Headline

Pemerintah pelajari seluruh risiko menyusul putusan MA AS.

147 Kasus DBD di Garut, Dinkes Garut: 2 Meninggal

Kristiadi
23/2/2026 15:24
147 Kasus DBD di Garut, Dinkes Garut: 2 Meninggal
Ilustrasi(Freepik.com)

KASUS demam berdarah dengue (DBD) di Kabupaten Garut, Jawa Barat sejak awal bulan Januari hingga 23 Februari 2026 ditemukan 147 orang positif dan 2 orang di antaranya meninggal. Kasus demam berdarah dengue (DBD) telah mengalami penurunan dibandingkan bulan yang sama tahun 2025 tercatat 253 kasus.

Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Garut, Yodi Sirojudin mengatakan, kasus demam berdarah dengue (DBD) sejak awal bulan Januari-Februari 2026 mulai adanya penurunan kasus dibanding sebelumnya tahun 2024 dengan bulan yang sama 258 jiwa dan 2025 tercatat 253 jiwa. Namun, kasus tersebut masih terjadi dan Dinkes Garut temukan 147 orang positif terserang nyamuk Aedes aegypty di antaranya dua meninggal.

"Kesadaran masyarakat dalam kebersihan lingkungan di daerah Garut sudah mulai bergerak melakukan berbagai langkah guna menekan munculnya jentik nyamuk. Karena, langkah yang dilakukan oleh warga harus terus melakukan kegiatan seperti pemberantasan sarang nyamuk (PSN), menguras bak air, menutup dan mengubur (3M)," katanya, Senin (23/2/2026).

Menurut Yodi, kasus DBD di Garut petugas kesehatan dan beberapa puskesmas serta RT, RW, Desa, Kecamatan harus terlibat menggerakan masyarakat membersihkan lingkungan agar tetap terjaga termasuk edukasi rutin. Karena, pemberantasan sarang nyamuk (PSN) melalui pengasapan (fogging) di lokasi endemik dan memeriksa jentik harus dilakukan agar nyamuk Aedes aegypti tidak berkembang biak.

"Dinas Kesehatan Garut masih melakukan edukasi kepada masyarakat supaya kasus DBD dapat ditekan dan jangan sampai ada korban jiwa. Namun, awal bulan Januari dan Februari dipengaruhi intensitas hujan tinggi kemungkinan jentik nyamuk tumbuh dewasa dan 147 pasien positif semuanya ditangani di puskesmas," ujarnya.

Menurutnya, demam berdarah dengue (DBD) di wilayah Kabupaten Garut memang menurun berdasarkan laporan Puskesmas dan rumah sakit hingga petugas Kesehatan tetap berupaya memberikan edukasi pada masyarakat agar harus lebih semangat dalam gerakan satu rumah satu jumantik (G1R1J) termasuk pemberantasan sarang nyamuk (PSN).

"Dinas kesehatan tidak bekerja sendiri dalam pemberantasan sarang nyamuk, tapi masyarakat harus peduli pada lingkungan guna menekan kasus agar jentik nyamuk tidak tumbuh dewasa. Kami mengimbau agar setiap sekolah, kantor, pesantren dan menjaga kebersihan lingkungan agar tidak ditemukan jentik nyamuk tumbuh dewasa," pungkasnya. (H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya