Headline

DPR minta agar dana tanggap darurat bencana tidak dihambat birokrasi berbelit.

Pelaku Ekspor

SuryopratomoDewan Redaksi Media Group
30/8/2019 05:10
Pelaku Ekspor
SuryopratomoDewan Redaksi Media Group(MI)

PEKAN lalu dirilis brand-brand produk dunia yang paling diingat konsumen. Hanya satu brand asal Indonesia yang menembus kelompok papan atas yaitu Indomie. Produk pangan dari Kelompok Salim menjadi produk yang paling akrab dan banyak dikonsumsi masyarakat di kawasan ini.

Minimnya brand Indonesia yang dikenal masyarakat global mencerminkan terbatasnya produk ekspor yang bisa kita hasilkan. Ternyata kita masih dikenal sebagai negara produsen bahan mentah. Tidak usah heran apabila tidak banyak nilai tambah yang bisa kita dapatkan dari kekayaan sumber daya alam yang kita miliki.

Pertanyaannya, siapa yang harus memberikan nilai tambah dari sumber daya alam yang dimiliki negeri ini? Jawabnya pasti bukan pemerintah. Pemerintah tidak memiliki kemampuan untuk itu. Memang tugas pokok dan fungsi pemerintah juga bukan itu.

Kemampuan untuk bisa memberikan nilai tambah ada di tangan dunia usaha. Merekalah yang memiliki ketajaman untuk melihat potensi mana yang bisa dikembangkan menjadi bisnis yang bisa memberikan nilai tambah tinggi.

Apa yang dilakukan Kelompok Salim merupakan contohnya. Indonesia sebenarnya bukan negara produsen gandum. Bahkan setiap tahun negara harus mengimpor gandum sampai US$5 miliar. Namun, Kelompok Salim bisa memberi nilai tambah tinggi dari gandum itu dengan membuatnya menjadi mi dan dengan brand Indomie bahkan menguasai pasar mi siap saji dunia.

Kalau sekarang pemerintah berupaya untuk mendorong ekspor untuk memperbaiki defisit perdagangan dan bahkan defisit negara transaksi berjalan, yang harus dirangkul itu pengusaha. Pemerintah harus berkolaborasi dengan pengusaha untuk menetapkan produk-produk yang akan dijadikan unggulan Indonesia.

Kemauan untuk mendengarkan dunia usaha itulah yang harus dilakukan pemerintah. Jangan hanya lembaga swadaya masyarakat yang didengar pemerintah. Kalau Indonesia ingin maju, kita harus mendorong hadirnya working democracy, bukan talking democracy seperti sekarang ini.

Selama ini kita sering berbicara untuk menciptakan produk unggulan, tetapi kenyataan tidak pernah muncul produk unggulan itu. Bahkan istilah yang disampaikan kalangan pengusaha, kita malah sering menembak kaki kita sendiri. Kebijakan yang dikeluarkan pemerintah justru mengebiri kemampuan industri dalam negeri kita sendiri.

Sekarang kalau pemerintah bersungguh-sungguh mendorong ekspor, yang harus dilakukan ialah penguatan industri. Kita harus duduk bersama-sama merinci mana dari lima industri unggulan yang produknya akan benar-benar kita jadikan unggulan ekspor. Kalangan dunia usaha ikut dilibatkan untuk meminjam intuisi bisnis mereka.

Kita tahu ada lima industri yang sudah ditetapkan sebagai industri unggulan. Kelima industri unggulan itu adalah tekstil dan produk tekstil, makanan dan minuman, elektronik, otomotif, dan produk kimia. Sekarang kita harus berani mendetailkan apa produk yang benar-benar akan dijadikan andalan dengan mempertimbangkan comparative maupun competitive advantages yang kita miliki.

Sekali arah produk industri itu ditetapkan, semua harus mendukung penuh. Tidak boleh ada kementerian yang kemudian mengambil kebijakan yang menyimpang dari agenda nasional itu. Presiden harus bertindak tegas kepada pejabat yang mencoba menghambat.

Kita harus ingat bahwa dalam persaingan global sekarang ini kompetisi sangatlah ketat. Semua negara tidak pernah mau menjadi pecundang. Bahkan negara seperti Amerika Serikat ketika kalah bersaing menggunakan kekuatan politik dan hukum untuk menekan negara pesaingnya.

Untuk itulah kita harus sadar bahwa menjadi pemenang di kompetisi global itu tidaklak mudah. Kalau pun kita bersatu padu belum tentu otomatis bisa berhasil. Bisa dibayangkan kalau kita tidak kompak seperti sekarang ini.

Oleh karena itu, tidak pernah kita bosan mengingatkan untuk menjaga kekompakan. Bangsa ini sulit menjadi besar karena semua hanya berpikir kepentingan masing-masing. Begitu sulitnya untuk mau berpikir bagi kepentingan dan kebesaran Indonesia.

Penjelasan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam pembahasan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2020 hanya akan manis di mulut apabila tidak diterjemahkan dalam kebijakan yang benar-benar dijalankan. Persoalan defisit perdagangan maupun defisit neraca transaksi berjalan tidak bisa hanya dijawab dengan rencana meningkatkan ekspor dan mengurangi defisit barang maupun jasa. Tanpa ada keterlibatan dari dunia usaha yang menjalankan, semua hanya akan menjadi sebuah utopia.



Berita Lainnya
  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.

  • Melindungi Konsumen

    06/2/2026 05:00

    LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.

  • Duka Ngada Aib Negara

    05/2/2026 05:00

    'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)

  • Tipu Daya Judol

    04/2/2026 05:00

    JUDI online (judol) sejatinya bukanlah sebuah permainan keberuntungan. Ia barangkali salah satu mesin penipu paling canggih yang pernah diciptakan.

  • Tuas Rem Trump-Khamenei

    03/2/2026 05:00

    DUNIA kembali berdiri di bibir jurang.

  • Etika Mundur di Pasar Modal

    02/2/2026 05:00

    PATUT dicatat sebagai rekor nasional. Bila perlu dengan tinta tebal. Hanya dalam satu hari, lima pejabat otoritas keuangan mengundurkan diri.

  • Keadilan dalam Sepotong Es Gabus

    30/1/2026 05:00

    HUKUM dan keadilan mestinya berada dalam satu tarikan napas. Hukum dibuat untuk mewujudkan keadilan.

  • Kejar Jambret Dikejar Pasal

    29/1/2026 05:00

    DI negeri ini, keadilan tak jarang tersesat di tikungan logika dan persimpangan nalar.

  • Noel agak Laen

    28/1/2026 05:00

    IMANUEL 'Noel' Ebenezer memang bukan sembarang terdakwa korupsi.

  • Mudarat Paling Kecil

    27/1/2026 05:00

    RENCANA bergabungnya Indonesia dalam Board of Peace yang digagas oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk 'pembangunan kembali Gaza' segera memantik pro dan kontra.