Headline

YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.

Sinergi ASEAN di Jakarta: Targetkan Nol Kematian Akibat Dengue pada 2030

Basuki Eka Purnama
10/2/2026 16:45
Sinergi ASEAN di Jakarta: Targetkan Nol Kematian Akibat Dengue pada 2030
Indonesia menjadi tuan rumah Forum Regional ASEAN tentang Pencegahan dan Pengendalian Dengue yang diselenggarakan di Jakarta, 9–10 Februari 2026. Diselenggarakan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia bekerja sama dengan Koalisi Bersama Lawan Dengue(MI/HO)

INDONESIA menegaskan kepemimpinannya dalam penanggulangan penyakit tular vektor dengan menjadi tuan rumah Forum Regional: Mendorong Aksi Kolektif dalam Pencegahan dan Pengendalian Dengue di Kawasan Negara-negara ASEAN/Asia Tenggara. 

Pertemuan strategis yang berlangsung di Jakarta pada 9-10 Februari 2026 ini mempertemukan 150 pakar, pembuat kebijakan, dan otoritas kesehatan dari 10 negara anggota ASEAN untuk menyatukan kekuatan melawan ancaman dengue.

Kawasan Asia Tenggara telah lama menjadi episentrum global penularan dengue. Berdasarkan data terbaru, hampir 400.000 kasus dilaporkan di wilayah ini sepanjang 2025, dengan beban kasus tertinggi ditemukan di Vietnam, Indonesia, Thailand, Malaysia, Laos, dan Singapura. 

Penyakit ini tidak hanya mengancam kesehatan masyarakat, tetapi juga membebani ekonomi secara signifikan. Di Indonesia saja, kerugian ekonomi akibat dengue diperkirakan mencapai Rp15 triliun per tahun.

Kepala Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan, Prof. Asnawi Abdullah, Ph.D, menekankan bahwa mobilitas lintas batas menjadi tantangan utama karena nyamuk tidak memerlukan dokumen resmi untuk berpindah wilayah.

"Nyamuk itu tidak butuh paspor untuk pindah-pindah negara, jadi kita di ASEAN harus kompak melawannya. Kita memang tidak bisa mengatur cuaca atau menghentikan El Niño, tapi kita bisa melindungi warga dengan cara-cara yang lebih cerdas, seperti menggunakan teknologi nyamuk Wolbachia dan memperluas vaksinasi," terang Asnawi.

Indonesia sendiri mencatatkan keberhasilan signifikan pada tahun 2025 dengan menekan angka kejadian dengue hingga 57 per 100.000 penduduk. Capaian ini disebut sebagai hasil dari pergeseran strategi yang lebih proaktif dan adaptif, terutama melalui integrasi teknologi Wolbachia dan penguatan cakupan vaksinasi.

Senada dengan hal tersebut, Ketua Koalisi Bersama (KOBAR) Lawan Dengue, dr. H. Suir Syam, MKes, MMR., menekankan pentingnya fondasi pencegahan di tingkat akar rumput.

"Pengendalian dengue harus bertumpu pada pencegahan dini sebagai fondasi utama, dimulai dari tingkat rumah tangga, diperkuat di komunitas, dan didukung kolaborasi lintas sektor yang konsisten. Tidak ada satu pihak pun yang bisa berjalan sendiri," tegas Suir Syam.

Sebagai langkah konkret ke depan, Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kesehatan sedang merampungkan Rencana Aksi Nasional (RAN) 2026-2029. Rencana ini menitikberatkan pada empat pilar utama: deteksi dini, manajemen klinis, pengendalian vektor melalui inovasi (Wolbachia dan vaksin), serta penguatan sistem informasi surveilans yang terintegrasi.

Melalui forum yang didukung oleh Takeda dan World Mosquito Program (WMP) ini, negara-negara ASEAN berkomitmen untuk beralih dari pendekatan reaktif menuju strategi preventif yang terkoordinasi demi melindungi lebih dari 3,9 miliar orang yang berisiko terinfeksi secara global. (Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya