Headline

Pelaku usaha menagih penyederhanaan regulasi dan kepastian kebijakan dari pemerintah.

Misteri 'Batu Telinga' Ikan Ungkap Rapuhnya Rantai Makanan Terumbu Karang

Thalatie K Yani
17/2/2026 09:31
Misteri 'Batu Telinga' Ikan Ungkap Rapuhnya Rantai Makanan Terumbu Karang
Ilustrasi(freepik)

TERUMBU karang mungkin terlihat kokoh dengan struktur batu kapur masif yang mampu bertahan ribuan tahun. Namun, di balik kemegahan kota bawah laut tersebut, sebuah penelitian terbaru mengungkapkan fakta mengkhawatirkan, aktivitas manusia secara diam-diam telah menyusutkan rantai makanan yang menjaga terumbu karang tetap hidup.

Energi yang dulunya mengalir bebas dari organisme mikroskopis ke ikan kecil hingga predator besar, kini bergerak melalui sistem yang lebih pendek dan sederhana. Hilangnya kompleksitas ini membuat terumbu karang jauh lebih rentan terhadap kehancuran.

Membaca Sejarah dari "Batu Telinga" Ikan

Untuk memahami seberapa besar perubahan yang terjadi, tim peneliti yang dipimpin Jessica Lueders-Dumont dari Boston College memeriksa otolith atau batu telinga ikan. Struktur kecil dari kalsium karbonat ini berfungsi membantu ikan mendengar dan menjaga keseimbangan, serta mampu tersimpan dengan baik dalam sedimen laut selama ribuan tahun.

Melalui metode isotop nitrogen pada protein yang terkunci di dalam otolith kuno dan rangka karang berusia 7.000 tahun, tim menganalisis 136 sampel dari Panama dan Republik Dominika. Hasilnya dibandingkan dengan sampel modern dari lokasi yang sama di Karibia. Wilayah yang tutupan karangnya telah anjlok lebih dari 50% dalam beberapa dekade terakhir.

Jaring Makanan yang Kian Sempit

Temuan ini mengejutkan. Dibandingkan dengan ekosistem purba yang masih murni, rantai makanan di terumbu karang Karibia saat ini menyusut 60%-70%. Selain itu, keragaman fungsi ikan juga berkurang antara 20%-70%.

"Kami menemukan pada terumbu karang Karibia yang lebih sehat, komunitas ikan memanfaatkan variasi sumber makanan yang lebih luas," ujar Lueders-Dumont.

Ia menambahkan, "Pada terumbu karang yang terdegradasi, pola makan menjadi homogen, berbagai jenis ikan semakin banyak memakan rangkaian sumber daya terbatas yang sama. Di masa lalu, setiap ikan bisa memilih makanan; sekarang banyak yang bertahan dengan apa pun yang tersedia. Ini seperti pergi dari lingkungan yang penuh dengan berbagai restoran menjadi hanya satu menu yang sangat terbatas."

Ancaman di Level Terendah

Penelitian ini juga menyoroti pergeseran besar pada ikan-ikan kecil seperti gobi dan silverside, yang disebut sebagai "keripik kentang-nya terumbu karang" karena perannya sebagai mangsa utama.

Profesor Xingchen (Tony) Wang menjelaskan kemajuan teknologi memungkinkan mereka merekonstruksi struktur rantai makanan sebelum adanya dampak besar manusia. "Ini seperti DNA kuno, tetapi alih-alih gen, kami menggunakan tanda kimia yang terkunci dalam protein kuno," jelasnya.

Ketika terumbu karang kehilangan struktur tiga dimensinya, celah untuk bersembunyi dan mencari makan pun hilang. Hal ini memicu efek domino yang merusak aliran energi di semua tingkat ekosistem.

Titik Kritis Ekosistem

Penyusutan jaring makanan ini menurunkan daya tahan terumbu karang, yang padahal menopang seperempat spesies laut dan melindungi garis pantai dari badai.

Lueders-Dumont menegaskan bahwa rekonstruksi garis masa lalu ini memberikan perspektif baru untuk konservasi. "Karena tolok ukur konservasi kita sebelumnya dibentuk oleh terumbu karang modern yang sudah terdegradasi, kemampuan untuk merekonstruksi garis dasar kuno menawarkan perspektif yang sepenuhnya baru tentang apa itu ekosistem terumbu karang yang sehat dan bagaimana kita mungkin memulihkannya," tutupnya. (Earth/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik