Headline
Pemerintah menyebut suplai minyak dari Amerika akan meningkat.
Pemerintah menyebut suplai minyak dari Amerika akan meningkat.
Kumpulan Berita DPR RI
TERUS terang saya gagal objektif menilai tampang saya. Apakah tampang udik atau tampang kota. Atau malah tampang perbatasan udik dan kota, tampang tidak jelas.
Saya lahir di Jambi, tapi asal leluhur saya bernama Pahae yang memang udik, udik banget. Saya beberapa kali ke Boyolali, sejujurnya Boyolali jauh lebih maju jika dibandingkan dengan asal moyang saya Pahae, Tapanuli Utara. Jika Boyolali dinilai udik, apa penilaian yang pas untuk kampung moyang saya?
Apa pun jawabannya saya cinta kampung leluhur saya yang udik banget itu, seperti saya mencintai Jambi (tanah kelahiranku), Yogyakarta (tanah aku kuliah), Bekasi (tanah kediamanku), Jakarta (tanahku 'bercocok tanam'), dan Indonesia (tanah airku, tumpah darahku). Tentu saja saya pun cinta kita sesama anak bangsa, apa pun tampangmu.
Tampang anak bangsa menjadi kehebohan gara-gara seorang calon presiden menyebut tampang orang Boyolali sebagai tampang yang belum pernah masuk ke hotel mewah. Rasanya ini pertama kali dalam kehidupan kita berbangsa dan bernegara tampang warga sebuah kabupaten menjadi candaan serius seorang calon presiden.
Penilaian tampang Boyolali ialah penilaian yang merendahkan. Hal yang tidak elok, luas dikritik, kemudian diluruskan bahwa pernyataan itu diungkapkan dalam rangka dekat dengan rakyat agar suasana pertemuan cair, tidak kaku.
Dalam pandangan saya, yang merupakan persoalan besar bukan predikat 'tampang Boyolali' (perbandingannya 'saya bertampang Batak'), melainkan kesejahteraan rakyat yang diukur dengan belum pernah masuk ke hotel mewah. Ini ukuran yang amat ngawur.
Sejahtera ialah tujuh cukup, yaitu cukup pangan, cukup sandang, cukup papan, cukup terdidik, cukup sehat, cukup jaminan hari tua, dan cukup tersedia kuburan kalau mati. Bukan banyaknya rakyat Indonesia yang tampangnya mampu tidur di hotel mewah.
Tampang bukan kata yang aneh. Tampang muncul dalam percakapan warga sehari-hari. Misalnya, tampang preman, tapi hatinya baik. Sebaliknya ada yang tampangnya baik, ternyata jahat.
Kiranya perlu merujuk sebuah metafora intelektual untuk tidak tertipu oleh tampang. Bunyinya, don't judge a book by its cover. Jangan timbang sebuah buku dari sampulnya, tapi timbanglah dari isinya, bobotnya.
Sebuah buku dibaca dan dicerna barulah bisa berkesimpulan perihal bobotnya. Bahkan pikiran besar penulis buku mungkin baru jernih tertangkap setelah berulang membacanya.
Sampul buku yang memukau merupakan perabot yang perlu. Sebuah buku perlu untuk pajangan, untuk etalase, enak dipandang, tapi dengan penuh hormat kepada perancang wajah buku yang menghasilkan karya artistik, sebuah buku tidak ditimbang mutunya dari sampulnya, tampangnya, tetapi dari isinya.
Intinya, itu nasihat untuk tidak menilai orang dari fisiknya, kulit luarnya. Nilailah orang dari 'dalamnya', seperti kecerdasannya, terutama dari perbuatannya, amalnya, yang merupakan ekspresi dari 'dalamnya' karakter.
Saya kira itulah urusan besar dalam pemilihan umum, khususnya pemilihan presiden. Jangan pilih presiden dari kulit luarnya. Pilihlah presiden dari perbuatannya, amalnya, bukan dari tampangnya.
Untuk tidak tertipu tampang, orang perlu membaca rekam jejak calon presiden dan wakil presiden. Don't judge a book by its cover. Bacalah dalamnya, isinya, karakternya.
Kiranya isi dalam seorang pemimpin yang tulen berkarakter tidak memerlukan bermacam-macam sampul, berupa suara-suara berisik, suara-suara gaduh, suara-suara kebencian dari pendukungnya untuk menjatuhkan lawan agar dirinya terpilih menjadi presiden.
'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.
POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita
SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan
PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik.
"SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."
SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.
MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.
LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.
ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.
DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.
DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.
SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan
TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.
LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved