Headline

Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa. 

Aksi Iklim Butuh Perubahan Perilaku, Bukan Sekadar Kebijakan

Palce Amalo
14/2/2026 20:50
Aksi Iklim Butuh Perubahan Perilaku, Bukan Sekadar Kebijakan
Yosep Molan Tapun(Dok Istimewa)

DI tengah tantangan perubahan iklim yang kian nyata, aksi menghadapi krisis tersebut dinilai tidak cukup hanya bertumpu pada kebijakan pemerintah. Perubahan perilaku masyarakat menjadi faktor kunci dalam memperkuat respons terhadap krisis iklim di Indonesia.

Indonesia memiliki potensi energi terbarukan sangat besar—tenaga surya, air, hingga panas bumi. Namun, transisi energi tidak hanya soal teknologi.

“Kita masih sangat bergantung pada batu bara dan minyak. Tantangannya bukan hanya teknis, tetapi juga soal kebijakan, tata kelola, dan keadilan sosial,” ” kata Yosep Molan Tapun, alumnus MSc in Climate Change and Global Development, beasiswa Chevening Scholarship Pemerintah Inggris kepada wartawan di Kupang, Jumat (13/2) malam.

Menurut Yosep, Isu climate justice menjadi perhatian penting. Bagaimana masyarakat lokal mendapatkan manfaat dari proyek energi hijau? Apakah pembagian keuntungan transparan? Apakah ada perlindungan bagi komunitas terdampak?

Dalam disertasinya, Yosep meneliti pengetahuan, sikap, dan praktik anak muda terkait perubahan iklim. Temuannya menunjukkan bahwa tingkat pemahaman masyarakat Indonesia masih sekitar 50 persen.

Menurutnya, tanpa peningkatan literasi iklim, sulit mendorong perubahan perilaku dan aksi nyata.“Perubahan besar tidak cukup di level kebijakan nasional. Harus ada perubahan perilaku di masyarakat,” kata Yosep yang mendalami perubahan iklim secara komprehensif mulai dari sains, kebijakan, hingga keadilan iklim (climate justice) di universitas tersebut.

Dia mengatakan, Inggris merupakan salah satu negara terdepan di Eropa dalam kebijakan iklim dan transisi energi hijau. Komitmen pemerintahnya terhadap mitigasi dan adaptasi perubahan iklim menjadi rujukan banyak negara. “Kalau mau belajar kebijakan energi dan transisi hijau secara serius, Inggris adalah salah satu tempat terbaik,” ujarnya.

Sebelumnya ia meraih gelar Magister Studi Pembangunan dari University of Melbourne (2014-2015) melalui Australian Awards Scholarship. Menurutnya, di Australia, ia mengambil sekitar 16 mata kuliah dalam rentang dua tahun. Sementara di Inggris, hanya enam mata kuliah dengan tesis dalam dua semester. Namun, ritmenya sangat intens.

“Hampir setiap hari ada kuliah, diskusi, tutorial, dan seminar. Setelah itu langsung fokus disertasi. Dalam satu tahun saya merasa belajar hampir setara dua tahun,” katanya
.
Standar akademik pun tinggi. Untuk meraih distinction, nilai 70 sudah masuk kategori tertinggi. Lingkungan kelas sangat beragam, diisi mahasiswa dari Amerika Latin, Afrika, Eropa Timur, hingga Pasifik. Diskusi berlangsung setara dan terbuka. Mahasiswa diperlakukan sebagai profesional yang membawa perspektif dan pengalaman masing-masing.

Belajar dari Peradaban dan Sistem

Yosep tinggal di Norwich, kota kecil sekitar dua jam dari London. Baginya, pengalaman belajar di Inggris bukan hanya soal akademik, tetapi juga menyaksikan langsung jejak peradaban panjang yang membentuk cara berpikir sebuah bangsa.

Ia terkesan pada infrastruktur dan sistem yang dibangun ratusan tahun lalu namun masih berfungsi baik hingga kini. “Kita melihat bagaimana sebuah negara merancang masa depan dengan visi jangka panjang. Itu memberi motivasi besar untuk belajar lebih serius,” katanya.

Menurutnya, beasiswa yang ia terima bersifat penuh, mencakup biaya kuliah, visa, tiket perjalanan, hingga tunjangan hidup. Ia menilai Chevening sebagai salah satu beasiswa dengan sistem pendampingan kandidat yang kuat, didukung jaringan alumni aktif yang membantu proses pendaftaran hingga wawancara.

Di tengah tantangan perubahan iklim yang kian nyata, nama Yosep Molan Tapun muncul sebagai salah satu contoh anak bangsa yang memilih kembali dan mengabdi setelah menempuh pendidikan tinggi di luar negeri.

Lebih dari sepuluh tahun berkecimpung di sektor pembangunan bersama Plan International Indonesia dan Save the Children, Yosep meneguhkan komitmennya pada isu kemanusiaan dan lingkungan.
 
Dengan latar belakang lebih dari satu dekade pengalaman di sektor pembangunan internasional, Yosep dikenal aktif dalam program pemberdayaan masyarakat, kemanusiaan, serta penguatan ketahanan komunitas terhadap dampak perubahan iklim.

Saat ini,Yosep bekerja di Save the Children Indonesia, mengelola program adaptasi perubahan iklim dan kesiapsiagaan bencana, membawa pulang ilmu dan perspektif global untuk diterapkan di tanah air.

Kisah Yosep menunjukkan bahwa kesempatan belajar di luar negeri terbuka lebar bagi siapa saja yang mau berusaha. Ia mendorong generasi muda Indonesia untuk berani mencoba beasiswa internasional dan memilih bidang studi yang relevan dengan kebutuhan bangsa.

“Dunia ini luas. Kita belajar bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi untuk membawa pulang pengetahuan dan membangun Indonesia,” ujarnya. (H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya