Headline
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Kumpulan Berita DPR RI
DI tengah tumpukan lumpur, gembulan glondongan kayu, dan puing bangunan yang masih menutup banyak sudut Tapanuli Tengah pasca banjir bandang dan longsor, terselip kisah-kisah kecil tentang perjuangan warga bertahan hidup. Kisah yang sering luput dari pemberitaan, namun justru menunjukkan bagaimana kerasnya situasi di lapangan.
Sejak aliran listrik padam dan jaringan seluler mati total, warga Desa Sitiotio, Kecamatan Tukka, hidup dalam keterisolasian. Tidak ada kabar dari luar, tidak ada informasi mengenai kondisi keluarga, dan tidak ada kepastian kapan bantuan tiba.
Di antara mereka ada Megawati Gulo, seorang gadis yang sejak awal bencana hanya bisa menggantungkan harapannya pada kabar baik. Namun hari demi hari berjalan, malam demi malam datang dalam gelap pekat, dan ponselnya satu-satunya alat komunikasi menjadi benda mati yang tak mampu membantu apa-apa.
“Di kampung, jaringan PLN masih padam. Sinyal telepon juga tidak ada sama sekali,” ujarnya lirih, Jumat (6/12). Matanya menunjukkan rasa lelah yang dalam, bukan hanya karena perjalanan berat, tetapi juga karena kesedihan yang tak bisa ia ceritakan.
Pada hari ketiga pasca banjir, Megawati mengambil keputusan berani menempuh perjalanan lebih dari 4 kilometer, melewati jalan berlumpur dan tumpukan batang kayu besar yang berserakan, menuju titik yang masih memiliki listrik dan sinyal seluler.
Perjalanan itu bukan perkara mudah. Ia harus memanjat gundukan gelondongan kayu yang menutup jalan, melintasi jembatan darurat yang licin, dan sesekali menghentikan kendaraan yang kebetulan lewat untuk meminta tumpangan.
Setibanya di lokasi yang masih terhubung dengan listrik, ia mendapati puluhan warga lain telah menunggu. Mereka duduk di teras rumah penduduk, warung kecil, atau di pinggir jalan menjaga ponsel mereka yang sedang mengisi daya, seakan menjaga harapan mereka sendiri.
“Kami benar-benar terputus. Tidak tahu apa yang terjadi di luar, tidak tahu kapan bantuan tiba. HP ini satu satunya harapan kami,” ujarnya sambil menatap layar ponselnya yang kembali menyala.
Bagi Megawati, listrik dan sinyal bukan lagi sekadar fasilitas. Keduanya adalah simbol keselamatan cara untuk memberi kabar bahwa keluarganya baik-baik saja, sekaligus menerima informasi penting mengenai cuaca, bantuan, dan kondisi terkini.
Ia berharap pemerintah segera memulihkan layanan listrik dan jaringan seluler di wilayah terdampak. “Kami butuh informasi. Kami butuh kepastian. Tanpa itu, kami seperti hidup dalam gelap yang tidak ada ujungnya,” katanya.
Kisah Megawati hanyalah satu dari ratusan kisah warga Tapanuli Tengah yang masih bertahan di tengah bencana besar ini. Bencana yang bukan hanya merusak rumah dan fasilitas umum, tetapi juga memutus hubungan warga dengan dunia luar.
Hal serupa dialami Ida Saruksuk, warga Sibulan, Kecamatan Pandan. Setiap sore, ia harus berjalan menuju Gedung Olahraga (GOR) Pandan untuk mengisi daya ponselnya agar bisa berkomunikasi dengan keluarganya di luar daerah.
“Setiap sore saya ke GOR Pandan demi mengisi baterai HP. Di kampung masih tidak ada listrik juga sinyal telepon,” ujarnya singkat.
Sementara alat berat bekerja membersihkan material longsor dan tim darurat terus memulihkan fasilitas yang rusak, warga seperti Megawati dan Ida masih bertahan melangkah kecil namun penuh harapan di tengah situasi yang masih gelap dan belum pasti. (H-1)
SATUAN Brimob Polda Sumatra Utara mengevakuasi puluhan warga yang terisolasi akibat banjir di Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah.
Kondisi longsor tidak dapat diprediksi, sehingga kewaspadaan adalah langkah terbaik sambil menunggu kepastian keamanan dari pemerintah.
Kisah Divan Simangunsong, pemuda 21 tahun yang kembali ke rumah demi ayahnya yang stroke sebelum tertimbun longsor Tapanuli Tengah
Hingga Sabtu (6/12), sebanyak 102 orang dilaporkan meninggal dunia. Data tersebut disampaikan Posko SAR Gabungan yang terus melakukan pencarian dan evakuasi korban.
Proposal ini akan dikirim ke Kementerian Kesehatan paling lambat satu minggu ke depan, sejalan dengan arahan Dinas Kesehatan Sumatra Utara.
Berdasarkan hasil kajian tim Kementerian PU bersama Universitas Syiah Kuala (USK) ditemukan adanya pergerakan air bawah tanah yang memicu ketidakstabilan lereng.
HARAPAN baru mulai tumbuh di tengah warga Desa Tandihat, Kecamatan Angkola Selatan, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatra Utara.
MENTERI Dalam Negeri Tito Karnavian memperingatkan pemda di Sumatra Utara agar tidak menyelewengkan dana penanganan bencana.
Adapun temanya adalah Integrasi Pendekatan One Health dalam Pemulihan Sosial, Pangan, dan Kesehatan Masyarakat Rentan Pascabencana Banjir di Aceh.
BADAN Rescue Nasional Demokrasi (NasDem) Sumatera Barat menargetkan pembentukan pengurus Badan Rescue NasDem Daerah (BRND) tingkat kota, kabupaten dan kecamatan yang ada di Sumbar.
DUA bulan pascabencana hidrometeorologi yang terjadi pada 27 November 2025, sebanyak 40 warga di Sumatra Utara masih dinyatakan hilang.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved