Headline
Pemerintah utamakan menjaga kualitas pendidikan.
Kumpulan Berita DPR RI
TERUS terang saya gagal objektif menilai tampang saya. Apakah tampang udik atau tampang kota. Atau malah tampang perbatasan udik dan kota, tampang tidak jelas.
Saya lahir di Jambi, tapi asal leluhur saya bernama Pahae yang memang udik, udik banget. Saya beberapa kali ke Boyolali, sejujurnya Boyolali jauh lebih maju jika dibandingkan dengan asal moyang saya Pahae, Tapanuli Utara. Jika Boyolali dinilai udik, apa penilaian yang pas untuk kampung moyang saya?
Apa pun jawabannya saya cinta kampung leluhur saya yang udik banget itu, seperti saya mencintai Jambi (tanah kelahiranku), Yogyakarta (tanah aku kuliah), Bekasi (tanah kediamanku), Jakarta (tanahku 'bercocok tanam'), dan Indonesia (tanah airku, tumpah darahku). Tentu saja saya pun cinta kita sesama anak bangsa, apa pun tampangmu.
Tampang anak bangsa menjadi kehebohan gara-gara seorang calon presiden menyebut tampang orang Boyolali sebagai tampang yang belum pernah masuk ke hotel mewah. Rasanya ini pertama kali dalam kehidupan kita berbangsa dan bernegara tampang warga sebuah kabupaten menjadi candaan serius seorang calon presiden.
Penilaian tampang Boyolali ialah penilaian yang merendahkan. Hal yang tidak elok, luas dikritik, kemudian diluruskan bahwa pernyataan itu diungkapkan dalam rangka dekat dengan rakyat agar suasana pertemuan cair, tidak kaku.
Dalam pandangan saya, yang merupakan persoalan besar bukan predikat 'tampang Boyolali' (perbandingannya 'saya bertampang Batak'), melainkan kesejahteraan rakyat yang diukur dengan belum pernah masuk ke hotel mewah. Ini ukuran yang amat ngawur.
Sejahtera ialah tujuh cukup, yaitu cukup pangan, cukup sandang, cukup papan, cukup terdidik, cukup sehat, cukup jaminan hari tua, dan cukup tersedia kuburan kalau mati. Bukan banyaknya rakyat Indonesia yang tampangnya mampu tidur di hotel mewah.
Tampang bukan kata yang aneh. Tampang muncul dalam percakapan warga sehari-hari. Misalnya, tampang preman, tapi hatinya baik. Sebaliknya ada yang tampangnya baik, ternyata jahat.
Kiranya perlu merujuk sebuah metafora intelektual untuk tidak tertipu oleh tampang. Bunyinya, don't judge a book by its cover. Jangan timbang sebuah buku dari sampulnya, tapi timbanglah dari isinya, bobotnya.
Sebuah buku dibaca dan dicerna barulah bisa berkesimpulan perihal bobotnya. Bahkan pikiran besar penulis buku mungkin baru jernih tertangkap setelah berulang membacanya.
Sampul buku yang memukau merupakan perabot yang perlu. Sebuah buku perlu untuk pajangan, untuk etalase, enak dipandang, tapi dengan penuh hormat kepada perancang wajah buku yang menghasilkan karya artistik, sebuah buku tidak ditimbang mutunya dari sampulnya, tampangnya, tetapi dari isinya.
Intinya, itu nasihat untuk tidak menilai orang dari fisiknya, kulit luarnya. Nilailah orang dari 'dalamnya', seperti kecerdasannya, terutama dari perbuatannya, amalnya, yang merupakan ekspresi dari 'dalamnya' karakter.
Saya kira itulah urusan besar dalam pemilihan umum, khususnya pemilihan presiden. Jangan pilih presiden dari kulit luarnya. Pilihlah presiden dari perbuatannya, amalnya, bukan dari tampangnya.
Untuk tidak tertipu tampang, orang perlu membaca rekam jejak calon presiden dan wakil presiden. Don't judge a book by its cover. Bacalah dalamnya, isinya, karakternya.
Kiranya isi dalam seorang pemimpin yang tulen berkarakter tidak memerlukan bermacam-macam sampul, berupa suara-suara berisik, suara-suara gaduh, suara-suara kebencian dari pendukungnya untuk menjatuhkan lawan agar dirinya terpilih menjadi presiden.
KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.
PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.
PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.
TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.
APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?
SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.
KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved