Edhy pun terlibat polemik terbuka yang kiranya tak elok dari sisi etika. Keduanya ngotot-ngototan, merasa paling benar di ruang publik.

Soal etika, elok kiranya belajar dari Gubernur DKI Jakarta sekaligus mantan Mendikbud Anies Baswedan. Ia secara sadar memilih tak ikut mengomentari kebijakan penghapusan ujian nasional oleh Mendikbud Nadiem Makarim. “Saya menghormati Menteri Pendidikan. Sebagai mantan menteri pendidikan, saya tidak ikut mengomentari. Kan etikanya begitu,” ujar Anies.

Pemegang kekuasaan pemerintahan ialah presiden. Menteri yang ialah pembantu presiden itu sesungguhnya hanya menjalankan kebijakan bosnya. Dengan demikian, melarang atau membolehkan mengekspor benih lobster pada dasarnya kebijakan presiden.

Kebijakan Presiden Joko Widodo terkait benih lobster sangat jelas, yaitu negara mendapatkan manfaat, nelayan mendapatkan manfaat, lingkungan tidak rusak.

Daripada polemik terbuka menerabas etika, sebaiknya Susi menemui Edhy untuk berdiskusi atau Edhy mengundang Susi untuk berdialog. Apalagi, saat serah terima jabatan, Edhy mengatakan kepada Susi, “Rumah (Kementerian KKP) ini ialah rumahnya Ibu. Bagi saya, menteri KKP tetap Ibu Susi, saya ialah pengganti Ibu." Pujian itu ternyata pemanis bibir.

Benarkah melarang atau membolehkan menangkap dan mengekspor benih lobster menguntungkan nelayan? Penelitian Furqan dkk dari IPB bisa menjadi rujukan. Penelitian dilakukan di Pelabuhan Ratu, Jawa Barat. Hasil penelitian itu dimuat di jurnal IPB Oktober 2017.

Fokus penelitian ialah dukungan nelayan benih lobster terhadap kebijakan Permen KKP 01/2015 jo Permen KKP 56/2016. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 93% nelayan sangat tidak mendukung adanya pelarangan penangkapan benih lobster dan sebanyak 7% nelayan menjawab tidak mendukung.

Fakta lain ialah Serikat Nelayan Indonesia menyatakan kebijakan ekspor benih lobster bisa merugikan nelayan kecil dan lingkungan hidup dalam jangka panjang. Karena itu, Serikat Nelayan Indonesia menolak wacana ekspor benih lobster.

Nelayan itu ibarat pelanduk mati di tengah-tengah polemik Susi dan Edhy. Saatnya suara nelayan didengar pemerintah. Mereka memang berprofesi sebagai penangkap lobster, tetapi yakinlah mereka bukan orang yang dikiaskan otak udang. Nelayan paham bahwa menjual lobster lebih menguntungkan daripada menjual benihnya. Itulah kearifan yang bersemai dalam jiwa nelayan yang tidak dipunyai elite.

 



Berita Lainnya
  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.

  • Melindungi Konsumen

    06/2/2026 05:00

    LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.

  • Duka Ngada Aib Negara

    05/2/2026 05:00

    'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)