Headline
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Kumpulan Berita DPR RI
FENOMENA alam El Nino yang diprediksi akan segera kembali terjadi membuat puluhan hektare (ha) tanaman padi sawah di Kabupaten Pidie, Provinsi Aceh, terganggu pertumbuhannya. Lebih parah lagi sebagian diantaranya terancam puso alias gagal panen.
Pasalnya, sejak sekitar dua bulan terakhir suhu udara di kawasan setempat cukup panas dan sering terjadi angin kencang. Ditambah lagi persoalan krisis air irigasi teknis dan jarang turun hujan.
Lahan sawah yang terganggu pertumbuhan dan terancam puso itu tersebar di Kecamatan Delima. Antara lain meliputi kawasan Desa Ceurih Blang Me, Pulo Tunong, Lhee Meunasah, Mesjid Reubee, Daboh Reubee, Raya Reubee dan Tunong Rubee.
Baca juga : El Nino, Hasil Produksi Bawang Merah Petani Di Aceh Anjlok
Lalu di Desa Seupeueng Beuah, Sukon Lhoeng, Mesjid Beuah dan Desa Dayah Beuah. Itu merupakan tanah padi musim gadu (musim tanam kedua) yang baru berumur sekitar 40 hari hingga 2 bulan.
Amatan Media Indonesia, Rabu (27/6) kondisi daun padi yang dalam keadaan rawan puso itu, banyak daun menguning. Lalu bagian dalam batang atas seperti kering dan membusuk.
Sebagian lainnya seperti layu dan daun pucuk daun kekuning-kuningan. Gangguan bahaya itu terlihat ber alur atau tidak serangan. Sebagian kelompok barang pendek dan sekumpulan lainnya tinggi mirip kepulauan.
Baca juga : Menyikapi El Nino, Petani Padi di Aceh Beralih ke Ubi Rambat
"Ini terjadi paling parah setelah diterjang angin pekan lalu. Kadang hembusan malam, ada juga siang hari. Kalau siang cuaca sangat panas dan terik mata hari" kata Salamuddin, petani di Desa Ceurih Blang Me, kepada Media Indonesia, Kamis (27/6).
Salamuddin mengaku telah melakukan penyemprotan perangsang tumbuh, agar pertumbuhan tanaman padi kembali pulih. Ternyata setelah sepekan penyemprotan tidak ada tanda-tanda pemulihan.
Pakar Ilmu Tanah dan Pertanian dari Universitas Syiah Kuala (USK) DR Helmi mengatakan, gangguan pertumbuhan itu merupakan gejala dari Fenomena El Nino. Itu merupakan gejala serius yang bisa bermuara gagal panen.
Baca juga : Terdampak Kekeringan, Petani Blora Berupaya Selamatkan Tanaman Padi
Semua pihak harus mewaspadai ancaman gagal produksi pertanian akibat perubahan cuaca yang tidak biasa. Suhu panas yang semakin tinggi akibat peningkatan suhu permukaan air di Samudra Pasifik Tengah dan Timur yang menjadi lebih hangat dari biasanya.
"Fenomena El Nino sangat terganggu produksi pertanian dan ancaman gagal panen. Kalau tidak teratasi, ini juga ancaman serius terhadap kelaparan beberapa tahun ke depan" tutur Dosen Fakultas Pertanian USK yang juga alumnus Doktoral Nagoya University, Jepang.
Catatan Media Indonesia, di wilayah Provinsi Aceh sekarang sedang dilanda fenomena alam El Nino. Sejak dua bulan terakhir sebagian petani setempat beralih dari biasanya menanam padi saat musim gadu, kali ini beralih ke palawija dan kacang-kacangan.
(Z-9)
Sebagian besar warga yang membuka lahan pertanian di sekitar area longsor mengalami gagal panen akibat akses jalan menuju kebun tertutup material longsor.
CUACA ekstrem akhir-akhir ini memicu curah hujan tinggi yang meningkatkan potensi gagal panen. Pemerintah setempat mulai ancang-ancang mengantisipasi potensi tersebut.
MENTERI Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengungkapkan bahwa seluas 4.000 hektare sawah terdampak puso akibat bencana di Pulau Sumatra.
RATUSAN hektare area persawahan di Desa Fajar Indah, Kecamatan Pulau Besar, Kabupaten Bangka Selatan (Basel), Provinsi Bangka Belitung, kembali terendam banjir.
Kehadiran produk asuransi pertanian besutan BRINS ini dapat memberikan perlindungan nyata bagi petani.
Hal ini akibat tidak turunnya hujan di wilayah tersebut dalam dua bulan terakhir. Kondisi juga diperparah dengan mengeringnya sejumlah waduk dan embung di kawasan Pantura setempat.
BENCANA kekeringan melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah.
GUBERNUR Sumatra Barat Mahyeldi menyebut kondisi kekeringan air di Padang saat ini tergolong cukup ekstrem, terutama di Kecamatan Pauh dan Kuranji.
USAI banjir bandang menerjang Padang, Sumatra Barat, pada akhir November 2025 lalu, dua irigasi rusak total.
Studi terbaru mengungkap rangkaian kekeringan panjang berperan besar dalam kemunduran Peradaban Lembah Indus, memicu penyusutan kota dan pergeseran permukiman secara bertahap.
Kebutuhan untuk penanganan kekeringan dari tahun ke tahun terus bertambah sehingga perlu dicari upaya lain seperti mencari sumber air baru.
Gelombang panas, terutama pada siang hari, mempercepat penguapan air dari daun dan tanah, menurunkan ambang kekeringan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved