Headline

Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.  

Stasiun Geofisika Sleman: Gempa Bantul Diikuti 121 Gempa Susulan

Ardi Teristi Hardi
28/1/2026 13:43
Stasiun Geofisika Sleman: Gempa Bantul Diikuti 121 Gempa Susulan
Ilustrasi(Dok Instagram Stasiun Geofisika Sleman)

STASIUN Geofisika Sleman mencatat, Gempa Bantul M4.5 pada Selasa, 27 Januari 2026 pukul 13:15:32 WIB diikuti oleh ratusan gempa susulan. Episenter gempa bumi terletak pada koordinat 7.87 LS; 110.49 BT, atau tepatnya berlokasi di darat pada jarak 16 km arah Timur Bantul, DIY dengan kedalaman 11.0 km. 

Hingga Rabu (28/1) pagi pukul 10.15 WIB, jumlah gempa susulan tercatat sebanyak 121 gempa susulan dengan kekuatan terbesar M2.4 dan tren frekuensi kejadian gempa susulan masih variatif. 

Sebelumnya, Kepala Stasiun Geofisika Sleman, Ardhianto Septiadhi menyampaikan, memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat aktivitas Sesar Opak.

Gempa bumi ini dirasakan di Bantul, Gunung Kidul, Kulonprogo, Sleman, Kota Yogyakarta, Klaten dengan skala intensitas III MMI (Getaran dirasakan seperti terdapat truk bermuatan melintas). 

Sementara itu, di Wonogiri, Purworejo, Trenggalek, Solo, Pacitan, dan Magelang, skala intensitas tercatat II MMI (Getaran dirasakan sedikit orang, benda-benda ringan yang digantung bergoyang). 

Sementara itu, Pakar Gempa dari Teknik Geologi UGM Gayatri Indah Marliyani menilai, gempa yang berpusat di di DIY terjadi di zona sesar aktif, Sesar Opak. Gempa tersebut kemungkinan terjadi akibat adanya pasokan tekanan yang diberikan oleh gempa yang berpusat di Pacitan. 

Gempa di Pacitan dicatat oleh BMKG bermagnitudo:5,5 pada Selasa (27/1) pukul 08:20:44 WIB. Gempa tersebut berpusat di 25 km Timur Laut Pacitan, Jawa Timur, 8.14 LS,111.33 BT, dengan kedalamn:105 Km.

Gempa bumi yang terjadi di Pacitan, Jawa Timur dapat dikategorikan sebagai gempa intraslab karena sumber gempa berasal dari dalam lempeng samudra yang tersubduksi atau dikenal sebagai slab. 

“Deformasi terjadi apabila lempeng terus didorong ke dalam, sehingga lempeng dapat terus berubah bentuk dan bergeser. Perubahan dan pergeseran lempeng tersebut menyebabkan terjadinya gempa bumi," terang dia. 

Kedua peristiwa gempa bumi tersebut sempat membuat masyarakat merasa cemas dan khawatir. 

“Masyarakat memang harus selalu waspada dengan adanya gempa ini. Kejadian gempa pada hari ini dapat dijadikan pengingat bahwa kita berada di area tektonik aktif. Sehingga, masyarakat harus siap siaga dalam merespons gempa bumi ini,” pesannya. (AT/E-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri yuliani
Berita Lainnya