Headline

Pelaku usaha menagih penyederhanaan regulasi dan kepastian kebijakan dari pemerintah.

Hadir untuk Percaya

Ernita Wakil Kepala SD Sukma Bangsa Lhokseumawe
16/2/2026 05:10
Hadir untuk Percaya
(MI/Duta)

BEBERAPA pekan setelah pembagian rapor, suasana sekolah biasanya dipenuhi senyum lega. Namun, satu telepon pada Kamis pekan lalu membawa gelombang berbeda: keresahan yang mencari tempat berlabuh. Seorang wali murid meminta bertemu. Suaranya bergetar menahan beban yang tak muat disampaikan lewat pesan singkat.

Sebagai unsur pimpinan sekolah, saya memandang wali murid sebagai mitra penting dalam tumbuh kembang siswa. Meluangkan waktu untuk mendengar bukan hanya kewajiban profesional, melainkan juga tanggung jawab moral. Panggilan itu bukan sekadar pertanyaan, melainkan juga luapan kegelisahan seorang ibu yang mencoba memahami masa depan pendidikan anaknya.

 

HANYA MENDENGAR

Sore itu ia datang. Seorang ibu dosen yang terbiasa berpikir terstruktur tentang masa depan. Kami duduk di ruangan yang sengaja saya buat senyaman ruang ngobrol. Saya tawarkan segelas air, membiarkannya mengatur napas sendiri. Saya tidak memulai dengan pertanyaan, hanya menunggu.

Ia bercerita tentang nilai anaknya yang tak kunjung membaik. Kekhawatirannya bahwa capaian di kelas rendah akan menjadi fondasi rapuh hingga kelak anaknya di bangku kuliah. Ia menyampaikan kegelisahan, kekecewaan, bahkan kemarahan dengan emosi kuat. Suaranya kadang tinggi, hampir pecah. Sepanjang itu, saya tidak tergesa memberikan penjelasan, tidak menyanggah, tidak mencari siapa yang benar. Saya menjaga kontak mata, menghadirkan bahasa tubuh yang menerima, membiarkan kata-katanya mengalir tanpa jeda. Tidak ada interupsi, pembelaan, atau penilaian.

Beberapa kali ia berhenti, seolah memberikan ruang saya merespons. Namun, saya hanya diam, memberikan isyarat bahwa saya masih mendengar. Dalam hati saya sadar, sebagaimana disampaikan Mohamad Yusak Anshori (2024) dalam The Art of Listening, mendengarkan ialah metode aktif menangani persoalan, bukan tindakan pasif.

 

TEMBOK YANG RUNTUH

Setelah hampir 40 menit berbicara, napasnya mulai teratur. Bahunya yang semula tegang perlahan turun. Lalu, terjadi sesuatu yang tidak saya duga. Ia menatap saya, bukan dengan tatapan menuntut seperti saat datang, melainkan dengan tatapan seorang ibu yang lelah membawa beban sendirian. Ia pun bertanya, "Menurut Ibu, bagaimana seharusnya saya menyikapi ini?"

Kalimat tanya itu datang bukan dengan nada tinggi, melainkan lirih. Seperti orang yang akhirnya mengaku bahwa ia tidak membutuhkan pembelaan, ia hanya butuh pegangan. Di situlah saya tahu, tembok antara 'saya (sekolah)' dan 'dia (orangtua)' telah runtuh. Kini yang tersisa hanya dua orang dewasa yang menginginkan hal terbaik untuk seorang anak.

Perlahan, saya menyampaikan pandangan. Bukan sebagai orang yang menggurui, bukan pula sebagai pembela guru. Saya sampaikan sebagai seorang pendamping.

Capaian akademik anak di kelas rendah sekolah dasar tidak menentukan masa depan pendidikan mereka. Nilai bukan satu-satunya indikator keberhasilan, apalagi pada fase perkembangan awal. Proses tumbuh kembang anak jauh lebih luas dan kompleks jika dibandingkan dengan sekadar angka di rapor.

Pada usia tersebut, aspek yang jauh lebih penting ialah pembentukan sikap, kemampuan bersosialisasi, komunikasi dengan teman dan guru, rasa tanggung jawab, serta kedisiplinan. Ketika aspek sosial-emosional dan afektif anak sudah terbentuk dengan baik, perkembangan kognitif dan psikomotorik akan mengikuti seiring dengan waktu.

Pandangan itu saya sampaikan, sejalan dengan pemikiran Ahmad Susanto (2025) yang menekankan pentingnya pembelajaran sesuai dengan tahap perkembangan anak, termasuk kreativitas dan belajar melalui bermain, alih-alih menitikberatkan capaian akademik secara literal. Ia mendengarkan. Kali ini, gilirannya yang diam dan meresapi.

 

HADIR, BUKAN MENANG

Setelah pertemuan itu, saya merenung. Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah karena saya pandai merangkai kata? Ternyata bukan. Saya sama sekali tidak banyak berbicara. Yang terjadi ialah saya memberikan sesuatu yang sangat langka di zaman serbacepat ini: waktu dan perhatian penuh, tanpa distraksi, tanpa tergesa-gesa.

Pengalaman itu mengajarkan bahwa tidak semua masalah membutuhkan jawaban panjang dan argumentasi logis. Terkadang, yang paling dibutuhkan seseorang hanyalah didengarkan dengan sungguh-sungguh. Dialog tatap muka dapat menghadirkan dimensi kemanusiaan yang tak tergantikan oleh pesan singkat atau percakapan daring.

Dalam dunia pendidikan yang semakin kompetitif, kecemasan orangtua, terutama dari kalangan terdidik, menjadi realitas yang tak terelakkan. Nilai akademik kerap dijadikan simbol keberhasilan masa depan. Padahal, pendidikan sejatinya ialah proses jangka panjang yang melibatkan emosi, karakter, dan relasi sosial.

Pendekatan itu sejalan dengan pandangan humanistik Carl Rogers (1961) yang menekankan empati, penerimaan tanpa syarat, dan mendengarkan secara aktif sebagai fondasi hubungan yang sehat. Dalam konteks sekolah, mendengarkan wali murid bukanlah tanda kelemahan, melainkan wujud kedewasaan kepemimpinan pendidikan.

Sekolah bukan hanya ruang belajar bagi anak, melainkan juga ruang aman bagi orangtua untuk menyampaikan kegelisahan. Ketika sekolah mampu hadir dengan empati dan keterbukaan, kepercayaan pun tumbuh.

 

MENJAGA NYALA KEPERCAYAAN

Saya tidak tahu apakah anak ibu itu akan selalu mendapat nilai seratus di setiap ulangannya. Saya juga tidak bisa menjamin bahwa kekhawatirannya takkan kembali suatu hari nanti. Namun, saya percaya, setelah sore itu, ibu tersebut pulang membawa sesuatu yang lebih berharga daripada sekadar jawaban: keyakinan bahwa di sekolah ini, suaranya didengar.

Dari keyakinan itulah, kolaborasi pendidikan yang sehat dapat terbangun. Sejalan dengan pandangan Anies Baswedan yang menekankan bahwa pendidikan ialah proses memanusiakan manusia, dan itu hanya bisa terjadi ketika ada dialog, kepercayaan, dan saling mendengarkan.

Dengan demikian, sekolah perlu menempatkan sikap mendengarkan sebagai fondasi utama dalam membangun relasi yang sehat dengan orangtua dan siswa. Di tengah tekanan kompetisi dan kecemasan terhadap capaian akademik, kehadiran sekolah yang empatik, terbuka, dan manusiawi menjadi kunci untuk menumbuhkan kepercayaan.

Ketika sekolah mampu mendengar dengan sungguh-sungguh, pendidikan tidak lagi sekadar proses penilaian, tetapi juga ruang kolaborasi yang menenangkan, memanusiakan, dan menguatkan semua pihak yang terlibat dalam perjalanan belajar anak. Dari keyakinan itulah, anak-anak kita tidak hanya tumbuh cerdas, tapi juga tumbuh berani karena mereka tahu orang dewasa di sekitar mereka selalu siap mendengar.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik