Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Bisnis Kopi Mulai Beradaptasi Dengan Kondisi Pandemi

Agus Utantoro
02/12/2020 05:38
Bisnis Kopi Mulai Beradaptasi Dengan Kondisi Pandemi
Tim Instiper mengenalkan pemasaran kopi modern pasca pandemi.(Istimewa)

KOMODITAS kopi, termasuk salah satu hasil perkebunan yang penting. Selain karena menjadi sumber devisa negara, juga menjadi sumber pendapatan petani di sejumlah daerah di Indonesia. Sebelum pandemi Covid-19, pasar kopi meningkat tajam, termasuk  spesialis kopi yang konsumsinya mulai menjadi budaya anak muda Indonesia.

Ketua Program Pemberdayaan Masyarakat Skema Indonesia Bangkit Institut Pertanian STIPER (Instiper) Yogyakarta, Gani Supriyanto menjelaskan dari produksi 740 ribu ton, 40% di antaranya diserap industri dalam negeri, termasuk di dalamnya kopi bubuk dan kopi instan.

Gani menjelaskan, munculnya pandemi Covid-19 menyebabkan penurunan produksi kopi di kalangan UMKM hingga tinggal 10-20% saja. 

"Setelah industri hilir kopi terdampak, berikutnya para pengepul, koperasi, hingga petani juga pendapatannya turun akibat ketidakseimbangan permintaan dan pasokan," kata Gani, Selasa (1/12).

Hal ini memunculkan dampak selanjutnya antara lain panen terbengkalai, pemeliharan tanaman tidak terlaksana dengan baik dan kerusakan tanaman. Kondisi tersebut juga dialami oleh petani kopi di kawasan lereng Gunung Merapi yang tergabung dalam Koperasi Kopi Kebun Makmur di Cangkringan Sleman,DIY.

Akibat Covid-19, semua mata rantai ekonomi bisnis kopi tersebut hampir patah, dan memerlukan ungkitan agar terselamatkan dari keterpurukan. Gani menjelaskan bahwa timnya telah membantu para petani kopi Merapi untuk memperluas pasar komoditas yang saat ini sudah mulai mempunyai brand, baik lokal maupun nasional namun mengalami keterpurukan di masa pandemi.

Untuk memenuhi tuntutan pasar tersebut, lanjutnya, dilakukan peningkatan kualitas produk kopi dari koperasi. Ia menjelaskan, pendekatan solusi dari tim Instiper besifat integratif, dari hulu (kebun dan penyangraian) hingga hilir (pemasaran). Ia berharap model solusi integratif ini bisa direplikasi untuk sentra kopi di daerah lain.

Anggota tim yang lainnya, Andreas W. Krisdiarto,target luaran program ini antara lain dihasilkannya database (kebun, pemasar,pengolah, dan penjual akhir), sistem pasar integrasi online dan aplikasi teknologi dalam bentuk mesin sangrai (roasting) otomatis terkomputerisasi.

Tim dari Instiper telah melakukan edukasi  petani agar dalam membudidayakan kopi mengacu ke good agricultural practices, aplikasi sistem database dan pemasaran online, penguatan manajerial koperasi, peningkatan kualitas panen dan hasil olah, serta pelatihan dan pendampingan sistem database dan pemasaran online terintegrasi.

baca juga: Ekspor tidak Pernah Berhenti

"Hal ini sesuai arah kebijakan program dari DRPM (Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat) Kemristek/BRIN yakni mendorong dan membentuk UKM/Koperasi yang aktivitas ekonominya minim kontak fisik," katanya.

Dia menambahkan, melalui keterlibatan perguruan tinggi petani kopi Merapi telah siap memasuki era pemasaran modern, yakni era less contact economy, sesuai dengan tuntutan situasi yang timbul akibat pandemi Covid-19.

"Karena pandemi covid mengubah bentuk bisnis di masa depan," ujarnya. (OL-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya