Headline
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Kumpulan Berita DPR RI
PROGRAM pengendalian Demam Berdarah Dengue (DBD) melalui metode penyebaran nyamuk Wolbachia di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) mendapat penolakan dari warga.
Penolakan antara lain datang dari Ketua Yayasan Peduli Timor Barat Ferdi Tanoni. Bahkan, Ferdi menyurati Dinas Kesehatan NTT untuk menjelaskan alasan penolakan tersebut.
"Belum ada bukti nyamuk Wolbachia ini bisa menghilangkan demam berdarah, tolong jangan asal nyontek saja apa yang diberikan Menteri Kesehatan RI," tegas Ferdi Tanoni di Kupang, Selasa (28/11).
Baca juga : Pemkot Bandung Lepas 308 Ember Telur Nyamuk Wolbachia
Menurutnya, jika nyamuk tersebut disebarkan, pasti ada dampak lain yang akan timbul, bisa timbul saat ini maupun waktu yang akan datang.
Apalagi, penolakan juga datang dari para ilmuwan dan juga mantan Menteri Kesehatan Siti Fadillah Supari.
Baca juga : Bali Tolak Program Penyebaran 200 Juta Telur Nyamuk Wolbachia
"Sebagai rakyat NTT, kami tidak bersedia Dinas Kesehatan NTT untuk melepas nyamuk Wolbachia made in Bill Gates di Pulau Timor ini. Tolong ambil dan musnahkan," ujarnya.
Ferdi menegaskan nyamuk "berdasi" yang diberi label PBB-WHO itu sesungguhnya hasil produksi Bill Gates.
"Ini adalah suara hati yang tidak bersuara," tegasnya.
Wakil Ketua Komisi IX DPR Melkiades Laka Lena yang dihubungi terpisah mengatakan, akan menggelar rapat bersama Menteri Kesehatan pada Selasa siang guna meminta penjelasan terkait adanya pro dan kontra di masyarakat menyusul rencana penyebaran nyamuk tersebut.
"Kami harapkan dalam rapat ini, menkes menjelaskan tentang berbagai berbagai macam catatan, misalnya ada mutasi genetik atau tidak," ujarnya.
Penjelasan lain yang dibutuhkan ialah apakah ada zat tambahan di dalam tubuh nyamuk. "Kami minta penjelasan yang clear, yang betul-betul deteil agar bisa menjawab seluruh pertanyaan banyak pihak di masyarakat."
Melkiades mengaku sudah pernah digigit puluhan nyamuk Wolbachia di lokasi penelitian di Yogyakarta. Pasalnya, Melkiades bersedia digigit nyamuk tersebut untuk membuktikan reaksi yang timbul pada tubuh manusia pasca gigitan. "Sampai saat ini saya tidak masalah," jelasnya.
Melkiades juga datang ke Bali untuk melihat lokasi peternakan nyamuk di daerah itu, yang sebagiannya disuplai ke NTT. "Saya sudah cek sendiri, menurut saya tidak ada masalah," tambahnya. (Z-4)
Tantangan kedokteran tropis di Indonesia kian meningkat, terutama pasca pandemi covid-19 yang mempercepat penyebaran penyakit menular
Dana dari DFAT (Kemenlu Australia) tersebut bersifat komplementer, artinya melengkapi dana yang berasal dari APBN
DIREKTUR Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kemenkes Imran Pambudi menegaskan peningkatan kasus DBD bukan karena teknologi nyamuk aedes aegypti ber-wolbachia.
Masyarakat diminta juga untuk memerhatikan kondisi lingkungan tempat nyamuk Aedes aegypti berkembang biak.
TEKNOLOGI wolbachia dianggap sebagai trobosan untuk pengentasan Demam Berdarah Dengue (DBD) di hulu. Terobosan riset tersebut memetakan multifaktor penyebab dengue
Masyarakat diminta untuk tetap waspada dan menjaga kebersihan lingkungan.
hujan menyebabkan adanya genangan-genangan di beberapa tempat. Kondisi ini menjadi faktor utama berkembangnya nyamuk penyebab Demam Berdarah Dengue (DBD)
Pada 2025, tercatat 161.752 kasus Dengue dengan 673 kematian yang tersebar di hampir seluruh wilayah Indonesia.
Sepanjang Januari 2026, setidaknya ditemukan 20 orang di Kabupaten Bangka Provinsi Bangka Belitung (Babel) terserang demam berdarah dengue (DBD).
SEBANYAK 2 orang meninggal dunia akibat demam berdarah dengue (DBD) yang terjadi di Kabupaten Cirebon sepanjang 2025 lalu. Sepanjang 2025 lalu ada 1.169 kasus DBD di Kabupaten Cirebon.
Sejak awal Januari 2026, tercatat sebanyak 72 orang dinyatakan positif DBD.
Panduan lengkap pertolongan pertama Demam Berdarah (DBD) tahun 2026. Cara menjaga cairan, dosis obat penurun panas yang aman, dan mengenali tanda bahaya fase kritis.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved