Headline

Indonesia akan alihkan sebagian impor minyak mentah ke AS.

Amir Hamzah

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
14/11/2017 05:31
Amir Hamzah
(Wikipedia)

REVOLUSI kadang memunculkan wajah paradoks sebab harapan dan kengerian bisa saling bertemu di situ. Benar, peringatan ini; revolusi kerap memakan anak kandungnya sendiri. Revolusi sosial pada perang kemerdekaan agaknya menjadi contoh betapa perubahan radikal itu menjadi pembenar mereka yang merasa paling berhak memiliki Republik.

Dengan berbekal prasangka, mereka bisa menghabisi siapa saja yang dianggap musuh, termasuk pembela setia Republik. Amir Hamzah, sang 'Republikan’ tulen itu hanya salah satu anak kandung revolusi yang menjadi korban. Sosok yang diberi predikat 'Raja Penyair Pujangga Baru’ itu, lewat sastra, bahasa, dan aktivitas kepemudaannya gigih menyuarakan kemerdekaan Indonesia.

Bangsawan Langkat yang merakyat ini tak segan mengajar di sekolah-sekolah bumiputera, seperti Perguruan Rakyat, Taman Siswa, dan sekolah-sekolah Muhammadiyah. Ia meyakini kemerdekaan bisa dicapai jika masyarakat cukup mendapat pengetahuan. Namun, apa pun ikhtiar sang nasionalis ini untuk Indonesia, ningrat darahnya dianggap salah satu dosanya.

Ia masuk daftar pemuda sosialis di Langkat, salah satu yang harus dihabisi. Dalam semangat melawan pemerintah kolonial Belanda, bahkan setelah kemerdekaan dicapai, Amir dipancung para Pemuda Sosialis Indonesia pada revolusi sosial di Kwala Begumit, Sumatra Timur (kini Sumatra Utara), pada 20 Maret 1946.

Sebelumnya, selama dua pekan Amir dan beberapa keluarga Sultan diculik dan disiksa. Ijang Widjaja, sang algojo, ialah mandor kebun, guru silat Kesultanan Langkat, yang amat disayang Amir. Tak ada teman, tak ada majikan. Permintaan Amir supaya ia tak dibunuh sebab 'nanti Republik yang dipersalahkan' tak digubris. Ijang harus membunuh sosok yang dihormatinya itu.

Menolak artinya ia yang akan dihabisi. Jasad penyair kelahiran Tanjung Pura, Langkat, 28 Februari 1911 itu baru ditemukan di sebuah kebun pisang tiga setengah tahun kemudian setelah pemerintah pusat turun tangan. Jasad Amir berada dalam satu lubang dengan delapan korban revolusi lainnya.

Sebagai keluarga Sultan Langkat, Amir mempunyai gelar Pangeran Langkat Hulu. Namun, ia juga asisten residen setingkat bupati di Binjai yang mewakili pemerintahan Indonesia. Dua dunia dan dua kaki inilah yang membuat pemuda sosialis tak memberinya ampun. Ia tetap dicap pembela Belanda.

Tahun-tahun itu memang telah menulai popularitas dari kepenyairannya. Bersama Armijn Pane dan Sutan Takdir Alisyahbana, Amir mendirikan majalah Poejangga Baroe. Ia penganjur yang gigih agar bahasa Melayu menjadi bahasa persatuan. Kumpulan sajaknya, Nyanyi Sunyi, Buah Rindu, dan karya terjemahannya, Setanggi Timur, memang telah dikenal luas di kalangan kaum terpelajar.

Dalam sebuah mahkamah, Ijang dipersalahkan dan divonis 20 tahun penjara. Namun, hanya dua tahun di penjara, berkat lobi 'orang-orang kiri’, pada 1950 ia dibebaskan. Alasannya, perbuatan Ijang melakukan pembunuhan karena perjuangan. Namun, meski bebas, empat tahun kemudian Ijang meninggal mengenaskan.

Setelah bebas dari penjara ia tetap hidup terkungkung dalam sebuah kamar tertutup. Ia dianggap gila. Perasaan bersalah yang ada tak habis-habis selalu menghantuinya. Amir Hamzah ditahbiskan sebagai pahlawan nasional pada November 1975. Kiprahnya bisa dibaca dalam banyak buku, antara lain Amir Hamzah:

Pangeran dari Seberang (Nh Dini), Kenangan Masa: Mengenang Pribadi Pujangga Amir Hamzah (Saidi Husny), Amir Hamzah sebagai Manusia dan Penyair (Abrar Yusra), Penemuan Pusara Pujangga Amir Hamzah (Zainuddin Hamid Rokyoto), T. Amir Hamzah (Danil Ahmad), Biografi Sejarah Pujangga dan Pahlawan Nasional Amir Hamzah (Tengku MH Lah Husny), Pahlawan Nasional Amir Hamzah (Sagimun MD), Amir Hamzah: Raja Penyair Pujangga Baru (HB Jassin), Tengku Amir Hamzah: Tokoh Pergerakan Nasional, Konseptor Sumpah Pemuda, Pangeran Pembela Rakyat (Djohar Arifin Husin), dan yang terbaru Paradoks Amir Hamzah (Tim Majalah Tempo).

Tahun ini ada empat nama yang ditahbiskan menjadi pahlawan nasional, yakni almarhum TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid NTB), almarhumah Laksamana Malahayati (Aceh), Sultan Mahmud Riayat Syah (Kepri), dan almarhum Lafran Pane, pendiri HMI, (DI Yogyakarta). Sedikitnya kini ada 173 nama sebagai pahlawan nasional.

Namun, Amir Hamzah pahlawan tak biasa. Ia nama yang penuh ironi. Revolusi membuatnya tak berkompromi dengan yang tak sepenuhnya tegas. Ia salah satu korbannya.*



Berita Lainnya
  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.