Headline

Pemerintah menyebut suplai minyak dari Amerika akan meningkat.

Nh Dini, sang Oasis

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
07/12/2018 05:30
Nh Dini, sang Oasis
()

SEORANG sastrawan mati, tapi karya-karyanya bisa jadi akan terus hidup. Produktivitasnya berhenti, tetapi pembacanya bisa jadi terus bertumbuh. Sajak dan novel-novelnya mungkin terus diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa dan dikaji dengan aneka tafsir; drama-dramanya akan terus dipentaskan meski sang penulisnya terbaring di astana tak berepitaf.

Begitu pula dengan Nurhayati Sri Hardini Siti Nukatin yang akrab dipanggil Nh Dini (29 Februari 1936 - 4 Desember 2018), yang melahirkan banyak karya. Ia wafat dalam kecelakaan jalan raya di Semarang. Itu sebabnya ada yang mengatakan pengarang mati dalam ‘hidup
abadi’. Epos Odyssey dan Iliad karya pujangga buta Yunani, Hommer, abad 8-7 Masehi salah satu contohnya. Karya-karyanya terus hidup meski telah melampaui waktu hampir tiga milenium.

Wafatnya Nh Dini tak tergantikan. Ia berbeda dengan pembesar negara, misalnya, ketika berpulang segera dilantik penggantinya. Pengarang tidak! Ia lahir dari rahim alam sosial-budaya (keluarga) di situ dan bertumbuh lewat disiplin diri yang kerap bersifat personal. Ia wafat tanpa pengganti.

Biografi Nh Dini setidaknya tumbuh dalam alam seperti itu di Semarang. Ia bungsu lima bersaudara pasangan Saljowidjojo dan Kusaminah. Dongeng dan cerita yang dibawakan sang ibu menghidupkan imajinasinya. Sejak kanak-kanak, buku pelajarannya kerap penuh tulisan pelampiasan hati.

Sang ibunda, pembatik, selalu bercerita pada Dini tentang apa yang diketahui dari bacaan seperti Panji Wulung, Penyebar Semangat, dan tembang-tembang Jawa. Kebiasaan sang ibunda punya pengaruh besar membentuk watak Dini akan lingkungannya. Seusai membaca sebuah cerita, ia rekonstruksi dengan keyakinan menulis lebih bagus lagi. Ia lakukan terus-menerus.

Di sekolah menengah ia rajin mengisi majalah dinding dengan sajak dan cerita pendek. Ia mulai membacakan prosa berirama di RRI Semarang. Dini terus menulis meski menjadi pramugari dan menikah dengan seorang diplomat Prancis yang sibuk, Yves Coffin, pada 1960.

Ia mendapat penghargaan, antara lain, Anugerah Sastra Asia Tenggara (The SEA Write Award) dari Kerajaan Thailand pada 2003, Lifetime Achievement Award Ubud Writers and Readers Festival ( 2017).

Novelnya yang pertama Pada Sebuah Kapal (1972) butuh proses 10 tahun meski menulisnya hanya sebulan. Menyusul antara lain, La Barka (1975), Namaku Hiroko (1977), Orang-orang Trans (1983), Pertemuan Dua Hati (1) (1986), Tirai Menurun (1993),  Tanah Baru, Tanah Air Kedua (1997), Hati yang Damai (2) (1998), dan Dari Parangakik ke Kamboja (3) (2003).

Novel terbarunya yang terbit Maret lalu, Gunung Ungaran: Lerep di Lerengnya, Banyumanik di Kakinya, membuktikan Dini seorang penulis yang tak pernah berhenti. Ia setia menulis ikhwal dunia perempuan, yang tak jauh darinya.

Filsuf Prancis Roland Barthes boleh saja bilang dalam esainya The Death of The Author, ketika pengarang menulis karyanya, maka ia telah mati, terpisah dari teksnya. Teks itu bukan milik sang pengarang lagi, melainkan milik pembaca. Namun, menjadi sah pula pembaca menghubung-hubungkannya dengan biografi penulisnya. Pendekatan biografi serupa ini memang bisa menyesatkan, tetapi juga tak berdosa.

Sejak bercerai dengan suaminya (1984), ia pulang ke Indonesia dan terus bergiat di lapangan ini tanpa henti meski royaltinya tak menghidupi. Ia mendirikan pondok baca anak-anak di Sekayu, Semarang. Hidup Dini konsisten ada di lingkaran ini: menulis, buku, dan membaca. Sebuah dunia yang kian terpojokkan di era digital.

Ia beberapa kali sakit. Pengarang ternama ini tak mampu membayar ongkos rumah sakit ketika harus dirawat. Ia jual harta miliknya yang tak seberapa untuk kebutuhan hidupnya. Begitulah nasib pengarang di negeri yang kaya budaya ini. Padahal, putra bungsunya, Pierre Coffin, sutradara ternama di Hollywood, tapi Dini memang perempuan pantang meminta.

Sejak 2003, ibu dua anak ini, menetap di Kompleks Graha Wredha Mulya, Sinduadi, Mlati, Sleman, Yogyakarta, dengan tetap membuka taman bacaan untuk anak-anak. Ia edukasi anak-anak membaca sebanyak-banyaknya buku beragam tema, termasuk dongeng, fiksi, cerita rakyat, para tokoh, geografi atau lingkungan Indonesia, dan petualangan. Ia seleksi dengan hati-hati buku-buku itu.

Begitulah perjalanan seorang pengarang hingga wafatnya. Entah kapan dan di mana lahir Nh Dini yang lain dengan dedikasi yang sama pada sastra dan buku. Masyarakat yang kian dibuat tegang oleh para politikus yang tak kunjung jadi negarawan ini kian berutang pada sang pengarang, oasis di tengah masyarakat yang suka bicara, tetapi kurang suka membaca. Selamat berpulang, Nh Dini.*



Berita Lainnya
  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.

  • Melindungi Konsumen

    06/2/2026 05:00

    LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.