Senin 02 Januari 2023, 05:10 WIB

Tentang Pendidikan Hijau

Ratno Lukito Dewan Pengawas Yayasan Sukma | Opini
Tentang Pendidikan Hijau

Dok. Pribadi

 

PERBINCANGAN mengenai sekolah hijau saat ini menjadi perbincangan serius dalam sistem pendidikan kita. Isu itu muncul sejalan dengan semakin kencangnya persoalan perubahan iklim yang terus menghantui dunia. Sebetulnya isu itu muncul sejalan dengan berkembangnya industri raksasa di sektor pertambangan minyak, gas alam, dan panas bumi.

Satu sisi kita berbahagia karena dengan semakin dimanfaatkannya kekayaan alam akan mengantarkan kehidupan manusia semakin mudah dan menguntungkan. Namun, kita harus ingat karena penemuan-penemuan kandungan alam tersebut justru membawa kerugian pada kehidupan di bumi. Dampak negatif yang ditanggung alam ini tidaklah kecil. Kerusakan alam beserta keanekaragaman hayati beserta habitat-habitatnya tidak mungkin terhindarkan dari semakin tergerusnya kekayaan bumi tersebut.

Berbagai industri raksasa yang telah berhasil mengambil kekayaan alam, diklaim menjadi penyumbang emisi gas karbon dioksida terbesar di dunia yang menyebabkan efek gas rumah kaca sebagai salah satu gejala pemanasan global. Kerusakan itu pun masih harus ditambah dengan efek negatif sebagai hasil dari perubahan iklim, seperti semakin buruknya kualitas air, punahnya spesies dan habitatnya, hutan semakin menyusut, serta menurunnya produktivitas pertanian.

Dari situlah kita tahu bahwa usaha-usaha dari para cendekiawan lingkungan kurang menghubungkan perubahan iklim tersebut dengan pendidikan, yang mampu turut serta memberikan peran solusi dari perubahan iklim ialah suatu keburukan.

 

Pendidikan hijau

Isu perubahan iklim kini telah menjadi isu yang terus berkepanjangan. Karena itu, pemerintah diharapkan dapat turun tangan dengan memberikan kebijakan untuk merevisi kurikulum dalam upaya untuk menghijaukan sektor pendidikan yang di dalamnya diatur muatan mata pelajaran yang secara eksklusif membahas mengenai lingkungan hidup dan kependudukan.

Pendidikan hijau dapat diartikan sebagai suatu upaya pembentukan pengetahuan, kesadaran diri, serta karakter dan perilaku dalam proses pembelajaran yang menjadikan lingkungan sebagai sumber belajarnya. Dengan demikian, lingkunganlah yang dijadikan sebagai sumber utama pembelajaran tersebut. Jika demikian, ruang lingkup pendidikan hijau dapat diwujudkan dengan membentuk sikap ilmiah terhadap masalah lingkungan, termasuk terhadap hewan dan tumbuhan, serta munculnya kesadaran global siswa mengenai isu-isu lingkungan hidup.

Karena penekanannya ialah pada pembentukan karakter dan perilaku siswa, hasil pendidikan hijau itu ialah munculnya sikap empati, peduli, serta respons yang aktif dan adaptif terhadap lingkungan. Peran pemerintah dalam hal ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dan wawasan siswa mengenai lingkungan hidup sehingga pada gilirannya akan mengubah pola perilaku mereka dalam merespons berbagai isu tentang kerusakan lingkungan dan cara terbaik untuk penanggulangannya.

Untuk itu, output dari kebijakan itu dapat berwujud nyata pada mata pelajaran yang ada di sekolah, bahwa mata pelajaran tersebut harus berorientasi pada pembentukan etika dan karakter secara transformatif bagi seluruh siswa terhadap lingkungan.

 

Sadar lingkungan

Definisi pendidikan lingkungan hidup menurut UNESCO, berdasar pada Deklarasi Tbilisi 1977, ialah suatu proses untuk membangun populasi manusia di dunia yang sadar dan peduli terhadap lingkungan secara keseluruhan dan segala masalah yang berkaitan dengannya, serta masyarakat yang memiliki pengetahuan, keterampilan, sikap dan tingkah laku, motivasi serta komitmen untuk bekerja sama, baik secara individu maupun secara kolektif, untuk dapat memecahkan berbagai masalah lingkungan saat ini dan mencegah timbulnya masalah baru.

Sementara itu, dalam piagam Belgrade (1975) dinyatakan bahwa pendidikan lingkungan hidup merupakan pendidikan seumur hidup yang komprehensif dan responsif terhadap perubahan dunia yang begitu cepat berubah. Dengan demikian, setiap individu harus dipersiapkan untuk memahami masalah utama dari dunia saat ini, memiliki keterampilan dan atribut yang diperlukan untuk berperan aktif dalam memperbaiki kehidupan, dan melindungi lingkungan dengan memperhatikan nilai-nilai etika.

Problem yang kita hadapi sekarang ialah bagaimana kita dapat menerjemahkan aturan yang ada dari Deklarasi Tbilisi dan Piagam Belgrade tersebut ke realitas pembelajaran. Menciptakan manusia yang sadar betul dengan lingkungan hidup sehingga mampu memecahkan segala persoalan yang muncul tidaklah semudah membalikkan tangan. Dia ialah proses yang berlaku selama hidup dan selalu aktif dalam merespons isu-isu lingkungan di dunia ini. Itulah yang menurut Hawthorne dan Alabaster harus diciptakan warga negara hijau yang mampu untuk menggunakan kekuatan demokratis dan konsumen hijau yang menggunakan kekuatan finansial mereka untuk melindungi lingkungan (Hawthorne & Alabaster, 1999).

Ahli pendidikan lingkungan berpendapat bahwa kita dapat mengubah perilaku seseorang mengenai lingkungan dengan memberinya pengetahuan tentang lingkungan berikut masalah-masalah yang terkait. Pemikiran itu berangkat dari asumsi bahwa jika kita memberi pengetahuan kepada individu, pada gilirannya ia akan memiliki kesadaran mengenai lingkungan dan permasalahan-permasalahan yang berhubungan dengan lingkungan, dan kemudian akan lebih termotivasi untuk bertindak terhadap lingkungan dengan lebih bertanggung jawab. Pemikiran konvensional lainnya menghubungkan antara pengetahuan dan sikap serta sikap dengan perilaku (Hungerford & Volk, 1990).

Sejalan dengan Deklarasi Tbilisi 1977 tersebut, UU RI No 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, menyebutkan bahwa lingkungan hidup ialah 'kesatuan ruang dalam semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang memengaruhi kelangsungan peri kehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup yang lain’.

Sementara itu, menurut UU No 20 Tahun 2003 Pasal 1 tentang Sistem Pendidikan Nasional, 'Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar agar siswa secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak manusia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat bangsa dan negara’.

Dengan demikian, pendidikan lingkungan hidup ialah upaya mengubah perilaku dan sikap yang dilakukan elemen masyarakat yang bertujuan meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kesadaran masyarakat tentang nilai-nilai lingkungan dan isu permasalahan lingkungan yang dapat menggerakkan individu berperan aktif dalam upaya pelestarian dan keselamatan lingkungan untuk kepentingan generasi sekarang dan yang akan datang (Mestika Sekarwinahyu, Modul 01: Sejarah dan Konsep Dasar Pendidikan Lingkungan Hidup).

Inti pendidikan hijau ialah pendidikan lingkungan hidup yang harus kita perjuangkan bersama dalam sistem pendidikan kita sebagai bentuk tanggung jawab kita kepada anak cucu.

Baca Juga

MI/Ebet

Merawat Ruang Publik

👤Adiyanto Wartawan Media Indonesia 🕔Minggu 05 Februari 2023, 05:30 WIB
Pandai-pandailah memilah karena sebagian di antara informasi yang kini melimpah ialah...
DOK pribadi.

Festival Kopi: sebuah Langkah Besar Media Indonesia

👤Bagas Hapsoro, Dubes RI untuk Swedia (2016-2020), Staf Ahli Asosiasi Kopi Indonesia 🕔Sabtu 04 Februari 2023, 15:30 WIB
Kepedulian terhadap kopi tidak akan berarti tanpa perhatian penuh kepada para...
Dok. Pribadi

Gastrodiplomasi Indonesia di Eropa

👤Arief Rosyid Hasan Warga Nahdliyin, Ketua Umum PB HMI 2013-2015 🕔Sabtu 04 Februari 2023, 05:00 WIB
BANGUNAN itu terletak di sudut Jalan Celle de Viriato 39 Madrid, Spanyol, di atas pintu utamanya terdapat papan cukup besar bertuliskan...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya