Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

MINT

27/7/2015 00:00
MINT
Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group(MI/Seno)

RASANYA tak ada ekonom asing seyakin ekonom Inggris Jim 0'Neill tentang kehebatan masa depan ekonomi Indonesia. Saking yakinnya, mantan kepala ekonomi Goldman Sachs itu tak perlu lagi berseru wow seperti ketika ia diyakinkan ihwal ekonomi Meksiko, Turki, dan Nigeria.

O'Neill tersohor berkat penemuannya atas BRIC (Brasil, Rusia, Indonesia, China) pada 2001 dan kemudian pada 2010 menambahkan satu negara lagi Afrika Selatan (South Africa) sehingga menjadi BRICS sebagai kelompok emerging market yang memengaruhi ekonomi dunia.

Akan tetapi, pada 6 Januari 2014, melalui radio BBC, ia melansir MINT (Meksiko, Indonesia, Nigeria, Turki) sebagai kelompok ekonomi baru, yang kembali diwacanakan dalam satu talk show di televisi BBC awal bulan ini (3/7). MINT perubahan yang terdengar jauh lebih memikat dengan menyisihkan kelompok BRICS.

Dalam perubahan itu O'Neill, yang tahun lalu diangkat menjadi profesor ekonomi honoris causa di University of Manchester, tetap mempertahankan dan memperhitungkan Indonesia sebagai satu-satunya negara masuk ke kelompok baru bakal menjadi raksasa ekonomi di dunia.

Dari perspektif benua, bahkan Indonesia tinggal satu-satunya dari Asia. Tentu dengan tetap mengindahkan India dan Tiongkok kendati pertumbuhan ekonomi keduanya menurun. Yang jelas Tiongkok kini diwanti-wanti bakal mengalami krisis.

Ketidakefisienan ekonomi negara raksasa itu sesungguhnya ditengarai telah berlangsung lama. Pada 2006, contohnya, ada yang menghitung Tiongkok memerlukan ekstra investasi US$5,4 untuk memproduksi ekstra output US$1. Padahal, 20 tahun sebelumnya hanya diperlukan US$4 untuk memperoleh hasil sama.

Ekspor Tiongkok dinilai murah artifisial karena besarnya negara menyangga merosotnya nilai renmimbi terhadap dolar. Meksiko menggiurkan karena pesatnya kemajuan infrastruktur dan terutama meningkatnya kelas menengah. Bahkan jumlah kelas menengah mencapai lebih separuh penduduk (60,1%). Itulah lapisan masyarakat yang tumbuh dalam 15 tahun terakhir, 17% dari jumlah itu menjadi kelas menengah pada 2000-2010.

Dalam satu dekade jurang kaya-miskin berkurang, sekitar 7 poin pada Indeks Gini, di atas Argentina dan Brasil. Wajarlah jika posisi Brasil digantikan Meksiko.

Afrika Selatan digeser oleh Nigeria yang dinilai berada di jalur ekonomi yang benar menjadi ekonomi terbesar di Afrika dan bakal menjadi negara dengan nominal GDP peringkat ke-20 di dunia pada 2050.

Perubahan terjadi di bawah Menteri Keuangan Ngozi Okonjo-Iweala, yang belajar ekonomi di Harvard dan MIT, serta dua dasawarsa bekerja di Bank Dunia, bahkan menjadi wakil presiden. Pada 2003, ia kembali ke Nigeria. Dalam 10 tahun (2004-2014) GDP Nigeria naik tiga kali lipat disertai perubahan mutu pertumbuhan antara lain kemiskinan menurun.

Nigeria salah satu negara dengan tingkat kematian ibu tertinggi di dunia dapat berhasil dipangkas dari 545 per 100.000 perempuan menjadi 350. Yang menarik di tengah gonjang-ganjing Uni Eropa akibat kebangkrutan Yunani, dari benua itu justru tampil Turki sebagai emerging market.

Salah satu petunjuk pesatnya pertumbuhan Turkish Airlines mengunjungi 261 destinasi di Eropa, Asia, Afrika, Amerika, menjadikannya maskapai penerbangan terbesar keempat berdasarkan jumlah tujuan (Februari 2015).

Turki seperti menyuarakan ironi. Negara itu berupaya keras agar diterima bergabung bermatauangkan euro, tetapi ditolak.

Melihat ke belakang, bila ekonomi Yunani dibandingkan dengan Turki ketika keduanya melamar bermata uang tunggal euro, Jerman sebagai tulang punggung euro sekarang kiranya menyesal meloloskan Yunani, sebaliknya tetap tidak menyesal menolak Turki sekalipun ekonominya lebih kinclong.

Mengapa? Setidaknya karena tekanan imigran Turki sangat berat bagi Jerman dibanding anggota Uni Eropa lain. Di Jerman hidup sekitar 3 juta orang Turki, etnik minoritas terbesar di Jerman. Lebih separuh tetap berwarga negara Turki, tetapi anak-anaknya lahir di Jerman.

Kembali ke negeri sendiri, Jim 0'Neill menilai potensi ekonomi Indonesia lebih kuat tarikannya ketimbang Rusia. Besarnya penduduk usia muda merupakan aset hebat. Dia percaya pertumbuhan ekonomi mencapai 7% dan pada 2050 Indonesia menjadi salah satu raksasa ekonomi dunia.

Tentu orang tidak hidup semata untuk masa depan, terlebih masa depan yang amat jauh. Karena itu, pemerintah hendaknya tiap saat melakukan autokritik apakah kemampuan menciptakan lapangan kerja meningkat atau tetap mandek. Sudah tentu, terus mengembangkan kapasitas dan kapabilitas sistem sosial merawat dan membela kerukunan suku, agama, dan ras (SARA).

Tanpa itu Indonesia bukan BRICS atau MINT, tapi bisa tinggal puing.



Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.