Headline

Pemerintah tetapkan 1 Ramadan pada Kamis, 19 Februari 2026.

Normalisasi Sungai Tak Maksimal, Banjir Terus Mengintai Permukiman di Tapanuli Tengah

Januari Hutabarat
18/2/2026 00:05
Normalisasi Sungai Tak Maksimal, Banjir Terus Mengintai Permukiman di Tapanuli Tengah
Pengerukan sungai yang tidak maksimal membuat desa di Tapanuli Tengah kerap kebanjiran.(MI/Januari Hutabarat)

BANJIR yang berulang di Desa Huta Nabolon, Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, kembali memantik sorotan. Upaya normalisasi sungai dinilai belum berjalan maksimal sehingga ancaman luapan air masih terus menghantui permukiman warga, terutama saat curah hujan tinggi.

Pantauan di lapangan, Selasa (17/2), di Lorong IV yang merupakan wilayah hulu sungai menunjukkan belum terlihat aktivitas pengerukan maupun pelebaran badan sungai secara signifikan. Alat berat justru lebih banyak difokuskan untuk membersihkan material banjir di kawasan permukiman warga.

Desa Huta Nabolon merupakan titik pertemuan dua anak sungai, yakni Sungai Aek Simpang Bambu dan Sungai Aek Gala-gala. Ketika hujan deras mengguyur, debit air dari kedua sungai meningkat drastis hingga meluap dan merendam rumah warga hingga ke wilayah hilir.

Pendangkalan badan sungai memperparah kondisi. Ketinggian dasar sungai kini hampir sejajar dengan jembatan dan bahu jalan raya.
Bahkan, ruas jalan yang sebelumnya menjadi jalur kendaraan berubah menjadi aliran air saat debit meningkat.

Situasi ini menegaskan perlunya langkah serius dan terukur dari pemerintah untuk melakukan normalisasi sungai secara menyeluruh dan berkelanjutan.

Penanganan di wilayah hulu dinilai menjadi kunci untuk menekan risiko banjir yang terus berulang dan menimbulkan kerugian bagi masyarakat.

Feby, warga setempat, mengaku belum mengetahui adanya kegiatan normalisasi sungai di wilayahnya. Ia menyebut sebagian bantaran sungai hanya ditimbun tanah sehingga mudah tergerus saat air meluap.

“Kami berharap pemerintah pusat, provinsi, dan daerah segera merealisasikan normalisasi sungai di wilayah ini,” ujarnya.

Keluhan serupa disampaikan warga Perumahan Pandan Asri yang enggan disebutkan namanya. Ia menilai tanpa pengerukan dan pelebaran sungai, banjir akan terus menjadi ancaman setiap musim hujan.

Sementara itu, Bupati Tapanuli Tengah, Masinton Pasaribu, yang dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp terkait normalisasi Sungai Aek Simpang Bambu dan Sungai Aek Gala-gala hingga ke hilir, belum memberikan tanggapan hingga berita ini diturunkan. (E-2)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Heryadi
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik