Headline
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
Kumpulan Berita DPR RI
KRONOLOGI dua remaja yang diduga dianiaya oleh Bahar bin Smith saat mengaku-ngaku sebagai Bahar bin Smith saat di Bali diungkap.
Saksi meringankan bernama Hamid Isnaeni yang dihadirkan tim pengacara Bahar mengaku merasa tertipu lantaran keduanya mengatasnamakan Bahar bin Smith dan mendapatkan uang serta fasilitas selama di Bali.
Hal ini lah yang diduga menjadi alasan Bahar bin Smith melakukan penganiayaan terhadap dua korban bernama Cahya Abdul Jabar dan Muhammad Khoerul Aumam Al Mudzaqi alias Zaki ini. Hamid mengaku dirinya pertama kali bertemu dengan Cahya dan Zaki di Jalan Pupies di Bali.
Melihat penampilan Zaki yang menyerupai Bahar bin Smith, dengan rambut panjang pirang lantas membuat Hamid bertanya kepada keduanya.
"Saat bertemu, saya bilang 'Habib Bahar ya?' terus yang satunya lagi 'kok tahu?'. Saya bilang ke mereka kalau saya tahu dari sosmed. Terus yang mirip Habib Bahar mengiyakan," ucap Hamid dalam persidangan yang digelar Pengadilan Negeri Bandung di Gedung Arsip dan Perpustakaan, Kota Bandung, Jawa Barat, Kamis (9/5).
Selain Cahya yang mengaku dirinya sebagai Bahar bin Smith, Zaki pun saat itu mengaku kepada Hamid sebagai keturunan Nabi Muhammad juga dengan nama Alatos.
Usai ketiganya berbincang, Hamid kemudian mengajak Zaki dan Cahya ke tokonya. Saat di toko itu lah Zaki mengaku kehilangan uang Rp6 juta saat dalam perjalanan menuju Bali.
Dalam perbincangan tersebut, Hamid juga sempat menanyakan keperluan apa keduanya ke Bali. Mereka, kata Hamid, mengaku diundang oleh salah satu pengajian tetapi setiba di Bali, panitia penyelenggara kabur.
"Setelah itu saya antar ke hotel. Saya kasih mereka Rp220 ribu untuk hotel," kata dia.
Hingga pertemuan pertama tersebut, Hamid mengaku sama sekali tidak menaruh curiga terhadap keduanya. Bahkan saat dia melihat berita di televisi, dia tahu ada acara di Monas dan lantas ia menanyakan kepada Zaki melalui pesan singkat apakah Bahar bin Smith ikut acara tersebut.
"Saya tanya, Habib Bahar ada ikutan acara di Monas itu? Zaki jawab gini 'kita nggak sempat pulang ke Jakarta'," kata Hamid.
Hamid pun kembali mempercayai begitu saja. Keesokan harinya, dia kembali menjemput Zaki dan Cahya di hotel untuk menuju ke masjid menunaikan ibadah salat jumat.
Setelah salat jumat, Zaki dan Cahya dibawa untuk bertemu dengan rekan-rekan Hamid yang lain.
"Ke teman-teman saya dia mengaku sebagai Habib Bahar," kata Hamid.
Saat itu, ia mulai sedikit curiga saat memperhatikan perawakan Cahya yang mengaku Bahar bin Smith tersebut. Sebab, ia merasa ada yang berbeda antara Cahya dan Bahar bin Smith meski keduanya selintas serupa.
"Ketika ditanyakan kenapa Habib Bahar kok kecil, temannya ini bilang kalau Habib Bahar suka berubah-ubah, kadang besar kadang kecil," ucap Hamid disambut tertawa para pengunjung sidang.
Baca juga: Sisi Timur Terminal Tirtonadi Solo Disiapkan untuk Mudik Gratis
Hamid lagi-lagi mempercayai. Dalam kesempatan itu, Hamid pun berbicara dengan rekannya Muhammad Nurcholis terkait pengakuan Zaki dan Cahya yang kehilangan uang Rp6 juta. Nurcholis, kata Hamid, lantas berinisiatif urunan dengan teman-temannya untuk memberikan uang kepada Cahya dan Zaki.
"Waktu itu urunan terkumpul Rp4 juta buat beli tiket pesawat. Lalu setelah itu saya antar ke bandara," kata Hamid.
Kecurigaan Hamid kepada Zaki dan Cahya pun terjawab. Saat itu, dia melihat di media sosial tengah ramai dibahas penangkapan orang-orang yang mengaku Habib Bahar.
"Di sosmed ada informasi Habib Bahar palsu ditangkap. Saya lalu hubungi Nurcholis. Kita merasa tertipu," kata dia.
Hamid dicecar Habib Bahar terkait kesediannya memberikan fasilitas akomodasi dan hotel terhadap Cahya Abdul Jabbar yang mengaku sebagai Habib Bahar dan Muhamad Khoerul Umam Al Mudzaqi atau Zaki saat di Bali.
"Kok mau Anda menyewakan hotel dan segala macam untuk Habib Bahar, yang Anda tahu memang siapa Habib Bahar itu," ujar Habib Bahar kepada Hamid.
Menanggapi pertanyaan tersebut, Hamid mengakui langsung melayani Habib Bahar pada saat itu karena tidak menunjukkan gelagat palsu.
"Kan terkenal tuh, saya melihat Habib Bahar itu ahlul bait. Saya lihat wajahnya, pakaiannya, tampilannya," kata Hamid.
Mendengar keterangan tersebut, Habib Bahar kembali bertanya kepada Hamid.
"Yang Anda tahu soal ahlul bait apa?" tanya Habib Bahar.
Kemudian Hamid sontak menjawab. "Keturunan Rasululah," jawab Hamid. (OL-1)
Polda Metro Jaya menjelaskan penangguhan penahanan Bahar bin Smith dilakukan karena alasan medis. Proses hukum tetap berjalan.
Banser Kota Tangerang mengaku belum menerima permintaan maaf langsung dan menyatakan kecewa atas penangguhan penahanan Bahar bin Smith.
Korban mengaku kecewa atas penangguhan penahanan Bahar bin Smith dan mendesak agar kasus dugaan penganiayaan diproses hingga tuntas.
Penahanan Bahar bin Smith ditangguhkan setelah pengajuan dari kuasa hukum dan jaminan keluarga. Polisi memastikan proses hukum tetap profesional dan transparan.
Polisi akan segera menjadwalkan ulang pemanggilan Bahar Smith terkait kasus pengeroyokan Banser Tangerang. Pemanggilan sebelumnya tak dipenuhi.
Menurut Kasi Humas Polres Metro Tangerang Kota, AKP Prapto Lasono, ketidakhadiran BS dalam agenda pemeriksaan pertama disampaikan oleh kuasa hukumnya
Dodo dan Nasio Siagian, ayah dan anak, terjerat pasal berlapis penganiayaan terhadap tetangga di Kapuk, Jakarta Barat.
Kapolres Metro Jakarta Timur Kombes Alfian Nurrizal menyatakan pelaku penganiayaan karyawan SPBU di Cipinang, Jakarta Timur, positif sabu dan ganja usai tes urine.
Polisi mengungkap pelaku penganiayaan terhadap pegawai SPBU di kawasan Cipinang, Jakarta Timur, yang videonya viral di media sosial
Polda Metro Jaya bersama Polres Metro Jakarta Timur tengah mendalami kasus penganiayaan yang melibatkan tiga pegawai SPBU 3413901 di Cipinang, Pulogadung, Jakarta Timur.
Pengamat ISESS Bambang Rukminto menyoroti pelibatan Brimob dalam penanganan kamtibmas di Polres Tual, Maluku Tenggara, menyusul tewasnya pelajar MTs oleh oknum Bripda MS
Ketua Komisi III DPR Habiburokhman kawal kasus NS (12), bocah Sukabumi yang tewas diduga dianiaya ibu tiri. Simak kronologi dan ancaman hukumannya.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved