Selasa 22 Oktober 2019, 05:30 WIB

Palapa Ring

Suryopratomo, Dewan Redaksi Media Group | podium
Palapa Ring

MI
Suryopratomo, Dewan Redaksi Media Group

ADA tiga sejarah besar yang mempersatukan Indonesia. Pertama pasti proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945 oleh Bung Karno dan Bung Hatta yang membuat kita menjadi satu Indonesia. 

Kedua, 1 Juli 1976, ketika Presiden Soeharto meluncurkan Satelit Palapa yang menyatukan 'langit' Indonesia sehingga komunikasi antarwilayah menjadi lebih mudah dan cepat. Ketiga, 14 November 2019, ketika Presiden Joko Widodo meresmikan jaringan serat optik Nusantara, Palapa Ring.

Kita menyebut tiga peristiwa itu sebagai sejarah besar karena itulah yang menjadi modal bagi kita untuk menjadi bangsa yang maju. Ketiga peristiwa itu menjawab tantangan zaman untuk membawa bangsa ini menatap masa depan yang lebih baik.

Sekarang kita sedang hidup di era teknologi informasi. Kita harus menyiapkan infrastruktur yang memadai agar seluruh warga bangsa bisa memanfaatkan kesempatan yang ada sehingga bisa menggapai kehidupan yang lebih baik.

Baik Satelit Palapa maupun Palapa Ring tidak bisa tidak harus kita bangun karena itulah yang bisa semakin mendekatkan lebih dari 17.000 pulau yang kita miliki. Palapa Ring membangun jaringan serat optik yang menjangkau 34 provinsi dan seluruh kabupaten/kota di Indonesia. Total panjang kabel laut yang dipasang mencapai 35.280 kilometer, sementara kabel di daratan sepanjang 21.807 kilometer.

Proyek yang mulai dirancang sejak 2007 itu merupakan kerja sama yang dilakukan pemerintah dan swasta. Semua operator telepon ikut terlibat dalam pembangunan Palapa Ring karena akan mempermudah tugas mereka untuk menjangkau seluruh konsumen mereka di seluruh Indonesia.

Dengan telah terbentangnya serat optik di seluruh wilayah Indonesia, sekarang semua operator tinggal menarik kabel ke tiang pemancar yang mereka butuhkan untuk menjangkau konsumen mereka. Dengan serat optik, kualitas pengiriman data ataupun suara bisa jauh lebih baik.

Bahkan, pelayanan itu tidak lagi terbatas di wilayah Indonesia. Palapa Ring bisa menjadi hub bagi terbangunnya sistem komunikasi ke wilayah Pasifik dan juga Samudra Hindia. Indonesia akan menjadi tulang punggung jalur komunikasi yang bisa menyatukan dunia.

Inilah modal besar yang bisa dipakai untuk membawa Indonesia menjadi negara maju. Sekarang tantangannya ada di pundak orang Indonesia sendiri. Bagaimana kita semua mempersiapkan diri sebaik mungkin agar mampu mengambil manfaat positif bagi perbaikan kehidupan kita sebagai bangsa.

Presiden Jokowi dengan bahasa yang lebih mudah mengingatkan kita agar teknologi yang tersedia ini jangan hanya dipakai untuk berkata-kata. Apalagi kemudian hanya dipergunakan untuk kepentingan penyebaran hoaks atau berita palsu. Kita harus tumbuh menjadi bangsa yang bekerja, bangsa yang menghasilkan karya besar.

Kita harus bisa memanfaatkan infrastruktur yang tersedia ini untuk keperluan yang produktif. Kita bisa pergunakan untuk membuka wawasan dan menambah ilmu. Bahkan, bagi para pengusaha, infrastruktur ini bisa dipakai untuk menambah jejaring dan memasarkan produk-produk mereka.

Potensi ekonomi digital yang ada di depan kita luar biasa besar. Sekarang ini saja nilai ekonomi yang bisa dimanfaatkan sudah mencapai US$40 miliar. Sepuluh tahun ke depan nilainya, menurut Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, akan meningkat menjadi minimal US$133 miliar.

Untuk itu, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi harus yang pertama-tama memanfaatkan tersedianya Palapa Ring ini. Dengan teknologi yang tersedia sekarang tidak boleh ada lagi kendala dalam proses belajar dan mengajar. Murid di pelosok mana pun bisa belajar dari guru terbaik yang ada di seluruh Indonesia.

Investasi pendidikan harus ditujukan kepada penyediaan perangkat keras guna menunjang proses belajar dan mengajar. Pendidikan jarak jauh akan lebih efektif karena kualitas gambar dan suara lebih baik serta bisa dilakukan interaksi antara murid dan pengajar.

Dengan pembekalan sejak pendidikan dasar yang lebih baik, bukan hanya akan menghasilkan kualitas anak didik yang lebih baik, melainkan juga generasi masa mendatang yang lebih cemerlang. Apalagi jika kita bisa menanamkan pendidikan budi pekerti yang lebih baik, kita bukan hanya akan menghasilkan anak-anak Indonesia yang cerdas, melainkan juga yang mempunyai karakter dan sikap baik.

Sekarang ini kita prihatin dengan masa depan bangsa karena teknologi yang ada lebih dimanfaatkan untuk tujuan yang destruktif. Bangsa ini menjadi bangsa yang inward looking dan saling menjelekkan satu dengan yang lain. Padahal teknologi seharusnya kita pakai untuk membuka wawasan, berpikiran maju, dan menjadi modal bagi bangsa ini menjadi bagian masyarakat dunia yang modern.
 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More