Headline

Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa. 

Program Simulasi Bisnis Jembatani Kesenjangan Pendidikan dan Wirausaha

Rahmatul Fajri
13/2/2026 11:10
Program Simulasi Bisnis Jembatani Kesenjangan Pendidikan dan Wirausaha
Ilustrasi(Dok Istimewa)

INDONESIA tengah bersiap menghadapi periode krusial bonus demografi yang diprediksi memuncak pada 2030-2040 di tengah upaya mewujudkan visi Indonesia Emas 2045. Dari proyeksi Badan Pusat Statistik (BPS), pada fase ini, proporsi penduduk usia produktif (15-64 tahun) mendominasi dengan komposisi lebih dari 60% dari total populasi. Fenomena ini jadi peluang serta tantangan besar yang memerlukan kesiapan matang.

Pada sisi lain, Indonesia membutuhkan akselerasi jumlah wirausaha, khususnya dari kalangan generasi muda. Mengutip data Kemenkop UKM, rasio kewirausahaan Indonesia kini baru mencapai 3,47%. Padahal, untuk bertransformasi jadi negara maju pada 2040, Indonesia memerlukan rasio wirausaha ideal sebesar 12%.

"Kesenjangan angka ini menegaskan urgensi hadirnya wadah strategis yang mampu memupuk semangat, naluri, serta keterampilan kewirausahaan bagi generasi penerus bangsa," ungkap Founder & CEO Redea Institute Antarina S F Amir, di sela pengumuman pemenang program Virtual Company Indonesia (VCI), di Jakarta, Rabu (11/2/2026).

Menurut dia, tantangan terbesar pendidikan saat ini bukan tentang minimnya informasi, tetapi minimnya implementasi. "Banyak yang terbiasa mencari satu jawaban tepat, padahal dunia nyata butuh keberanian mengambil keputusan di tengah ketidakpastian. Di sini peran penting Redea Institute sebagai jembatan penghubung,” ujarnya.

"Melalui VCI, Anda tidak sekadar menyerap teori, melainkan terjun langsung dalam dinamika pengambilan keputusan bisnis. Anda mendobrak siklus lama dan melangkah melampaui batasan buku teks,” tambahnya.
VCI merupakan platform simulasi bisnis mendalam bagi siswa SMA dan SMK yang digelar Sekolah HighScope Indonesia (SHI) di bawah naungan Redea Institute.

Tahun ini partisipan program mencakup institusi pendidikan ternama, di antaranya SMKN 18 Jakarta, SMKN 20 Jakarta, SMKN 43 Jakarta, SMKN 51 Jakarta, serta SMA HighScope Indonesia cabang Bali, Denpasar, dan TB Simatupang.

Program tahunan VCI diawali babak penyisihan Business Plan Competition. Dalam kompetisi ini, setiap perusahaan virtual yang tergabung jaringan VCI berkompetisi mengeksplorasi ide bisnis serta menguji kompetensi manajerial di hadapan dewan juri yang terdiri dari ahli dan praktisi industri.

Ajang ini menjadi momentum bagi peserta untuk mengasah kemampuan dan memperluas wawasan. Selain proses evaluasi yang ketat, pelaku bisnis dari berbagai sektor hadir berbagi pengalaman dan memberikan motivasi.

Tahun ini, dewan juri menghadirkan figur kompeten seperti Syukriyatun Ni’amah (Founder & CEO Robries), Erwin Octavia (Founder Makeblock Indonesia), dan Jacky Mussry (Vice Chancellor MarkPlus Institute). Adapun pemenang tahun ini pada kategori Advanced yaitu Caplok by NVCo (outstanding presentation), Titip Aja! by Kudeta (best marketing strategy), Jelantic by Haegea (best innovative idea), dan Caplok by NVCo (best business plan).

Pada kategori Basic yakni Santara, SMKN 20 (outstanding presentation), Ventuphous, SMKN 51 (best marketing strategy), Revo’N, SMKN 43 (best innovative idea), dan Santara, SMKN 20 (best business plan).

Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta Nahdiana menekankan pentingnya program seperti VCI bagi masa depan siswa. “Riset University of Arizona menunjukkan siswa aktif dalam kompetisi bisnis memiliki peluang tiga kali lebih besar untuk sukses membangun usaha dan memperoleh penghasilan lebih tinggi,” ungkapnya.

“Kompetisi ini juga selaras dengan strategi besar yang dicanangkan Gubernur Pramono Anung dan Wagub Rano Karno dalam mentransformasi dunia pendidikan. Kami berkomitmen penuh dalam transformasi vokasi melalui sinergi dan kolaborasi industri,” tutupnya. (H-2)
 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya