Headline

Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.

Mempertimbangkan Konsumsi Teh dan Kopi Selama Ramadan: Efek Diuretik hingga Pola Tidur

Basuki Eka Purnama
27/2/2026 16:16
Mempertimbangkan Konsumsi Teh dan Kopi Selama Ramadan: Efek Diuretik hingga Pola Tidur
Ilustrasi(Freepik)

KEBIASAAN menikmati secangkir teh atau kopi saat sahur dan berbuka puasa menjadi tradisi yang sulit dipisahkan bagi sebagian masyarakat. Namun, Guru Besar Bidang Gizi Masyarakat dan Sumber Daya Keluarga Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof. Dr. Ir. Ali Khomsan MS, mengingatkan pentingnya mempertimbangkan asupan kafein selama bulan Ramadan demi menjaga kebugaran tubuh.

Persoalan utama yang disoroti adalah sifat diuretik pada kafein. Kandungan ini merangsang ginjal untuk membuang urine lebih sering, yang berisiko memengaruhi cadangan cairan dalam tubuh selama berpuasa.

“Yang pertama kopi itu bersifat diuretik sehingga orang yang minum kopi akan lebih banyak mengeluarkan cairan via urine, teh itu juga mengandung kafein tetapi mungkin tidak setinggi kopi sehingga dampaknya terhadap sifat diuretik itu tidak sehebat seseorang minum kopi,” kata Ali, dikutip Jumat (27/2).

Dampak Hidrasi dan Kualitas Tidur

Meskipun konsumsi kopi atau teh secara umum tidak mengganggu kesehatan secara keseluruhan, Ali menekankan adanya dampak turunan yang perlu diwaspadai. 

Pengeluaran cairan yang berlebih melalui urine dapat menyebabkan hidrasi tubuh kurang optimal. Kondisi inilah yang sering kali membuat tubuh terasa lebih lemas saat menjalankan ibadah puasa di siang hari.

Selain masalah hidrasi, efek stimulan dari kafein juga berpotensi mengacaukan manajemen waktu istirahat. 

Efek terjaga yang ditimbulkan kafein dapat mengganggu siklus tidur yang sudah mengalami penyesuaian selama Ramadan. Jika pola istirahat tidak ideal, metabolisme dan kesiapan tubuh untuk beraktivitas keesokan harinya bisa terganggu.

Perhatian pada Gula dan Susu

Aspek lain yang tidak kalah penting adalah kebiasaan menambahkan pemanis. Ali menyarankan masyarakat untuk mulai mengurangi asupan gula tambahan dalam teh atau kopi guna menghindari masalah kesehatan jangka panjang selama bulan suci ini.

Terkait tren mencampur kopi atau teh dengan susu, Ali menjelaskan bahwa hal tersebut tidak lantas menghilangkan nilai gizi pada susu. Namun, peran gizi susu menjadi tidak dominan karena fungsinya beralih menjadi sekadar penyeimbang rasa.

“Oleh karena itu memang saya lebih menganjurkan kalau ketika Anda sahur, ketika anda berbuka itu minum cairan-cairan lain, mungkin dampak terhadap problem yang dihadapi tidak terlalu besar,” tutup Ali.

Dengan pengaturan asupan cairan yang tepat, diharapkan masyarakat dapat menjalani ibadah puasa dengan kondisi fisik yang tetap prima tanpa terganggu oleh masalah hidrasi maupun gangguan tidur. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya