Headline
Pemerintah utamakan menjaga kualitas pendidikan.
Kumpulan Berita DPR RI
BERDEBAT di ruang publik dalam konteks pemilihan presiden seperti kian menjadi penting. Seperti kian menjadi penting, padahal senyatanya tidak benar-benar penting karena kebanyakan rakyat yang punya hak pilih tidak menonton debat.
Berdebat sedikitnya mengandalkan dua hal pokok, yaitu mulut dan otak. Ekspresinya bermacam-macam. Pertama, yang mulutnya tajam dan pikirannya pun tajam.
Kedua, pendebat yang mulutnya tajam, tetapi pikirannya majal. Ini pendebat yang percaya betul dengan mulutnya jika dibandingkan dengan otaknya.
Ketiga, yang mulutnya biasa saja, tapi pikirannya tajam. Ini pendebat yang percaya betul dengan otaknya, tapi kurang memikat karena cenderung bicara datar.
Keempat, yang mulutnya tajam, pikirannya biasa saja. Mulutnya bisa memukau, sekalipun isinya pas-pasan.
Tentu saja, ragam pendebat dapat diperpanjang bila bahasa tubuh dimasukkan sebagai faktor yang turut bermain. Bayangkanlah kehebohan debat di televisi bila para pendebat saling membela calon presiden yang diusungnya dengan bahasa tubuh bagaikan di panggung sandiwara. Bahkan, sekalipun jarang, terkesan seperti berada di panggung tinju.
Yang hendak digarisbawahi ialah perihal pendebat yang mengandalkan ketajaman mulut, terlebih tiada disertai ketajaman pikiran. Lebih banyak adu mulut ketimbang adu gagasan.
Adu tajam-tajaman mulut berkemungkinan besar menaikkan temperatur. Debat menjadi panas. Di dalam hati yang panas rasio cenderung terlupakan.
Terlepas apakah debat publik berpengaruh atau tidak bagi pengambilan keputusan di bilik suara, kiranya debat publik dapat dimanfaatkan sebagai forum pendidikan politik bagi pemirsa yang menontonnya. Eksplisit di sini disebut pemirsa karena debat yang mengandalkan ketajaman mulut menonjol muncul di televisi.
Pendidikan kepublikan terutama dituntut memberikan pencerahan. Pencerahan kepublikan kian bertambah penting dan relevan di tengah banjir informasi yang tidak terpisahkan dengan banjir hoaks, banjir misinformasi.
Apa yang dicerahkan dalam debat publik? Jawabnya, yang suram, yang buram, bahkan yang bohong di ruang publik.
Juru debat atau juru bicara calon presiden kiranya bukan mesin, bukan robot politik yang hanya mengenal satu kata 'pokoknya'. Mereka orang-orang bermartabat, yaitu 'guru-guru' politik kepublikan (bedakan dengan pengajar) yang turut mencerahkan cakrawala anak bangsa. Di dalam banjir informasi yang juga berisi banjir misinformasi, banjir hoaks, sang guru menunjukkan mana informasi yang penting, mana yang tidak penting, mana yang benar, dan mana yang bohong.
Pencerahan demikian itu tidak terwujud bila yang dominan terjadi dalam debat publik ialah ketajaman mulut. Inilah mulut yang bahkan berani mengarang data.
Adu ketajaman mulut jelas menciptakan kegaduhan, kebisingan, dan berisik. Ruang publik penuh suara-suara sumbang yang dapat menyempitkan dan mengeruhkan hati dan pikiran.
Akan tetapi, orang waras tidak perlu terlalu risau dengan tontonan debat publik yang mengandung penyempitan dan pengeruhan itu. Ambillah remote control, lalu pencet ganti saluran televisi. Gunakanlah kebebasan dan kecerdasan menonton televisi dengan praktis dan bijaksana. Habis perkara.
Pemilu presiden jelas memilih pemimpin bangsa dan negara untuk kita semua. Debat publik dalam konteks pemilihan presiden diharapkan memberi potret besar tentang lima tahun ke depan sejak hari pencoblosan 17 April 2019.
Memberikan potret besar alias pencerahan, bukan potret tetelan atau kenyinyiran tentang hari kemarin yang dilontarkan dengan ketajaman mulut.
KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.
PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.
PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.
TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.
APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?
SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.
KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved